Monday, May 23, 2022

darpanalara

Ku dipanggil waktu
Dipertemukan sejuk udara di antara terik
Seseorang yang senyumnya teduh
dan kaca bola matanya riuh
Misteri terkurung sendiri di sana
Enggan melepas walau lelah

Dan waktu membawakan isi
Dia ada menemani bercerita hingga larut dan hujan
Bayang bayang hidup membosankan seperti ku berkaca pada diri sendiri
Datar, lelah, dan mustahil meledak ledak

Aku diperkenankan merasakan kembali rasa senang
Menghabisi waktu, lari dari ketidakberuntungan
Seseorang yang baik dan santun
Seperti tak ingin lepas mata dan telingaku mengamati
Karna ku lihat padang lapang terhampar luas berselimut embun basah
Di tengah bisik angin, hanya hening yang berada
Sedangkan dia menatap kosong ke depan 
Aku menanti lengkung senyum bibirnya

Aku harap kau berbahagia 
Menemukan arti dan rumah nyaman untuk pulang 
Dipertemukan dengan hal hal baik dan dikuatkan semesta ketika lelah

Dan aku harap, 
Waktu masih mengizinkanku berlama lama menikmati senyum itu.

Sunday, May 8, 2022

renjanalara

Aku sering heran kenapa untuk urusan hubungan dengan wanita, apalagi yang sudah ku masukan dalam hati selalu membuat sesak pada akhirnya. Terlebih dengan yang terjadi saat ini. Aku merasa ditinggalkan. Lalu salah yang bertubi tubi. Iya. Aku diselimuti rasa bersalah yang sangat besar. Kepada orang orang yang aku sayangi. Terlebih kepadamu. Sakit rasanya ketika aku tidak bisa mengontrol apa saja yang ku rasa. Rasa kehilangan dimana terlanjur aku yakini bahwa kamulah yang akan mendampingiku. Walau kian hari aku sadar diri, banyak sekali kekurangan yang ku punya, yang makin menegaskan bahwa aku belum mampu mengimbangimu. Aku mulai lagi jalan hidupku di antara kebingungan, harus mengerjakan yang mana dulu atau apa dulu. Rencana kita di masa lalu. Ku fokuskan ke sana tapi seketika harus ku buang dan aku kehilangan rencana. Aku masih sangat berharap dalam 1 atau 2 tahun kedepan aku bisa membuktikan bahwa aku mampu membawa hasil untuk menopang hidupku sendiri. Tapi kehilanganmu, terkadang menggugurkan semangat. Entah lewat postingan sosial media atau rasa penasaran ingin tau kau sedang mengerjakan apa dan keadaanmu bagaimana.
Kau dulu tempat aku pulang dari lelah, kini sudah tidak ada lagi kau. Belum ada tempat untuk berdiam dan duduk lagi, menikmati suaramu, omelan dan manjamu atau sekadar memandangi sosokmu. Sangat menenangkan aku. Waktu itu aku merasa tenang karena pada akhirnya aku sempat merasakan tidak perlu mencari seseorang lagi yang mau mendampingiku.
Lelaki sepertiku, yang mungkin menurutmu tidak terlalu lelaki. Sulit untuk menutupi rasa sedih ini. Sulit sekali.
Kau memberikan apapun yang membuatku terasa spesial. Namun pada akhirnya hal yang sama tidak bisa ku persembahan padamu.
Teman teman menyebutku terlalu penurut dan tidak berprinsip. Iya. Aku hanya ingin menuruti semua inginmu selagi ku mampu, kendati belum. Ku anggap itu cara mengapresiasi rasa yang kau beri. Walau ada beberapa hal yang tidak ku setujui darimu, sangat enggan aku mengkontra karena itu tidak lebih penting dari keinginanmu.
Jujur. Aku masih sangat berharap untuk kembali padamu, hidup bersamamu. Terlepas apapun hal buruk yang tersemat padaku dari sudut pandangmu saat ini. Marah dan cemburu yang menyebalkan hanya reaksi akan takut kehilangan. Aku menerimamu tanpa syarat entah karena alasan apa. Mungkin karena aku tak lebih berharga darimu saat ini. Terima kasih karena sempat percaya pada potensiku, kata2 itu akan ku pupuk dalam sebagai energiku untuk terus berjalan. Aku harus buktikan pada diriku sendiri bahwa akan ada masanya badai sulit ini akan reda.
Waktu itu aku seperti telah menemukan kapal besar dan merancang perjalanan panjang di sebuah peta. Saat ini setelah semuanya karam, aku berada di tengah laut mengambang sendirian. Semuanya mungkin akan berjalan tidak lebih mudah dari sebelumnya. Tapi aku yakin setelah mencapai sebuah daratan akan ada babak baru yang siap ku masuki dan menyusun ulang berbagai rencana dengan tujuan awal yang sama. Tujuan yang tidak pernah berubah. Berbahagia.

Monday, April 25, 2022

terangkum

Terlepas dari semuanya. Keraguan yg sedari awal muncul dan mengembang yg selalu coba bersama tutupi untuk jadi sempurna. Kisah ini sangat tidak mungkin menjadi lagi indah. Kendati kini ku rasa mencintai seorang diri, ditinggalkan dan remuk terbuang.

Entah tuhan bolak balikkan hati atau mengungkap jati diri kita yang sesungguhnya. Segala janji dan ucap manis tertelan mentah dikala kamu tak ada lagi takut akan kehilangan. Segala tangis dan tawa bersama yang seolah fana masa lalu yang sakit sekali untuk diungkap. Ku pegang sendiri pinta jangan aku kau tinggalkan, kini kau yang meninggalkanku dengan genggam janji jadi benci.

Salahku melahirkan rasa cemburu atas orang masa lalu. Atau membuatmu berangan besar tentang masa depan kita, takabur ku anggap karena sejatinya pada tuhanlah berharap penuh.

Di kondisi sekarat dan mengemis pertolongan dengan kasar kau injak injak. Cinta yang bersemi saling menyakiti.
Diammu menyakitkan sedangkan ku tahu di malam malam larut matamu masih terjaga. Ku tak lelap tidur tak lepas hidup sepanjang waktu. Diracuni angan anganku sendiri.

Hingga tiba hari ini aku masih tidak sepenuhnya mengerti penyebab perpisahan ini. Harta benda, amal perbuatan, atau soal keturunan. Karena selalu ada saja cela untuk diri salah sedangkan kau tak ingin disalahkan, aku pun memaklumimu karena ku sayang. Sayang yang menyakitimu, menambah beban hidupmu.

Tak ada lagi kata halus, berkali kali kau maki, berkali kali ku umpat. Aku hanya kecewa, amarah, sedih, rindu, dan rasa ingin memiliki yang membabi buta. Membangunkan sisi jahatku yang terpendam.

Ucap maaf yang tak menenangkan. Sebenarnya apa yang terjadi?. Seseorang memberi ayat ayat agar terpisah kita, atau sejatinya aku hanya pelampiasan agar kau kembali?. Itu tanya tanyaku, itu bisik bisik yang masuk ke telingaku.

Ku hanya ingin jaga dan lengkapimu. Karena kita sama sama tahu lebih kurang yang dalam tersimpan. Dan terlanjurku upayakan, taruhkan segala masa depanku. Itu bukan salahmu. Hanya aku yang merasa yakin dengan dasar cinta tulus padamu.

Tidak wajarkah bila ku kecewa? Merasa sakit hati? Aku kalah dan salah. Tiada tempat bercerita sedangkan duniaku terlanjur tersimpuh padamu. Aku jatuh. Masa terkelam sepanjang hidup sampai saat ini.

Batin tak karuan. Panas melingkupi tiap detik melihat yang tertulis dan terpampang, benarkah ini benarkah itu.
Aku merasa terbuang. Sungguh sungguh hilang tampang.

Friday, April 22, 2022

one last dance

Adakah kesempatan kembali bersama
Akankah kita bisa melawan yang mengganggu
Daya kejut akan kenyataan tak sesakit ini
Seandainya tidak terlanjur jatuh cinta padamu
Aku tersiksa sekali