Wednesday, November 4, 2015

waktu

waktu
dan waktu
aku membutuhkanmu
untuk menghapus waktu
kala itu
kala matahari tenggelam di tengah bulan tahun lalu
aku membutuhkan waktu
untuk menghapus waktu

waktu
dan waktu
aku tak ingin kehilangan dirimu
dimana aku larut dalam kamu
membunuh pergerakanku
langkah terhenti dimakan kamu
wahai waktu
aku dan waktu
kami tak berteman tak jua bermusuhan
aku di dalamnya
sesekali hanyut, lalu bisa saja ditikamnya aku
oleh kamu
waktu

kini seakan ku bermimpi
duelku dengan kamu
wahai waktu
sama perihnya tinjumu tepat di wajahku

kau semakin tua
aku tak jua dewasa
kau semakin kuat bertengger di pundakku
aku lemah dalam pelukanmu
jangan datang seperti matahari yang terbenam di tengah bulan tahun lalu
jangan lagi
aku tak mau berhenti di sini

tapi kini seretlah aku
hakimi aku
tenangkan jiwaku
berkatalah, semua akan baik saja

Sebuah diorama yang ku pajang di lantai kamar tidur

AKU sakit

menyeruak elegi pagi itu

aku menunggu,begitu jua kamu

saling tak bertemu

dalam hati ingin begitu

senandung ku ciptakan kala hening

tertidur tanganku tergeletak

mainkan cangkir hitam pemberian kita

urat mengeras kerut dahiku hinggapi wajah

wajah wajah ketidaksabaran

api di dalam mataku seolah melambai

minta diri menciptakan,,

Ia ingin memeluk diorama kita

seperti tukang pos yang dengan segera antarkan suratmu kepadaku

lama,,,lama,,, ketika tak segera bangun tulis tanganmu sudah ada

mengapa!

telapakku masih menempel 

ruas jemari masih santai pegangi itu

terlentang tubuhku pandangi kamu 

layarnya terang basahi kerut dahiku

pilu, suaramu, rindu ku pendam selalu.



Tuesday, November 3, 2015

hilang rima

sesungguhnya
dalam gelap malam ku berjalan
lampu kota terangi ku sedikit sepanjang langkah
aku terdiam
duduk ku sejenak seketika anak kucing lewat
bersandar dia di kaki kiriku
lucu
ku belainya
tapi bicaranya tanpa suara
mungkin dia lapar atau hilang induknya
membelainya sedikit hilangkan penat
lucu
ku pangku dan dia menguap
sedikit kusut bulunya yang putih
sedikit kusam wajahnya diterpa debu dan sapuan kaki manusia yang tak mengerti
ku berdiri tak seberapa letih
tapi kau kini hidup seorang diri
ku bawanya pulang
ku bawanya dalam rumahku, masalahku
andai dia secerdik anjing ku suruh pergi ke baw dan tidur di lantai
tapi anak kucing tak seperti itu
sejenak dia kebingungan
kini bicaranya mulai bersuara
rindu induknya
heran akan rumahku
ku nikmati itu,mungkin ku yang tak mengerti
dalam sangsinya ku bisa senyum tertawa
roti lapisku tadi pagi terlipat tipis di antara lembaran kertas dalam tas
ku bagi setengah untuknya dan sisanya untuk perutku malam ini
makanlah selagi ku mampu memberi
aku bisa mencari lagi esok hari
kawani aku mulai sekarang
bicaralah semampumu
anak kucing itu lahap sesekali bermain dengan kakinya sendiri
aku mandi dan dia menunggu sembari kesana kemari
handukku pun ku bagi biar debunya enyah berpindah ke plastik laundri

kadang jenuh menghampiri
kadang berubah sikap manis ini
tapi selagi ku ingat selagi ku mampu
ku gantikan indukmu, gantikan saudaramu
ubah sedikit bagian yang berputar kemarin dan lagi kemarin
jangan pergi,biarlah mati yang membayangi

Monday, November 2, 2015

Paranoid eksplisit

meremas pasir, dia berkaca pandang diri sendiri
menerka suara enyah rupanya
kayu berasap yang hilang baranya
dia remas makin erat, lalu membanting pontang panting
daun, akar, kemuning terlalu banyak bicara
air yang tak menyegarkan
perutku sakit digerogoti bisik gaib
rumah, rumah, pohon, pohon, lantai kayu tapak bayi berdesit di telinga
kematian adalah rindu
omong kosong
jika satu adalah satu
bagaimana dengan dua?
tulang yang bengkok ujungnya
patah di tengahnya
tubuhku berbahasa yakinkan mosi tidak percaya
kami berisik
kamu yang demikian
aku jua