Sunday, August 21, 2016

A I R

Merasa....

Ku tunggu.. menunggu harap
Berpisah.. lalu jumpa lagi

Benar!

Semesta mendengar
Ku lihat kau seperti yang lain
Ku dengar kau.. serakmu seperti yang lalu

Melihatmu... tak jemu
Sama seperti lama kita bersama

Kau memang berbeda!

Hadirmu hangatkan gigilku kala malam
Seolah saat ini juga ingin ku miliki... lalu bawa pulang

Ah...!!! ku berkhayal, tapi tak seberapa deras desir di dada

Baru saja kau tahu nama
Selebihnya waktu yang usaha
Seharusnya ku tak rindu
Semestinya bersua dari dulu

Pernah ku terperosok..
Tak mau ku kembali jadi rongsok

Selagi bisa menikmatimu....

Lebih dari cukup. 

MINDY

Palingkan aku dari yang terlalu
Palingkan wajah lalu menatapku

Pelangi tak sesering muncul selalu
Hari ini, lagi.. kita bertemu
Yang ku nanti senyumanmu
Yang menusuk dalam batinku

Setitik tampak layu..
...
Entah kau malu,
atau karena hal itu
Di matamu ku lihat ada keraguan
yang mungkin saja dapat ku padamkan

Kau tlah lengkap
Pangeran kecilmu erat mendekap
...
Tubuh yang penuh kehangatan
Hilangkan tangis selimuti buaian

Tak sempat ku tatap muka
bercanda, ataupun menyeka..

tapi

Tatapmu yang malu itu
Sisakan ruam dalam mimpiku

BINTANG

Tertanggal hari ini... tertinggal di angkasa
Kabut tutupi tubuhmu telanjang
Tertinggal satu, satu sepanjang jalan
Kau berjalan..... Aku berjalan
Kau terhenti, terhenti jua aku

Rupawan nan rupawan
Hijau lepas.. biru keras
Tak di sini tak pula di sana
Kembali tak kembali
Menyapamu terbata-bata

Rontokkan sampah!

Melompat kita girang ruah
Matamu kilaukan masa lalu
Yang berlalu di hidupmu
Sebagian mampir di kepalaku

kau makan... Aku makan
Sesekali tidak

Kau sedih.. Aku sedih
Kadang juga tidak

Tertanggal hari ini tertinggal di angkasa
Tempat melihat bintang bersama





Andong, 30 7 16

BERBISIK DALAM TANJAKAN

Serasa tenggelam dalam pelukan
Hangatnya tak seberapa
Tapi rinduku tak kunjung padam

Matahari yang tenggelam
Luput dari pandangku
Kau jua begitu

Terjatuh, tertindih, dan merintih
Jiwa jiwa dalam lamunan
Kini antara siapa dengan siapa
Desah napasmu yang masih tersisa..

Nanti atau lusa
Kala malam atau senja

Panasnya tetap membara
Berjelaga dari sumbernya



Andong, 30 7 16

TELANJANG



Tinggallah sendiri
Rambut gatal ku garuk sendiri
Tiba lapar ku tahan sendiri
Jiwa berhamburan seperti hidup dalam sepi
Aku hidup berdiam lama disambut mimpi
Mimpi yang pergi dan seenaknya datang lagi

Aku mengajakmu bercerita
Lalu berucaplah bibir, sembari ku tatap sorot mata
Berputar dan semakin membesar sorotmu menjawab keluh kesahku
Aku tak mendengar apa-apa
Kau tak jua tahu

Gadis-gadis eropa menari nari telusuri jalan
Ku bergoyang, irama hentak rasuki kaki berpijak
Tapak lalu menapak tanpa tubuh bergerak
Ku nikmati betul sembari suaramu ku dalami
Tetap kau tak jua tahu

Tak sehelai pun ku sisakan
Biar kau raba dan semua jelas tampak
Tapi tak jua
Jikalau hari bisa berganti seperti masa lalu
Jikalau jika tak membuatku semakin berdosa
Bisa saja kau ucap jika saja ku datang lebih dulu
Lebih dulu menari di hadapanmu, bernyanyi bersamamu

Jika saja itu semua terjadi

Roda waktu berputar cepat tuk kembali

Kita tak kan bercerita seperti ini

BERSUARA

Bersuara, bersua lalu bersuara batinmu penuh nuansa
Ketika matamu beranjak menapak ke arah lain, pikiranku terbang kembali bersama tetes tetes air
Meramu kalimatmu yang menggetarkan nadi, memacu arus darah dalam  nadi
Seperti terjatuh lagi ke dalam bumi

Bisikkanlah barang sedikit, ketika halus suara menyentak kalbu
Tak sedikitpun takutku bergeming

Bergetar

Yang tak mampu aku sebut rindu tak pula ku sebut rasa
Hingga saat ini masih takut untuk memandang iris dalam bola matamu
Yang dibaluti kelopak bersama kulit kecokelatan yang membuat kau sayu
Berdiam diri lah jangan tertawa lagi
Ku ingin lihat kau menangis
Karena dalam gelap ku temukan dirimu bersih tanpa bercak kepalsuan
Tamengmu tuk tutupi kelabu

Sungguh bila mampu memelukmu sekali lagi
Sekali lagi berenang di lembah penuh dosa
Mungkin bisa ku bersuara
Mungkin juga tak bisa lagi ku berkata
Ku tampik semua elegi

Lembut belai jiwamu yang penuh luka

TAK TERTAHANKAN



Selalu bergetar waktu ku melihatmu
Terlalu banyak suara mengganggu
Denyut yang memacu aku yang makin terdiam
Menahan, bergetar dalam ledakan di dalamnya
Hadirmu menakuti kenangan masa kecilku
Menggebu seperti garis yang tak menentu
Berjanjilah kau akan bersuara lagi
Hingga larut malamku dalam degup jantungmu
Tubuhku memanggil nyawa yang terbang berdarah
Tinggalkan raga saat kau hadir maupun pergi
Serukan nama nama terang pengisi kertas buku diarimu
Kau makin tak tertahankan
Aku menahan
Meronta jiwa ingin kau bawa pulang
Walau kemarin pun tak kunjung kau datang
Perlahan menghilang desis desis dari mulutmu
Angin berbisik langsung di telingaku
Kau makin tak tertahankan
Datanglah sekali lagi meminta pergi, kau ku ajak lari
Kembali menampar pipi atau gigi yang menyikat jemari
Ibarat kopi ku tenggelam di dasar cangkirmu
Sedikit ku masuk dalam tubuhmu
Sebagian tertinggal dan terbuang
Banyak nian yang tenggelam

Aku makin tak tertahankan

SEORANG ANAK DAN POHON CEMARA

Seorang anak dan pohon cemara


Angin berhembus kencang menabrak tubuh lemah seorang manusia yang lupa, saat darah mengucur lembut lewat hidung dan telinga. Suara bom menggema terdengar berisik dalam telinga yang terluka. Tubuh penuh debu dengan pakaian yang lusuh, rambut setengah ikal tak beraturan menyatu satu dengan yang lain di atas kepalanya, merintih kesakitan. Lihat sekitarnya hanya kayu, batu, dan pepohonan rimbun menambah luka batinnya yang tersiksa setelah tiga hari berlari dari kejaran maut yang menganga mulutnya. Langkah selangkah dua langkah tertatih lagi lanjutkan visi dalam retinanya yang berkaca-kaca, betapa malang dalam hati berkata namun apa mau dikata mati pun tak kunjung tiba, mungkin itu arti hidup masih bersisa untuk diselami lagi sisanya.

Ketika malam tiba, duduk saja bersender pohon cemara bersama bayangan hitam tepat itu dirinya, berceritalah dia bibirnya bergerak lambat juga lama. Tiada kawan tiada sahabat sebangsa dari manusia yang bisa berbagi keluh kesah arogansinya terhadap bangsa, iya, iya, dan iya, ulangan kata itu terucap kontinyu bersama harap bias tertidur pulas di bawah sana. Entah sudah jam berapa, bersenderpun dengan harap dan cemas di dada. Perut pun kosong namun masih terihat besar dibanding pergelangan tangan kering dan betis keras kurang berisi, menyedihkan bila dibayangkan. Dia menangis, air mata lancang terjatuh dari pegangannya di kelopak mata, alasan tanpa alasan masih juga tak kantuk tak ingin terlelap membayangkan beberapa tahun lalu masih tertawa mesra dengan seorang bangsawan wanita, cantik rupa dan tingkah lakunya, seperti udara yang terhela, dan mata berkedip yang tak lupa, dia nikmati tiap kehadirannya, selalu menjadi pendengar yang setia untuk tiap keluh kesahnya, dia sudah mati. Serdadu penuh bara di dalam mata menangkap dengan paksa memisahkan manusia yang bercinta mesra, tak bias berbuat apa apa lengannya dihujani timah panas, masih terasa hingga sekarang rasanya bagaimana, dia tak bias apa apa dia mati, dia mati, berharap lupa dan berprasangka yang tak diinginkan, rasa dalam dadanya masih terlalu luas untuk dibabat serdadu biadab penuh peluh dan ambisi tak berhati manusia, mereka babi mereka iblis jahanam, serayanya hingga menangis. 

Malam itu tiada lagi alasan untuk tetap terjaga dan melanjutkan ambisi, semua terasa sudah selesai untuk semua keindahan di dalam diri. Manusia yang bersender itu pun terlelap tak terasa lelah jiwa dan raganya membawa mimpi menjemputnya paksa, dedaunan gugur selimuti tubuhnya, langit merintih tangis sendu keluar ratapi kisahnya tadi.

Bangun!!!! Bangun!!!!! Hai pemalas! Bangunnn!!! , tubuh meronta tersentak degub jantung berderu cepat, matanya terbuka mulut menganga dirapatkan otaknya, dia menangis lagi memukul tanah memukul batu memukul pohon di belakangnya. Tuhan aku tak kuat!! aku tak kuat!!, semuanya lenyap!, semuanya hilang!, namun aku kau utuhkan, terselamatkan yang harusnya terbunuh, aku tak kuat! Ucap mulut bengis sang lelaki. Tangannya menambah luka, kejadian dulu tak pernah terlupa. Berdirilah dia tertatih menahan luka langkahkan telapaknya lagi mencari ujung cahaya. Tangannya meraih dahan demi dahan, sisi lain diri manjanya keluar menjadi liar tak seperti sebelumnya. Masih saja dalam otak dan telinganya terbayang halus lembut orchestra megah saat berdansa dengan yang dicinta, seakan semuanya berjalan indah, pikirnya lupa, yang terlihat hanya dingin dan lembutnya embun embut pagi, tubuhnya terstimulus, bagian tak terlupa dari bayangnya dengan seorang wanita, rambutnya hitam legam bergelombang, memakai gaun pesta dan dia memegang erat telapak tangannya, memeluknya berputar diantara pesta, di matanya terpancar rasa cinta, manusia yang saling mencinta dengan tangis dari mata yang bahagia, dia sudah tak tahan ingin meronta berharap kembali dalam perasaan yang menderanya sekarang. Dia muntah, darah keluar dari gusi, tangan kakinya mati rasa, lelahnya bercerita cerita lalu yang sudah mati. Hentikan ini!! Matikan ini!! Biarlah aku melihat dia bahagia ke eropa bersama lelaki lain lanjutkan hidup indahnya!! Tahan aku serdadu jahanam!! Babi keparat!!, dia memukul sebisanya, jatuhkan luka mengambil sebilah kayu lalu menghunuskan ke udara sekitarnya sembari dia teriak. Ranjau meledak, empat meter di depannya seekor kijang menginjak benda keji, alat perang itu menghempaskan tubuh manusia itu ke udara dan menghantam batu. Dia tergeletak bercucuran darah dari kepala dan daging kijang yang malang, tak terasa apa apa lagi, tak bisa berucap lagi, tak bisa bergerak lagi, mungkin tulang remuk patah lembut tak sepatah hatinya. Mukanya terbaring di tanah ucapkan salam teruntuk sang wanita, harapkan bila ini sudah selesai bisa bertemu lagi walau terakhir kali, dengan senyum dia melawan langit berucap dalam hati, aku sudah lengkap, aku sudah siap menjemputnya lagi ke pesta, akan aku pakai baju mahalku pemberian belanda, ku naikkan dia ke kereta dan aku payungi dia saat berjalan hingga tiada panasnya mentari mampu menembus kulitnya, dia terlelap. 

Masih terbaring, mata melihat seorang berjalan, dia wanita, cantik rupa dan tingkah lakunya, rambutnya hitam legam dan bergelombang, seketika tubuh lemahnya mampu berdiri meraih telapak tangan wanita itu lagi, dan menari bersama dikelilingi pohon cemara setia yang temani saat terluka, aku tak kuat, aku bahagia, bibirnya tersenyum. Ledakan lagi, tubuh sang manusia terhembas hebat entah jatuh dimana, tak bersisa. Dia lupa, sedang menari bahagia tak hiraukan tubuhnya lagi, pergi ke pesta lagi bersama wanitanya, cintanya, dalam surga.

GADIS ACEH



Di sela kantong mataku, kau tampak
Merogoh kocek dalam untuk sepiring lauk
Gemulai tanganmu padamkan amarah rindu
Menerjang ombak berbuih pilu
Kakimu sampai ke haribaannya
Savana terbentang nyaring rimbunnya
Berkoalisi dengan udara dan wanita tanpa busana
Berkoar suara.. bukan main girangnya
Tibalah ku di suasana
Kau melangkah pergi ke pematang
Tak sedetikpun kau tolehkan senyuman
Yang bila ku lihat
Ia mengoyak jantung dan meruntuhkan paru paru
Putih seolah berbisik padaku
Siapa yu?!
Menyerupai siapa?  rupa siapa serupa dengan dia?!
Air masih basah
Air masih bening
Kira kiralah!!
Dimakinya aku
Mimpi kian bangun
Yang kasih... yang jelita... kian jauh hampiri lamun

Tak mungkin pun

BOSAN



Aku bosan
Menunggu adalah waktu, sepadan dengan rindu
Jalan lapang terisi yang bergandengan
Larut di air dalam bejana
Aku bosan
Menerka dikau diam mengaum lepas kekacauan
Moris terus bergerak bibirnya
Aku hanya hilang rima
Mengangguk bosan
Keadaan membuatmu lusuh..
Harapku..
Tak nyata pun!
Jauh jauh datang dari nirwana, jatuh salah dalam peluknya
Kini ku hilang pesona
Gembala tersesat yang hilang kambingnya
Bukan karena setan dengan timpek
Atau iblis berpurayuda
Rindu peluh tersikap pori jemarimu
Atau rambut yang terputar lengkungi jelunjukmu
Aku bosan..

Dengan nyanyian ketidakadilan

PATAH HATI



Jatuh..
Terluka..
Dan merintih,
Seringai Nampak tutupi perih
Debar jantung bisu tak berasa
Detak berhenti
Detik terus menghampiri
Hari.. demi hari
Kabarnya kau kian dekat dengan pelaminan?
Dekatkan impian menuju kematian
Bahagianya dikau
Nestapanya aku
Janji tinggal janji
Harap terus mengharap
Pada janji yang kau tinggal pergi
Terbang ke sebrang melayang dipupuk tinggi
Kini..

Tiada asa ku tutur nadi

MINTA 2

MINTA

Minta!!
Kau minta ku meminta minta
Terkadang ku minta
Minta dirimu datangkan yang ku minta
Dikau di nirwana atau dimana?
Aku tidak bisa
Belum habis waktu ku rasa
Duhai maha tempat meminta
Ku minta seminta mintanya, terus apa?
Dengan cara apa mintaku kau minta?
Ku tak mendengarmu atau tulinya aku?
Mintaku..
Hadiri sajalah aku
Kawani ku minta kepadamu
Ku sujudi tapak takdirmu tak mengapa
Asal..
Selagi ku tepati mintamu saat memintaku

Mintamu ku jadi sempurna takkan ku bisa

MINTA



Minta,
Kamu membacaku terlalu cepat
Tak sadar tubuhmu terperangkap
Bila cerita tumbuhkan harap
Sekali lagi simaklah,
Rengkuh aku..
Aku tertidur, badan luka bernanah

Siang begitu terik begitu tak bersahabat
Lalu lalang suara hening dalam pikiran berucap singkat
Kau hanya satu dari sepuluh ribu
Memaksa kaki tapak demi tapak menggebu
Ku kejar suara dimana kau bermuara
Tak sedikit pun mata bergeming acuhkan bayang jiwa
Kau selalu membayangi
Menyeka tubuh kurus kering, tulang tampak dari pangkal sendi
Lari..... lari...

Ku tinggalkan hidup
Mati bersama masa lalu
Dikala hadirmu ada, membara api waktu itu
Maka tampaklah.. maka tampaklah..
Ku tinggalkan senyum sisakan luka
Merengkuh pasir di tengah terik siang dan senja
Napasku pergi kau bawa lari
Maka bernapaslah... ku kau bawa pergi

Biar ku dengarkan  haru mu
Dengung bisik doamu kala malam yang kuatkanku

Menjadi penakut seperti dahulu