Berkemelut aku dalam ruang kecil
Sepi, gelap, pengap
Bermain aku dengan kesempatan
Yang telah lelah karena sudah sekian lama ku tunggangi
Menit menit merangkak menghampiri tengah malam
Andai saja kau juga di sini menemani
Sedari lama aku menyusun rencana
Memasang sepasang demi sepasang rel rel
Merangkai gerbong gerbong kosong
Yang kini tak terhingga panjangnya
Menata ulang ruang, memberi warna putih di setiap dinding
Ku persiapkan untuk perjalanan bulan madu kita
Namun sebelum petang aku tersadar
Walau beribu undangan tlah ku hantar kau tak akan kunjung datang
Sementara aku sudah menunggu dengan setelan lengkap, termasuk setangkai mawar putih yang kau minta
Aku sendiri, kau tak ada
Dengan terpaksa ku berangkat sendiri
Meminta masinis menarik gerbong gerbong ini berjalan
Pemain biola memasang senyum kaku kala melihatku duduk sendiri menghadap meja makan kita
Sembari melepas cincin aku membalas senyumnya
Seharusnya ini hari yang bahagia, tapi kau merenggut untuk dirimu sendiri
Seharusnya ini jadi perjalanan yang indah, seperti bertahun tahun aku menjaga rekah kembangnya
Seharusnya gerbong gerbong kosong ini ramai oleh tawa keluarga kita
Atau,
Seharusnya malam tak pernah memberi restu padaku untuk melihat senyum dan sorot matamu saat itu.
Demi waktu yang tak banyak
Biarkanlah menit menit berlalu
Cabut segala janji yang menyumbat laju
Demi waktu yang telah belalu
Ku biarkan kau jadi malam, dan aku tetap jadi siang
Damailah kau dalam sunyi, berhentilah membuntuti.