Saturday, November 11, 2017

LINTANG (Jalan Panjang Untuk Pulang)

Datang dan pergi
Dunia berputar begitu cepat
Bahkan dia turut larut bersamamu

Aku bukanlah aku
Yang tak sungguh memiliki aku

Kau bukan milikmu seorang
Kerinduannya yang membawamu pulang

Dalam remang cahaya terang
Redup pandangan, siluet wajahmu
Kau usai dan melanjutkan perjalanan

Aku tersenyum melihatmu melamun
Rekam memori yang tak kembali
Kerinduan tlah berganti
Memuai bersama bundamu nanti

Aku tak pernah ragu
Kau memang lugas tangkas
Cepat berkemas tanpa cemas

Terik siang yang biasanya panas tiba tiba sejuk
Berpayung awan kau berjalan perlahan
Ku hilang percaya.. siapa sangka?!

Kau dan aku akan bertemu lagi
Tersenyum bersama
Tanpa gelisah dalam ceritanya.

Nyaring di Sebrang

Buka mata wahai yang terluka!
Menangis saja biarkan batin lega!
Angkat badan, pijak tanah dan hentakkan!
Tajam mata mata yang memicing sudah biarkan!

Ini hari baik!
Bagimu untuk memulai perlahan!
Jangan lama-lama obati luka yang menganga!
Esok juga sembuh segera

Ia tlah memilihmu
Tapi ku ragu Ia rela tuk menunggu

Renggut segera!
Sudah selesai cerita cerita lama.

Tuan Enggan Tinggalkan

Jika genggaman ini remukkan hatimu
Di mana nuraninya?
Bila aku bernyanyi tulikan telingamu
Di mana suaranya?

Bila cahaya silaukan kedua belah mata
Di mana kau bisa menemukan mimpi?

Aku tulis kata lagi kata
Rangkaian itu itu saja
Tidak kah silaukanmu?
Hangatkah saat kau baca?

Ucaplah apapun yang kamu rasa
Birahi menghancurkanku di seberang sana
Biar aku mengerti pahitnya diam
Kau tak bicara atau aku yang enggan mengerti?

Benarkah bila aku benar?
Di mana salahnya?

Salahkah bila aku salah?
Di mana kebenaran?

Roman roman patah
Berarti bila diberi arti
Apa makna dari smua yang tercipta?
Sudahkah mendung itu hilang diganti terang?

Friday, November 10, 2017

Ragu

Di antara daun yang terjatuh
Langkahkan lagi apa yang pergi
Kelabu bercampur jingga di awan
Payungi hitam hati terdalam

Bisikkan sedikit tentang perasaan
Wanita sepertimu yang sulit ku abaikan
Di mana aku tuju untuk terlupa
Terlupa sebuah rahasia

Dua belas jam berlalu
Akankah sama seperti dulu?

Biarkan tinggal begitu saja..
Begitu sempurna wangi yang tersisa

Bila kau tidak sempurna
Dalam darahku mungkin juga demikian

Dan bila sayapmu patah disaat melayang
Aku terjatuh dengan separuhnya.

Bait Doa di Antara Hujan

Petir menyambar
Gemuruh air bersama angin datang
Ciutkan nyali seorang gelandangan

Berteduh Ia, mendekap kedua paha yang ditekuk sama panjang
Rasa takut menghantui
Walaupun, takut bukanlah sebuah rasa, ucapnya.

Tanah dihantam air melahirkan aroma..

Kedamaian..

Kesepian..

Sepertinya Tuhan sedang bersuara
Tapi sabdaNya tidak sekasar itu

Bukan Dia rupanya..

Aku harap, hujan hanya di sini
Yang mengamuk dan menghambat langkah kaki

Semoga langitmu cerah, biru, tanpa abu..
Dan langkahmu tak terhenti seperti aku.

Tiba-tiba rindu datang memutar kaset pita
Berisi gemuruh seperti ini di tahun-tahun lalu
Dimana hanya Aku..
Menjadi tameng atas rasa takutmu.

Wednesday, November 8, 2017

Gerbong Gerbong Kosong

Berkemelut aku dalam ruang kecil
Sepi, gelap, pengap
Bermain aku dengan kesempatan
Yang telah lelah karena sudah sekian lama ku tunggangi
Menit menit merangkak menghampiri tengah malam
Andai saja kau juga di sini menemani

Sedari lama aku menyusun rencana
Memasang sepasang demi sepasang rel rel
Merangkai gerbong gerbong kosong
Yang kini tak terhingga panjangnya
Menata ulang ruang, memberi warna putih di setiap dinding
Ku persiapkan untuk perjalanan bulan madu kita

Namun sebelum petang aku tersadar
Walau beribu undangan tlah ku hantar kau tak akan kunjung datang
Sementara aku sudah menunggu dengan setelan lengkap, termasuk setangkai mawar putih yang kau minta
Aku sendiri, kau tak ada

Dengan terpaksa ku berangkat sendiri
Meminta masinis menarik gerbong gerbong ini berjalan
Pemain biola memasang senyum kaku kala melihatku duduk sendiri menghadap meja makan kita
Sembari melepas cincin aku membalas senyumnya

Seharusnya ini hari yang bahagia, tapi kau merenggut untuk dirimu sendiri

Seharusnya ini jadi perjalanan yang indah, seperti bertahun tahun aku menjaga rekah kembangnya

Seharusnya gerbong gerbong kosong ini ramai oleh tawa keluarga kita

Atau,

Seharusnya malam tak pernah memberi restu padaku untuk melihat senyum dan sorot matamu saat itu.

Demi waktu yang tak banyak
Biarkanlah menit menit berlalu
Cabut segala janji yang menyumbat laju

Demi waktu yang telah belalu
Ku biarkan kau jadi malam, dan aku tetap jadi siang
Damailah kau dalam sunyi, berhentilah membuntuti.