Thursday, January 28, 2016
Ruam dalam waktu
wajahku tersapu oleh malu
seakan sejenak layu dalam kenyataan
banyak banyak ku membuang waktu hanya demi senang, tuk lupakanmu
hari meniti hari kian lembut menyebut detik demi detik kehilangan kekasihku
dia ada dalam jiwa dan mengendap di dasar genangan ombak yang ada dalam bejana alkisah hidupku
tak bisa ku bersihkan karena tangan pun tak sampai
pria ini tengah berbaring menanti peluit dari mercusuar memanggil
menanti kapal kembali hadir, yang bisa ku lirik cahayanya dari ujung pantai
telah lama sejak ku tuliskan tolong aku di atas pasir, dia tak juga nampak
kerut di wajahmu
ku rindu saat menyekanya dengan telapak tanganku
tak pandai ku bercengkerama panjang
tapi katamu slalu terdengar,
lama nian waktu pergi meninggalkan kala hujan
menolehlah aku ke samping kiri
bajumu nampak, helai helai rambutmu yang patah pun tak turut kau menjauh dari pinggir pantai
dan ku berkumis seiring seretan tubuhku mengemis
jam berapa sekarang?
tidurlah, malam tak menemanimu dengan percuma
setidaknya saat lelap bersama, ku temuimu dalam mimpi yang berbeda
kita sama sama terluka
suaramu tak terdengar lagi sejak ku makan siang itu
mana ku tahu?
langit kian hitam, bintang tak nampak karena hujan
biar membaur dengan derasnya, tubuh yang dilanda kerinduan
Subscribe to:
Posts (Atom)