Tuesday, January 15, 2019

Melancong 1

Kata orang yang selalu meluangkan waktunya untuk melancong ia selalu merasa pikirannya segar setelah lelah berkeliling di tempat lain.

Jauh sebelum hari pemberangkatan, kami sudah merencanakan untuk melancong ke tempat itu.

Sedikit demi sedikit menyisihkan hasil otak yang kami peras dengan ditambah keinginan belanja kami yang masif ditahan.

Kami juga mencari cari kabar tentang pihak lain yang buka jasa untuk itu, tentu saja perlu karena kami tak mungkin mosak masik di sana tanpa pembantu.

Hingga akhirnya bertemu dengan pihak itu dan diberitahu berapa jumlah yang harus kami bayarkan.

Dan sekali lagi kami diminta untuk sedikit mengencangkan ikat pinggang dan kepala untuk itu karena ternyata jumlahnya belum cukup.

Hari ke hari
Bulan ke bulan
Hingga terhitung lebih dari 12
Kami menyambangi mereka lagi via aplikasi chat.

Kami sudah bersiap jika sewaktu waktu jumlahnya harus berubah karena satu dan lain hal.

Kami menyesuaikan jadwal
Lalu membayar uang muka sebagai tanda jadi, untungnya mereka bukan orang jauh bagi salah satu dari kami sehingga semuanya tidak terlalu sulit.

Kami mengurus segala keperluan dan berkas sendiri sendiri termasuk belanja  pakaian pakaian dingin.

Hari itu hampir tiba
Kami sepakati akan bertemu di jakarta

Beberapa minggu sebelum menembus belasan jam perjalanan, kami sempatkan mengkonfirmasi semuanya.

Kami minum kopi ataupun teh di meja yang sama setelah sekian lama.

Bicara mondar mandir menerobos waktu kini, lampau, hingga ke depan.

Dan seperti yang sudah sudah, akan selalu ada hal yang membuatku iri dalam perjamuan ini.

Kami memutuskan menginap di satu atap.

Pagi harinya kami bersiap untuk menemui mereka, memeriksa segalanya agar tak ada yang tertinggal.

Kami mengecek semua
Lalu duduk terpencar
Jujur saja itu lah kali pertama, berbeda dengan mereka yang sudah sering berkelana.
Aku cuma anak rumahan.

Dari awal sudah ku niatkan untuk berhemat, aku tak tanya keadaan mereka yang jelas sudah pasti berbeda dengan diriku yang bawa seadanya.

Di perjalanan itu aku lebih banyak habiskan dengan tidur dan musik musik yang sudah ku unduh, sesekali bangun hanya untuk makan minum dan kamar kecil.

Sesampainya di tempat ramai itu, aku limbung, rasanya pusing dan mual.

Wajah wajah aneh ku lihati dengan mata kepala, wajah wajah yang berbeda dengan kami, yang acuh tak seperti orang kami.

Setelah semua barang barang sudah di tangan, kami keluar, dan hal pertama yang sama sama kami lakukan adalah menodongkan gaman kami, yaitu ponsel.

Melihat lihat langit yang tak jauh beda, hanya memang hawa dan dinginnya bikin linglung.

Kami menangkap apapun di hadapan.
Aku pun.
Tapi aku sudah janji tak mau ambil gambar selfie.

Walau sesekali ia memaksa tapi sudah ku rayu rayu jangan disebarkan kemana mana, cukup untuk kita berdua.

Ia, kita.
Waktu yang istimewa.
Dengan menumpang kafilah ini, mencoba merekatkan kembali ikatan dengan sunyi tanpa bunyi.
Aku tak ingin kehangatan gagal melebur.
Aku ingin kali ini masih sebatas rahasia.

Lalu kami mencari makanan pengganjal.
Karena jajan diluar biaya tadi, kami harus pintar pilah pilih. Harganya jauh seperti yang di rumah. Katanya hitung hitung berdietlah.

Pembantu kami lalu mengantar semuanya menuju tempat yang akan kami habiskan bermalam beberapa malam.
Yang penting ada tempat, kami tak mengharap sesuatu yang hebat, namun nyatanya tempat itu pun tak terlalu buruk.

Aku mulai gelisah.
Kalau di rumah, aku tak bingung mengepulkan asap dari tembakau yang ku sulut.
Ini tempat lain, aku tak ingin sembrono, tapi agak sedikit tak tahan juga rasanya.
Mau ngudud dimana ya kira kira, kataku dalam batin.

Kami berkeliling.
Kata pembantu kami kebetulan di sini sedang ada festival tahun baru.
Kami mampir, bergabung dengan khalayak lain.
Memperhatikan teriakan teriakan itu.
Pemuda pemuda yang bersemangat saling mendorong dan membopong.

Pelan pelan
Diam diam
Yang jadi nomor satuku dalam perhatian ialah ia.

Ia yang sibuk menangkap dengan kameranya.
Ku perhatikan
Aku perhatikan
Setelah berapa detik berlalu dan ia menoleh padaku, berganti aku yang pura pura menangkap khalayak itu.

Sial,
Kenapa ya, seseorang yang sedang dipandangi orang lain selalu merasa tahu sedang dipandangi.
Aku jadi malu.

Kami diberitahu pukul sekian waktunya kami untuk berpindah, katanya jangan sampai kami terlalu lelah, perjalanan tadi cukup panjang untuk menguras energi badan.

Kami beristirahat.

Bersambung......