Friday, September 24, 2021

AWAL

Penghujan
Basah air yang jatuh menempel kian rapat
Memandanginya kosong
Menyimpan kemelut baru di uluh hati
Tentu saja lebih baik dihantam genggaman tangan daripada pahitnya manis ucapan

Berteduh
Masih di bawah kibasan angin menampar wajahku
Bersama air dingin walau tanpa petir
Tersambar aku oleh kenyataan
Tidak ada cinta walau sebesar biji sawi
Tidak ada ketidakrelaan atas kepergian yang sebentar lagi 
Ratap meratapi
Kita saling menyakiti

Payung dan selimut 
Binatang buas terbiasa bergelut dengan hawa napsunya sendiri
Bergelut dan sering kali kalah
Dia lapar dan dia ingin
Hingga kalah bahkan mungkin membunuh dirinya sendiri
Pada kulit antara pipi dan matamu pernah ku hapuskan dengan kemeja
Muara duka yang kau tampakkan pada batinku yang juga tersiksa
Ku ucap, aku pun merasakan kesedihan itu hingga hari ini
Hingga di hari kau tak lagi mampu menerima ceritaku dan peran dia dalam jalanan penghidupanku
Lalu ku ucap selamat tinggal 
Pada dia yang telah kekal
Kau tetap tidak percaya
Kendati pelukku ingin memelukmu
Badanmu dingin
Mati rasa

Duduk menunggu reda
Waktu yang hilang tidak akan terganti
Tapi momen bisa direkayasa dengan sedikit berpura pura
Menyedihkan, aku meratapi kenyataan itu
Menunggunya menghilang entah sampai kapan
Sempat ku paksakan tapi menyakitkan
Kini rasanya malam berganti malam
Senja muram tak seindah lagu lagu mereka
Tidak ada lagi yang istimewa dari dirinya
Seiring waktu terganti kamu
Kau ganti dengan kelabu yang baru
Kian deras hujan berlanjut 

Bau tanah dan pulang 
Gadisku yang tersesat
Di belantara kau mencari
Mata mata itu siap menerkam
Merebut hatimu yang belum siap bersenandung
Melodi cinta sejati
Aku serahkan jiwaku kau lukai
Ku cukupkan aku agar tak lagi kau sibuk mencari
Walau batinmu tak puas
Aku cuma punya atribut ketulusan 
Tak mampu berlayar ataupun terbang, membawamu melihat awan menikmati deru ombak seru menggulung 
Aku tak ingin kau tersapu
Terseret dan tenggelam
Hipotermia dan kehilangan kesadaran
Aku sangat sedih bila kau mati
Terluka
Dan merasa sendiri 

Aku ada
Aku ada


Tuesday, September 21, 2021

SELAMAT

Selamat menikmati
Dini hari gelap yang bukan malam
Tidak juga pagi
Yang terlalu telat untuk tidur dan terlalu gelap untuk mulai berjalan

Selamat datang lagi hari hari tanpa desir darah dari dada
Tanpa agenda selain tentang kerja
Tanpa seseorang yang ingin ambil hatinya kecuali keluarga

Selamat menjalani masa masa sedih
Selamat menemukan kembali
Di lain hari

SUDAH

Penyesalan tidak pernah hadir sedikitpun
Meski bayangan
Kau meminta atau berdiam
Ku membaca
Semampu yang ku bisa

Pada relativitas dunia
Kembang kempis makna terpenjara
Mengikatkan padamu
Apa yang terlepas
Sudah terlepas

Tak berani ku tatap wajah sendiri
Malu menghantui
Dengung ucapan ucapan mereka
Kepadamu
Yang tercinta 

Singkat yang terasa padat
Terlewati yang terasa lama
Baru yang terekam usang
Tidak lagi mengembirakan hari
Redup ruang lampu jalan bertebaran
Mengiringi jalanku keluar
Seorang diri
Seperti tamu yang tidak diharapkan datang

Alasan alasan agar tidak nyaman
Sebegitukah rasanya untuk pertama kali? 
Malu sekali
Masuk tanpa ada yang menyambut
Pulang tak ada yang menutup

Merendahkan diri
Di hadapanmu ku memuji
Setinggi langit dari dalam hati ini

Aneh sekali menikmati hujan tanpa dirimu
Asing sekali membeli minuman yang biasa kau pesan
Yang bahkan aku tak tau rasanya
Kini di hadapanku
Diam tak tersentuh

Karena biasanya kau yang memegangnya
Dengan senyum tawa gadis kecil yang sangat ku suka

Sudah
Sudahlah

Monday, September 20, 2021

DI PANGKUAN BULAN

Hai sayangku nan jauh di sana
Maaf akhir akhir ini aku dengan mengalir
Menuruti permintaanmu untuk mengabaikan keberadaanmu

Aku menemukan seseorang sayang
Orang yang membuatku nyaman, dan dia bilang aku juga begitu
Tapi, kami tidak bisa berhubungan seperti kita dahulu
Dia tidak bisa. Entah apa alasannya. Walau sudah ku lawan diam diam untuk selalu ada, berharap dia berubah pikiran.
Tapi malah aku diusir, hehe. 

Sayang, bayang bayang cerita kita mempersulitku
Ternyata bermodal baik dan jujur saja belum cukup
Dulu, kita hanya mabuk dengan cinta
Seiring aku menua sedangkan kau abadi
Ternyata hidup bersama lebih dari sekadar ada bersama

Tapi sayang, aku senang sekali. 
Aku sudah melakukan hal yang sangat ingin aku lakukan denganmu waktu dulu tapi tidak bisa karena keadaan.
Keadaan keuanganku. 

Aku bisa membelikan ini itu semauku, aku sudah berani mengajak ke sana kemari, menuruti permintaan ini itu dan memberi kejutan. 

Hal yang ingin sekali aku lakukan padamu
Tapi baru terwujud sekarang
Tapi kepadanya

Sayang, maafkan aku menghubungimu ketika terluka saja
Karena tidak ada tempat yang mau mendengar ceritaku
Tidak juga dengannya

Masalah yang dia punya banyak sayang, aku tidak tega untuk menceritakan kepahitanku walaupun sangat ingin. 
Aku tahan tahan sampai sering kali ngambek kepadanya. 
Sampai aku lupa bahwa kami bukan siapa siapa. 

Tapi, entah. Kami pernah larut dalam waktu. Sama seperti yang pernah kita lakukan dulu. 

Sesuatu yang membuatku enggan melupakanmu. Tapi dia seolah mudah melupakan. 

Ohya
Dia marah padaku, tentang hal yang sama, hal yang membuatmu pernah mendiamkanku selama seminggu. 

Tapi bedanya, aku sudah bisa meredam, sayang. 
Aku tidak memaki maki dan marah marah seperti yang pernah ku lakukan padamu. 

Tapi sayang, kenapa dulu kau masih sabar menghadapiku? 
Kenapa? 
Padahal sangat banyak alasan untuk pergi. Walau akhirnya kau pun kini pergi. 

Apakah surga itu indah sayang?

Ingin sekali aku mampir
Memelukmu dan menceritakan hal tadi tepat di depan wajahmu
Bila itu terjadi, kau harus tahan melihat wajahku tertekuk lusuh karena menangis. 

Aku kesepian sayang

Tapi aku sudah mencoba, dan gagal

Lalu mereka menamaiku penjahat, menyamakanku dengan mantan pasangan pasangan mereka. 

Mereka tidak paham bagaimana kita pernah bersama. 
Aku tidak pernah meninggalkanmu kendati aku marah. 

Aku tidak pernah mendua walau godaan datang dari belakang layar. 

Aku jadi teringat bagaimana kau cemburu saat perempuan remaja itu mengelilingiku dan mengajak berfoto

Kau pulang ke kos sendiri dan tidak bisa dihubungi

Lucu sekali ekspresimu

Senang sekali merasakan rasa diinginkan dalam hidup

Senang sekali merasa menjadi sesuatu berharga yang tidak ingin dilepaskan

Senang sekali merasa dimiliki kamu. 
Waktu dulu

Tidak bisakah kau doakan aku disamping orang tuamu? 

Doakan aku bahagia dan merasakan hal hal tadi lagi

Tanyakan kepadaNya masih adakah kesempatan aku menemukan seseorang yang menyayangiku dan aku pun sayang padanya? 

Tapi sayang, aku lelah
Aku sangat lelah

Peluk aku sekaliii lagi
Biarkan aku memelukmu erat sekalii saja

Aku sangat membutuhkannya malam ini


SEBELAH SISI

Ajari aku, walau ini sangat terlambat
Bila kau mengizinkan dan memberiku waktu bercerita
Ada banyak buih lautan yang ingin ku tumpahkan di hadapanmu
Bahkan aku sendiri tidak tau
Mengapa aku seperti ini, walau
Sungguh.. Sungguh.. Ingin ku berubah setangguh beton 
Setangguh kamu

Ada banyak yang ingin ku jadikan alasan
Banyak yang ingin ku salahkan
Termasuk diriku sendiri 

Dan rasa ingin memilikimu yang tidak terkabulkan
Menambah derita untuk menyalahkan diri ini
Mengapa tidak bisa
Kenapa bukan aku

Bukan untuk pertama
Sebelumnya pernah ku dengar dan baca kalimat itu
Tapi bila kau mau menerima sanggahanku
Hari ini lebih lebih sudah membaik
Hanya belum sempurna
Belum berbuah visi yang indah

Hari ini aku jauh bisa menerima ucapan ucapan kecewa
Dulu aku melawab dan menolak penuh amarah
Hari ini aku pasrah
Memang kenyataan pahit harus diterima
Sambil aku mencari gula agar bisa sedikit terasa manis

Lelah tapi yg hidup harus tetap digendong
Di pundak dan punggung yang penuh ini
Aku memimpikan seseorang yang antusias mendengarkan ceritaku
Seseorang yang tidak lelah menghadapi anak kecil yang bersemayam dalam tubuhku
Akan sangat senang bila dia mau bersabar menumbuhkan dirinya hingga dewasa

Tapi aku ingin menyanggah lagi
Aku sudah berusaha
Membuka
Mencoba berhati hati
Tapi tetap gagal

Berulang kali
Patah hati
Atas keyakinanku sendiri
Harapan sebelah sisi