Basah air yang jatuh menempel kian rapat
Memandanginya kosong
Menyimpan kemelut baru di uluh hati
Tentu saja lebih baik dihantam genggaman tangan daripada pahitnya manis ucapan
Berteduh
Masih di bawah kibasan angin menampar wajahku
Bersama air dingin walau tanpa petir
Tersambar aku oleh kenyataan
Tidak ada cinta walau sebesar biji sawi
Tidak ada ketidakrelaan atas kepergian yang sebentar lagi
Ratap meratapi
Kita saling menyakiti
Payung dan selimut
Binatang buas terbiasa bergelut dengan hawa napsunya sendiri
Bergelut dan sering kali kalah
Dia lapar dan dia ingin
Hingga kalah bahkan mungkin membunuh dirinya sendiri
Pada kulit antara pipi dan matamu pernah ku hapuskan dengan kemeja
Muara duka yang kau tampakkan pada batinku yang juga tersiksa
Ku ucap, aku pun merasakan kesedihan itu hingga hari ini
Hingga di hari kau tak lagi mampu menerima ceritaku dan peran dia dalam jalanan penghidupanku
Lalu ku ucap selamat tinggal
Pada dia yang telah kekal
Kau tetap tidak percaya
Kendati pelukku ingin memelukmu
Badanmu dingin
Mati rasa
Duduk menunggu reda
Waktu yang hilang tidak akan terganti
Tapi momen bisa direkayasa dengan sedikit berpura pura
Menyedihkan, aku meratapi kenyataan itu
Menunggunya menghilang entah sampai kapan
Sempat ku paksakan tapi menyakitkan
Kini rasanya malam berganti malam
Senja muram tak seindah lagu lagu mereka
Tidak ada lagi yang istimewa dari dirinya
Seiring waktu terganti kamu
Kau ganti dengan kelabu yang baru
Kian deras hujan berlanjut
Bau tanah dan pulang
Gadisku yang tersesat
Di belantara kau mencari
Mata mata itu siap menerkam
Merebut hatimu yang belum siap bersenandung
Melodi cinta sejati
Aku serahkan jiwaku kau lukai
Ku cukupkan aku agar tak lagi kau sibuk mencari
Walau batinmu tak puas
Aku cuma punya atribut ketulusan
Tak mampu berlayar ataupun terbang, membawamu melihat awan menikmati deru ombak seru menggulung
Aku tak ingin kau tersapu
Terseret dan tenggelam
Hipotermia dan kehilangan kesadaran
Aku sangat sedih bila kau mati
Terluka
Dan merasa sendiri
Aku ada
Aku ada