Sesungguhnya beralih darimu bukanlah hal yang sukar bagiku, sayang
Tetapi lelaki sejati akan teguh menopang janji
Kendati membuang waktu seperti kau yang membuang diriku dalam kemiskinan,
Dengan memilih yang lain, yang sesumbar nyawa kan ku tukar dengan bahagiamu, sayang
Walau yang terjadi ternyata lain,
Tak ada mimpi yang menjadi nyata terkecuali lahirnya sang bidadari
Aku membual, mengarang sumpah serapah : kini nikmatilah kehangatan kasih dalam jeruji rasa malu yang terlalu kokoh mengerangkeng derita seumur hidup!
Kini nikmatilah sepi dengan segala tekanan di urat kepala dan ujung limpamu!
Ku teriakan itu dengan kucuran air mata buaya, ujarmu.
Senyum hanyalah bentuk lain untuk mengaburkan derita
Ku habiskan berpuluh puluh kilo jarak dan beribu ribu tahun hanya untuk mengubur janji itu
Akan tetapi, ikrar janji dalam suaramu selalu terngiang di kala malam sebelum aku tidur
Tidur yang jauh sekali dari kata lelap
Bangun pagiku tak pernah lagi berenergi setelah kau pergi, sayang
Tetapi
Aku upayakan untuk menjauhi kemiskinan
Sebuah alasan yang kau ucapkan sebelum pergi meninggalkanku di sini
Lalu ku tanam dalam dalam pada kedua bola mataku yang kian menguning, sekarat, dan kesakitan
Sayang,
Sesungguhnya aku telah berdusta
Hatiku terkoyak melihat kau yang memelas iba
Memasang senyum manis yang tidak semanis dulu
Matamu tak mungkin mampu membohongiku
Sayang, janganlah terpejam
Maafkan aku yang mengabaikan sapaan itu
Kau hanya tidak tau, bertandon tandon air mata sudah ku tumpahkan
Ngilu ngilu pada persendian yang enggan ku rasa hanya demi tetap berjalan
Muka yang diseret tambang robek diadu dengan tanah dan kerikil
Segala kesakitan itu ku lalui hanya untuk mengubur janji
Mengubur namamu dalam sisi gelapku
Aku masih Tidak mengerti mengapa kau tinggalkan aku sendirian dalam kelaparan
Aku masih sulit tuk percaya bahwa kau tega
Sayang, bolehkah ku habisi nyawa lelaki itu?
Bolehkah aku balas luka hantaman tangan pada pipi pipimu?
Bolehkah aku cabik dia dan ku gantung di atas pusaramu?
Mengapa kau semenyebalkan ini, sayang?
Mengapa kau sedelusional itu untuk takluk pada bujuk rayu iblis yang kini sudah membunuhmu?
Bukankah kita pernah sama sama belajar untuk memperkuat kuda kuda?
Bukankah kau yang selalu berhasil dalam latihan itu?
Mengapa kau yang sekarang mati?
Sayang, sesungguhnya mengganti dirimu dengan yang lain bukanlah sesuatu yang sulit
Iya, sungguh sungguh teramat mudah
Bila kau tidak percaya dengan ucapanku maka bangunlah,
Tertawakan aku lagi, sakiti aku lagi dan pergi dengan yang lain
Itu jauh lebih baik daripada saat ini