Sunday, April 2, 2017

Basuari, biru dan rindu

Ku mencuri waktu,
Lembar kertas, amplop, dan pena
Jua merebah, berlindung dengan badan-badan basah
Membungkus sedikit waktu untuk kau nikmati..
Sendiri..

Kau tahu? Berhari hari ku tak kunjung mandi
Peluh menumpuk lalu memuai bersama sengat matahari
Tak cukup waktu
Mereka pun kian dekat mengepung
Sudahkah kau makan? Nyonya.. berapa bulankah?
Ku harap masih sempat ku namai dia
Gentha priambada..
Atau, Pratami..

Jangan habiskan air dalam mata
Setidaknya jangan lakukan sendiri
Percayalah nyonya, ku ada walau tak berupa
Bersemayam jauh di dalam hati

Rindu, waktu kian berlagu
Memangkas detik, tak hapuskan pilu
Tatap langit, mendekatlah dengan jendela
Kita memandang bulan yang sama

Basuari, serdadu biru

Laku.. sumbu... Hilir... Hulu...
Jiwaku perlahan pasrah
Waktu merenggut waktu
Batas waktu terbatas
Langit nan penuh deru
Hujan tangis, caci, dan juga peluru
Hiasi malam pembebasan serdadu

Sendang bening antah berantah
Yang ku dengar hanya gemericik
Mata kau tutup, mulut tersumpal
Janji menjadi janji
Jadi janji hanya janji
Binasalah orang seribu
Termasuk aku..

Kau takkan​ sampai di akhir catatan
Ku rangkai kata sekiranya sukar kau duga
Agar lama kau mengerti..
Ku tersembul dari ruang sembunyi
Terseret caci dan maki

Saat kau baca lembar ini..
Ku sudah tak ada lagi