Thursday, October 31, 2019

JAMAK

Banyak kesedihan pagi ini
Datang bersama hujan
Di hari pertama pengawal bulan

Jangan pergi
Ucapku sendiri 

Namun matanya tlah menatap wajah maha cinta
Bisu lagi tuli
Tak mau menjawab suaraku lagi

Siap tak siap 
Aku tlah hancur lebur
Menari bersamanya lagi
Sepanjang manis yang tlah terlewat

Hingga pada suatu ujung
Ruang basah dengan jendela penuh cahaya

Sampai jumpa, tutupnya. 

Monday, October 28, 2019

Inner Child

Pernahkah kamu mendengar istilah inner child? Istilah ini populer dalam ilmu psikologi pada tahun 1970-an. Secara komperehensif inner child beserta penanganannya dibahas pada tahun 1976 oleh Lucia Capacchione. 

Inner child merupakan bagian  dalam diri seseorang yang merupakan hasil dari pengalaman masa kecilnya. Inner child merupakan salah satu bagian dari alam bawah sadar manusia.

Mengacu pada John Bradshaw (1992), inner child merupakan pengalaman masa lalu yang tidak atau belum mendapatkan penyelesaian dengan baik.

 Orang dewasa bisa memiliki berbagai macam kondisi inner child yang dihasilkan oleh pengalaman positif dan negatif yang dialami pada masa lalu. Seperti motivasi alam bawah sadar lainnya, inner child juga muncul pada orang dewasa dalam bentuk perilaku atau keadaan emosi yang tidak disadari (unconscious).

Hasil dari pengalaman masa lalu yang membentuk inner child dapat terlihat dalam bentuk sifat yang beragam, misalnya sifat bergantung kepada orang lain atau dependency, impulsivitas, atau dalam bentuk positif seperti mandiri, asertif dan masih banyak lagi contoh perilaku lainnya yang dapat berupa gangguan trauma. 

Seringkali gangguan pada Inner child membawa masalah pada tingkah laku, emosi, dan hubungan sosial orang dewasa (Diamond, 2008).. Begitu juga sebaliknya, inner child yang cenderung stabil juga akan memberi dampak positif seperti menunjukkan perilaku yang sesuai dengan situasi, emosi yang stabil, serta hubungan sosial yang suportif (Diamond, 2008).

Masalah trauma masa kecil memang bisa menjadi hambatan bagi stabilnya Inner child, namun tidak selamanya hal ini menjadi penghambat bagi seseorang untuk berkembang menjadi manusia dengan stabilitas emosi yang baik atau memiliki hubungan sosial yang baik pula. 

Trauma masa kecil yang memengaruhi inner child bisa diatasi dengan memberikan penanganan yang tepat.

Seorang Psikolog Klinis dan Forensik asal Amerika, Stephen A. Diamond Ph. D. memberikan tips bagaimana mengatasi permasalahan yang terjadi pada inner child. 

Menurutnya cara yang benar untuk mengatasi masalah ketidakstabilan inner child yaitu dengan mencoba memahami serta memulai berkomunikasi kepada inner child tersebut. Mengacu pada Stephen A. Diamond kita membutuhkan waktu yang disediakan untuk memahami dan mendengarkan inner child pada diri kita sendiri. 

Kebutuhan akan cinta, kasih sayang, penerimaan, pengasuhan serta merasa dipahami oleh orang lain adalah bagian inner child yang harus tercukupi bagi setiap orang (Diamond, 2008), tentunya dengan kadar yang berbeda-beda. Hal ini bergantung kepada pengalaman positif dan negatif masa lalu yang kita alami.

Menurut Diamond (2008), seseorang yang dikatakan dewasa adalah mereka yang menerima masa lalu, memahami kebutuhan inner child serta memenuhinya tanpa bergantung kepada orang lain ataupun menyusahkan orang lain.

 Penerapan disiplin, serta mengetahui batasan-batasan diri adalah hal yang penting dalam pemenuhan kebutuhan inner child bagi orang dewasa yang stabil dalam emosi, perilaku dan lingkungan social (Diamond, 2008).


Misalnya, dulu waktu kecil sering dibentak sama orang tua, pernah melihat orang tua bertengkar, atau punya orang tua yang terlalu menuntut. Hal seperti ini biasanya membuat teman-teman menjadi orang yang canggung untuk bercerita dan cenderung merasa depresi.

Kejadian masa lalu ternyata dapat membentuk diri kita hari ini. Hal seperti itulah yang kita sebut sebagai inner child. Hal ini bisa menjadi penghambat atau justru pendorong kita untuk tumbuh dan berkembang, tergantung bagaimana kita menyikapinya.

Ibarat luka, yang namanya bekas pasti ada, tapi yang menjadi poinnya adalah cara kita menyembuhkannya. Jadi yang perlu dilakukan adalah healing your inner child.

Inner child harus kita ‘selesaikan’, karena apabila tidak, ia akan terus mempengaruhi kita. Ia akan terus membentuk karakter diri, dan sangat mudah diturunkan ke anak kita kelak. So, mari kita bahas step-by-step how to heal your inner child ini.

Tahap awal, identifikasi masalah utama yang menjadi penyebab inner child mu. Coba flashback kembali hal-hal menyakitkan yang pernah terjadi. Misalnya, pernah jadi korban bullying, atau sering melihat kedua orang tuamu bertengkar.

Hal-hal inilah yang membentuk pribadi emosional, grogi, ataupun malu bersosialisasi. Menyakitkan untuk diingat, tapi cobalah untuk melihat sebab-akibatnya.

Lalu kedua, lepas dan ikhlaskan. Pada fase ini yang harus kita sadari adalah semuanya hanya masa lalu yang sudah terjadi dan terlewati. Masa depan ada di hadapan kita. 

Jangan takut dan malu untuk mengakui apa yang sudah pernah kita alami sebelumnya, sebab dari sana kita akan mendapat pelajaran yang sangat berharga.

Buang segala dendam dan amarah yang lama terpendam. Buang segala resah, kekecewaan, kesedihan, kegelisahan yang pernah kamu rasakan. Dirimu berhak bahagia, dirimu berhak lepas dari segala dan apa yang pernah terjadi.

Untuk melakukannya, kamu bisa bercerita pada sahabat, atau menuliskannya dalam berlembar-lembar kertas, lalu membakarnya. Biarkan semua energi negatif keluar dari dirimu.
Tahap 3, maafkan dirimu dan mereka yang terlibat. Sejatinya kita saat kecil layaknya sebuah kanvas putih, yang terwarnai seiring berjalannya kehidupan. 

Dalam proses tersebut, ada maksud yang Tuhan ingin ajarkan kepada kita : bahwa kita memiliki kontrol diri tapi Tuhan lah yang berkuasa atas kehidupan kita.
Mungkin, kejadian atau pengalaman buruk yang pernah dialami membuat kita lalai dan lupa atas segala anugerah yang Tuhan berikan. Kita lebih sering mengutuk keadaan, menganggap Tuhan tak adil, dan akhirnya membangkang.

Yang perlu kita lakukan dalam fase ini adalah memaafkan diri sendiri. Setelah segala sikap buruk yang kita lakukan, Tuhan masih memberikan banyak kasih sayang-Nya kepada kita.
Maafkan juga orang-orang yang terlibat dalam inner child mu, percayalah mereka hadir dalam hidupmu untuk memberi banyak pelajaran. Lakukan ini supaya hatimu lebih tenang dan yakin bahwa semua terjadi atas izin Tuhan.

Fase 4 dan yang terakhir, nikmati prosesnya. Ikuti semua proses dengan kesabaran dan kesadaran. Berdoa dan mintalah kepada Tuhan agar senantiasa dikuatkan.

Setelah semua step berhasil teman-teman lewati, step 4 ini bisa menjadi penyemangat dan pengikat atas apa yang sudah teman-teman lewati. Agar apa? Agar teman-teman tetap menetapi langkah selanjutnya dengan penuh keikhlasan dan kebahagiaan.

inner child adalah bagian dalam diri kita yang terluka ketika masa kanak-kanak yang untuk sebagian orang luka yang timbul sangatlah dalam dan menghancurkan bahkan bisa lebih buruk, meskipun terdapat bagian menyenangkan saat masa kanak-kanak tetap saja beberapa luka mungkin terjadi sepanjang jalan dan jika luka tersebut belum sembuh maka akan berdampak pada masa dewasa.

Sesuai pendapat di atas dapat kita tarik benang merah bahwa intinya inner child itu adalah figur/sosok anak kecil yang ada pada diri kita dewasa ini. Bentuk sosoknya seperti apa? ada yang positif dan negatif. 

Positif misalnya adanya perasaan senang/ bahagia, semangat, merasa lepas/bebas, tenang, nyaman dll sedangkan sosok negatif misalnya perasaan marah, benci, jijik, kesal, takut, tak percaya diri, cemas dll. Dominasi inner child dalam diri kita tergantung latar belakang masa lalu yang terjadi ketika masa kanak-kanak, lebih banyak kesan positif ataukah negatif? 


Jika semasa kanak-kanak lebih didominasi oleh perasaan positif maka semasa dewasa tidak akan bermasalah tapi justru terus merasakan aliran cinta, perasaan bahagia dan semangat selama menjalani hari. 

Namun sebaliknya jika semasa kanak-kanak didominasi oleh perasan negatif semisal kemarahan, ketakutan, kebencian, kecemasan maka semasa dewasa emosi tersebut akan terulang kembali jika sebelumnya tertahankan atau tidak terselesaikan.