Saturday, April 9, 2022

ganjil

Kau bertanya aku menjawab
Kau menabur bunga ku siramkan hal lebih padamu
Tapi pada takaranku yang biasa
Seorang bijak pernah berucap jangan ambil keputusan ketika bahagia dan marah
Mungkin kita terjerumus ke dalam sana
Kau tumbuhkan ikrar yang terngiang dan ku pegang 
Walau seiring waktu membaur waktu yang terbuang
Seiring rupa burukku tertelusuri kian busuk
Tak demikian aku, sayangnya 
Segala hal buruk walau nyatanya amat kecil dirimu sempurna dan membahagiakanku
Tak pernah ku anggap, tak ku jadikan penghalangku
Sebegitu mudahkah ku menerima
Sebegitu mudahkah aku percaya
Walau berulang kali didustai semua yang lalu
Aku benar benar tidak mengerti 
Dicari alasan agar ku menyerah
Apakah aku dilampiaskan amarah masa lalumu
Hal sakral yang ku impikan ku beri begitu saja
Pada siapakah aku bicara?
Padamu yang satu atau yang satunya lagi? 
Apakah sia sia aku berjuang pada yang tak pernah cukup aku baginya 
Haruskah ku lupakan semua manis puji dan rencana besar yang terlanjur ku jadikan alasan mengubah haluan?
Bila memang kelam itu datang, aku kembali mundur mengulang pekerjaan yang kutiti pelan pelan
Sangat sedih karena bukan hanya nasib dan perasaanku tapi semua isi keluarga yang terlanjur bahagia
Di kala usia sangat ku sebut bilangannya
Saat harusnya beban ini aku rasakan berulang ulang
Berjuang tinggal berlari tapi tak bersambut yang lahirkan ragu
Aku tau walau tak kau sebut 
Merasa ditinggal dengan sensasi yang baru
Sudah sejauh ini, jalan kita terakselerasi
Percepatan tak selalu layak disangka bagus
Apapun tak bisa dipaksa, soal rasa biar jujur pada semesta
Tapi berjuang bisa namun tak sendiri
Merasa bodoh sudah pasti
Memboyong langit pun tak akan pernah ada arti 

kadar

Bagaimana menjadi lelaki sejati?
Berwibawa diagungkan bersahaja dan dari garis keturunan yang jelas? 
Sesuatu ada sebagai sebab akibat kadang ada karena sudah ditetapkan tanpa diinginkan
Terima kasih tuhan atas semua yang kau titipkan
Izinkan aku sedikit sedih jujur pada malam ini
Terima kasih karena terus menyelamatkanku dari kehancuran yang berulang mengintai
Kendati tak batak atau tionghoa, ku harap jawa punya aturan marga
Kau bilang semua setara diukur dari amalnya
Darahku yang abu menjadi pengecualian budaya 
Menghindari kemungkinan terburuk ku terjatuh dalam ruang gelap lebih dalam 
Andai kau buat ku lebih bengal ditakdirkan melukai dan segera pergi agar tegap badanku merenggut nyawa lara
Terlalu lembut lemah dan hina kau buat ku dipandang manusia 
Cukupkan aku pada namamu aku kian lelah
Tak ingin melukai dan dikenang hilangkan aku dari dunia
Malu yang bukan cuma untukku. Mohon bahagiakanlah ayah bunda
Cukup 1 entitas yang terluka
Cukup aku
Tuhan
Terima kasih kasih atas jalan sembuh yang tidak kekal
Jauh di sana jiwaku kau genggam kau tau niatku
Ampun ku hantarkan untuk segala lalai
Untuk segala yang gagal ku jaga 

gerai

Mulai tumbuh semakin lebat
Rasa memiliki dan memiliki
Tak ada hari yang berjalan baik ketika seorang ibu menangis
Dan pula wanita yang mendiami batinku
Bersama seorang anak yang terasa seperti anakku
Terbaring lemah dan merintih
Jauh ingin bertemu tapi tak tergapai
Ingin ku serahkan diri agar sakitnya berpindah padaku saja karna badanku lebih kuat
Aku lama terdiam, mencoba menenangkan dari jauh tapi ku rasa amat sukar batinnya tenang
Di situ mulai terbuka bahwa nikmatnya sehat mahal harganya. Ketika sakit itu menghinggapi orang orang istimewa dalam hidup
Tak nyenyak memejam dan tak lepas untuk bergerak
Segera mungkin ingin ku peluk dan ciumi kalian berdua
Menjadi tameng pertama untuk rasa lara dan mengisi kosong dalam hari hari
Aku mulai menyayangimu dan ingin menjagamu selamanya nak
Bunda teramat istimewa sampai lupa merawat dirinya sendiri
Izinkanku jadi ayah yang hebat untuk mereka Tuhan. 

Friday, April 8, 2022

rasa tak nyaman

Hari hari cerah ataupun mendung bagiku tidak ada rumus mutlak penentuannya
Aku bisa merasa cerah dan hangat mesti angin kencang bersama hujan 
Ataupun sebaliknya
Semua tergantung hatiku yang bersemayam dalam genggammu
Bersamamu akan selalu memeriahkan suasana
Membuatku merasa aman dan detil dalam memandang
Kehilanganmu, tanpa kabarmu, gusar melanda badan dan jiwa
Seolah tanaman kehilangan bunga
Atau lautan tanpa deru ombak
Terasa sepi dan hampa
Gelisahku
Hanya kamu obatnya

Sunday, April 3, 2022

Bagaimana Jika

Gelombang pasang yang kita naiki
Dimana berdua mengendalikan bersama
Di sebuah momen di detik itu visi kita mungkin sama
Menikmati tiap gulung ombak, angin dan basah 
Mungkin petir dan pasang begitu menakutkan
Saat itu tiada gentar, tiada surut hasrat dalam jiwa
Tapi waktu berlalu seiring habis masa pakainya
Ia menghilang, berganti, dan berlanjut menghitung mundur, terlihat maju
Akankah daratan adalah salah satu tujuan? Ataukah hanya euphoria naik atas gelombang yang ingin kita terima? 
Hingga salah satu dari kita bosan
Tidak melihat visi yang sama?
Ada rasa takut kehilangan bersama datangnya sebuah kehadiran 
Cepat atau lambat
Dipisahkan hidup mati atau retak rasa percaya
Sama menyakitkan bagiku 
Entah apa harap diri menyelami lautan lepas asing dan gelap
Tanpa sadar atau mengesapingkan kesadaran demi tercapai sebuah perasaan
Sepotong skrup pengisi rongga rongga hampa
Ku pasrahkan dan alihkan hidup
Apakah tepat untuk ku sebut harga dari sebuah cinta?
Ku merasa dalam bahaya dan tak lagi aman
Tapi tak ingin kehilanganmu
Ku rasa kau sama
Tapi dalam samudera tak hanya kita berdua
Ada banyak hal yg mampu membahagiakan
Sekaligus melahap kita hingga hilang tak bersisa. 
Akankah kita setangguh mimpi besar kita? 
Apakah kini, 
Kau dan aku bersatu padu? 
Demi apa?
Berlabuh ke daratan?
Atau menikmati pasang entah sampai kapan?