Friday, April 20, 2018

TELAGA

Malam itu ku layangkan kepadanya
Layak kutip sebuah ketenteraman sempurna
Telaga tempat ku berkeriau, karena luka dan bahagia.

Yang bermula
Diawali kata
Pada pagi kaki tergelincir
Mengerang
Membopong tubuh
Mendekap harap
Meronta
Tangan saling meraba
Bermandi darah
Syahadat bergumam di sisi telinga
Tangis dihempas tawa
Dengan air mata yang sama
Napas beriring nifas
Air minum pertama yang ku hela
Air mata pertama yang terjatuh
Menghulu pada muaranya,

Bunda.

PERSIMPANGAN

Mencintaimu adalah pasi
Mencampung ombak, mengeringkan pantai

Menjauhimu itu gemetar yang tak bergetar
Dalilku tertutup kumandang rindu-rindu mereka

Untuk setiap kepasrahanmu luluh
Untuk semua keberdayaanmu memaklumi
Dan untuk setiap ibamu saat ku jatuh

Ku seret kau ke persimpangan
Hati bersiap lepas pegangan
Kau pantas tuk memilih
Mati denganku atau menyapih.