Friday, July 17, 2020

APAKALA bagian 1 (sebuah cerita pendek)

Semalam aku tidur, namun tidak lama kemudian terbangun, duduk sejenak, berjalan mencari air minum, lalu menelannya ke dalam tubuh. 

Dua menit berlalu, dengan setengah sadar aku kembali ke tempat tidur dan sepertinya terlelap.

Dalam lelap, cahaya terang menyilaukan penglihatanku sehingga telapak tangan ku jadikan topeng penghalang. Sekelebat sorotnya kembali normal, tapi aku tersentak karena ada seorang bayi yang tertidur pulas dan terbungkus selimut di atas lantai tepat di depanku berdiri.

Pelan pelan ku dekati bayi itu, membungkukkan badan, sambil memandang wajahnya. Memoriku berkata sepertinya tak asing. Itu anakmu, anakmu yang tertidur pulas di sana. Aku ingat betul dari wajahnya. 

Dengan kebingungan mataku melempar sorotan ke segala arah dalam ruangan putih yang kosong ini, tidak ada makhluk hidup lain, bahkan tidak ada satupun perabotan di sana, hanya ada aku dan bayi itu yang tersisa. 
Tetapi, hanya ada satu pintu keluar, pintu berwarna putih yang tertutup. 

Ku gendong bayi itu pelan pelan agar dia tidak terbangun, tapi gagal. Dia terbangun seketika saat ku sentuh tubuhnya, lalu akhirnya menangis entah hendak menyampaikan apa. 

Ku gendong dia lebih lembut dan hangat biar paling tidak ada rasa nyaman yang dia rasakan. Tapi lagi lagi gagal. 

Perasaan aneh datang merasukiku. Aku merasa menjadi seorang ayah yang kebingungan karena ditinggalkan istri yang entah pergi kemana. Aku sama sekali tidak mengerti ucapan apa yang bayi itu hendak utarakan, apakah lapar ataukah dia ketakutan, aku sama sekali tidak mengerti. 

Sambil menggendongnya, aku berjalan menuju satu satunya hal yang bisa ku pegang kecuali tembok putih, yaitu pintu tadi. Aku mendekat, kemudian melihat apakah pintu ini terkunci atau tidak. Rupanya tidak, lalu ku buka gagang pintu itu pelan pelan. Pintu pun terbuka, akan tetapi yang ku lihat di luar masih kosong, tidak ada siapa siapa. 

Yang ku lihat hanya hamparan rumput hijau dengan beberapa pohon yang tersusun renggang, seperti halaman sebuah rumah tapi sangat luas ukurannya. 

Bayi ini masih menangis, bahkan lebih kencang dan mulai ada sengau dan getar dalam suaranya. 

Ku bunyikan namamu, memanggilmu dengan hati hati. Sekali, dua kali, hingga yang ketiga. Makin kencang, lebih kencang dari sebelumnya. Berharap kau ada dan menenangkan tangis bayi ini. Ternyata kau tidak juga datang. 

Tapi aku harus mencari sesuatu yang bisa ku pakai dalam upayaku menenangkan bayi ini, sedangkan tidak ada susu ataupun roti, mainan ataupun buai ayunan, kecuali badanku sendiri. 

Aku berjalan sambil menggendongnya, mencari cari apa saja yang mungkin bisa ku pegang. 
Tiba tiba aku teringat nama bayi itu samar samar, ku sebut namanya lembut di hadapan wajah kecilnya, memintanya bersabar, berhenti menangis sejenak karena aku sangat kebingungan. 

Bayi itu membalasku dengan tatapan. Dengan matanya yang sembab berair, lalu tangisnya berhenti. Kami saling menatap.

Aku sadari ada matamu dalam tatapan itu. Dalam hati aku berucap, "mana ibumu nak?", tapi yang keluar dari mulutku adalah kalimat  "kau benar benar mirip dengannya". 

Bayi itu seolah mengangguk sambil tertawa kecil, tangannya memainkan dasi yang tergantung di kerah kemejaku. Aku kaget, apakah dia bisa mendengar suara hatiku? Mengapa sekebetulan ini?. 

Aku melihat sebuah pohon rindang beberapa meter dari tempat ku berdiri, ku bawa bayi ini ke sana untuk duduk dan berteduh. 
Ibu jariku mulai membelai belai kepala dan pipinya, bibir dan hidungnya pun ku sentuh pelan. Ku ajak dia berbicara, tetapi dia hanya membalas tatapan seperti tadi. 

Mana mungkin bayi ini bisa membalas pertanyaanku dan bicara?!, pikirku bodoh, ucapku dalam hati. Tapi kemudian dia kembali menangis. Apa yang harus ku lakukan? Aku bingung. 

Ku sebut lagi namanya dengan lembut, "ai mau apa? ai mau apa?". Walau aku tau dia tidak akan bisa menjawab ataupun mengerti ucapanku tapi entah kenapa aku masih melakukan hal itu. 

Lagi lagi bayi ini berhenti menangis, menatapku lagi sambil mengoceh hal hal yang tidak ku mengerti. Mimiknya seolah mengajakku berbincang, lalu tangan kecilnya kini mulai menyentuh nyentuh wajahku. 

Aku yang gemas mulai menciumi pipinya. Perasaan seolah olah menjadi ayah yang masih merasuki tubuhku mengikatku lebih kencang seperti akar tunggal yang kian menancap dalam, yang semakin dalam, semakin sulit untuk dicabut. Kini rasanya bukan lagi seperti, tapi perasaanku menguatkan tubuhku bahwa aku betul betul ayah dari bayi ini, aku mulai sayang padanya. 

Bersama dia dalam dekapanku, aku bersandar pada batang pohon yang besar. Kami mulai berusaha saling mengenal, sesekali dasi yang ku pakai ini ku jadikan mainan untuk menghiburnya. Hingga akhirnya aku ceritakan sebuah kisah kepadanya. 

Dahulu kala, ada dua ekor semut yang terdampar dan terpisah dari rombongannya. Mereka bersama sama berjalan di dalam sebuah benda yang mereka tidak tau namanya apa. 
Semakin mereka melangkahkan kaki, semakin mereka tau bahwa mereka tidak kemana mana. 

Salah seorang semut itu berhenti berjalan dan mulai mengeluh. "aku haus, dan sepertinya kita hanya berputar putar saja di tempat ini!". Semut yang lainnya pun ikut berhenti dan mengiyakan ucapan kawannya. "iya, aku rasa begitu, tapi kita harus tetap berjalan agar bisa pulang, bersabarlah.. Sebentar lagi pasti sampai". 
"Tapi aku benar benar lelah, aku ingin minum!", jawab seekor semut lainnya. 

Mereka berdebat panjang dan kian kebingungan. Lalu dalam kebingungan itu goncangan mulai terasa dari kaki hingga tubuh mereka. Tempat mereka berdiri kini bergoyang kesana kemari. 

Kedua semut itu saling mendekap satu sama lain. "ada apa ini? Aku takut!", ucap seekor semut. "mmm mmanusia itu mengangkat tempat ini!, ayo dekap aku lebih erat!". 

Kemudian tempat itu dibanjiri air yang keluar menyerupai hujan deras. Kedua semut itu pun tersapu olehnya, terombang ambing ke kanan dan ke kiri hingga akhirnya mereka jatuh ke tempat lain yang lebih kering. 

Salah seekor semut tadi lemas dan hampir pingsan, tetapi yang satunya lagi masih mendekap kawannya dengan segala tenaga yang tersisa. 
"hey!, lihatlah, kita keluar dari tempat itu.. Bangun!, kita harus pulang!". 
Semut yang hampir pingsan ini pun berupaya tetap terjaga agar bisa terus berjalan. 

Mereka berdua saling merangkul. Berjalan bersama walau tertatih tatih. Hingga akhirnya sampai ke rumah tempat kawanan lain hidup di sana. 

Dan mereka bersama, membesarkan anak anak, dan bahagia selamanya. 

Selesai. 

Mata bayi ini separuh memandang seperti bulan sabit yang bersinar. Rupanya dia menikmati ceritaku dan mungkin merasa nyaman dengan suaraku yang dia tidak pahami. 

Tidak lama setelahnya, dia tertidur dalam dekapanku lagi. 
Sedangkan aku masih bertanya tanya, di manakah kamu berada?, karena aku yakin sangat tidak mungkin kamu meninggalkan bayi ini sendirian. 

Mungkin karena sepoi angin membelaiku, atau ruang hening yang mengurung kami, mataku ikut terpejam dalam situasi seperti ini. 

Untuk beberapa saat aku tidak tau lagi apa yang terjadi. 

Tapi tak lama kemudian tubuhku kaget dan mata seketika terbuka. Ku temui diriku tengah berdiri di depan rumahmu, aku mengenali itu dari pohon beringin besar di sebelah utara pagar. 

Selagi mataku kesana kemari memastikan keadaan, kau keluar dari pintu rumah dan memanggilku dengan panggilan yang paling ku rindukan. 

"sayang.. Sini, aku buatkan susu hangat untukmu".

Aku kian terkejut melihatmu. Melihatmu yang telah lama tidak ku lihat dengan mata dan perasaanku. 
Badanku bergerak memasuki pelataran rumah dan duduk di kursi depan, sedangkan kau, setelah meletakkan segelas susu hangat di meja, meminta izin untuk masuk lagi ke dalam. 

"diminum dulu.. Bentar ya yang". Ucapmu sambil beranjak pergi. 

"iya", jawabku mengangguk, tapi secepat kilat silau datang dan pergi membawaku kembali ke tangisan bayi ini. 

Dalam bola mataku hanya ada hamparan rumput dan sebuah rumah berwarna putih tadi. 

Ku lihat wajah bayi ini. Ku tepuk tepuk pelan pahanya untuk menenangkan tangisannya yang kian kencang. 

Tadi, aku bertemu ibu.., ucapku padanya. 
Di bawah pohon rindang dalam hamparan rumput yang luas ini, kami saling meneteskan air mata. 

Bersambung





Friday, June 26, 2020

TENAGA

Sunyi senjatamu merajam
Diam diam menghunjam ia
Rasa yang menyelam jauh
Dalam dalam ku tenggelam

Dalam jalanan panjang
Ujung tanpa bayangan
Masa masa mungkin terbuang
Menemukan pasang dari luas hampar lautan

Tenggelam ku berenang
Mengayunkan lengan menuju ruang ruang
Sunyi merajam nan menghunjam 
Lekat suaramu menuntun 
Usia melebur terik payungi badan
Melemah dan berbeda

Hanya kerinduan
Yang terpasang dalam pasungan
Hanya kerinduan
Yang memaki maki sepasang kaki untuk bisa terbang

Dari kejauhan

Saturday, April 4, 2020

TABIR KASAMATA

TABIR KASAMATA



 
Sebuah kumpulan mahluk hidup yang terkurung oleh tabir tipis atas dasar rasa takut, ketidaktahuan akan bentuk musuh yang dihadapi serta kekuatan kekuatan apa saja yang dia miliki.Belum lagi perihal item senjata mana yang paling ampuh untuk membunuh musuh tadi belum juga ditemukan.
Kumpulan mahluk tadi bersembunyi dari apa yang tidak sepenuhnya mereka mengerti. Hanya dengan berbekal desas desus selayak dongeng malam hari yang mengantarkan mereka pada mimpi buruk, mimpi buruk yang menyebabkan tubuh masing masing dari mereka merasakan hawa tidak segar dan semangat hidup yang kian menipis.

Salah seorang yang dituakan di antara mereka berkata untuk tetap mendiami goa goa tempat biasa mereka merebahkan diri ketika lelah. Tanpa adanya uluran tangan lain, hanya kata kata manis pembuka dongeng negeri peri. Sebagian dari kumpulan mahluk tadi berkerumun, mempergunjingkan apa yang sedang dirahasiakan dari mereka, sebagian lagi berusaha mempertahankan kelangsungan hidupnya dengan menimbun berbagai kantong dan peti berisi koin emas, roti roti besar, serta daging dari ternak mereka maupun ternak orang lain.

Semula semuanya berjalan biasa, namun lambat laun mereka memburu satu sama lain. Berebut menjadi yang tercepat mengoleksi isi kantong dan peti tadi. Siapa cepat dia dapat!, mendapatkan peluang hidup yang lebih panjang.

Tabir tipis yang baru beberapa hari dibangun itu entah bagaimana ceritanya telah berlubang sebesar lubang jarum jahit. Dari lubang itu bau udara yang sebenarnya mampu dicium beberapa dari kumpulan mahluk tadi. Ada yang tiba tiba lari terbirit birit sambil berteriak agar segera mungkin lubang itu ditambal, ada yang diam diam membuat pengamanan ekstra, membentengi keluarga masing masing dengan tembok tembok baja nan tinggi yang di salah satu sudutnya tertulis “previlise kaum berada”.

Sebagian mahluk yang mampu membangun tembok baja nan tinggi tadi tampak tenang walau di raut wajah mereka kegelisahan akan masa depan juga jelas terbaca. Satu satunya kutukan yang tidak mampu mereka hindari hanyalah digerayangi rasa bosan. 

Di suatu hari, salah satu dari mereka mendatangiku untuk sekadar bertamu, coba bayangkan apa yang hendak dia ceritakan padaku?. 
Rasa bosan ini sungguh mengiris iris gerak kakiku yang cekatan, aku hampir mati tertidur dibuatnya, ucapnya dengan penuh kegundahan. 

Lalu aku balik bertanya, Bagaimana dengan perut perut keluargamu?. Kami sudah memborong segalanya, roti gandum kelas satu, daging daging empuk Australia, dan yang terpenting adalah akses ghaib penembus ruang, jawabnya. Seketika mulutku melontar kata, Akses ghaib penembus ruang?, apa itu?. Akses ghaib penembus ruang adalah selembar kertas yang berisi mantra mantra, yang barang siapa memiliki itu akan mampu berkelana kemana saja, dimana saja, melakukan apa saja walau hanya berdiam diri di dalam goa, lanjutnya lagi. 

Jadi, hanya dari dalam goa kau bisa melakukan segalanya?, bagaimana dengan membeli zirah, kau mampu?, tanyaku. Tentu saja, jawabnya lantang lalu melanjutkan, nanti ada orang dari kerajaan yang akan mengantarkannya padaku, tinggal ku ucap keinginan dalam hati, lalu semuanya terwujud. 

Tak lama kemudian orang itu pamit untuk pulang. Sebagai imbalan karena sudah meluangkan waktu untuk mendengarkan ceritanya, dia meninggalkanku beberapa koin emas dan potongan roti autralia yang dia punya. Tapi ketika dia sudah tidak ada aku baru sadar bahwa aku lupa menanyakan perihal akses ghaib penembus ruang yang dia ceritakan. Aku ingin sekali mendapatkan selebar kertas mantra itu. Aku juga ingin hidup enak walau di dalam goa. 

Karena kebosanan melanda begitu kencang, terlebih rasa penasaranku soal akses ghaib itu juga makin membuncah, aku putuskan untuk keluar dari goa. Ku tinggalkan keluargaku yang sedang pulas tertidur di depan meja makan.
Baru beberapa langkah ku pijaki, tanah tanah lapang ternyata ramai lalu lalang mahluk mahluk lain. Pikirku, bukankah ini hari lain, kenapa masih serupa hari biasanya?!.

Penasaran bercampur geram menyulut mulutku melontarkan teriakan sekali lagi. 

Hei!! Hei!!, mahluk buta lagi tuli.. kenapa kalian begitu berisik dan menyesaki tanah lapang ini?!, kalian tak mengindahkan seruan sesepuh kalian?!

Seperti mahluk gila yang meracau sendirian, Tanya bercampur marahku tak dijawab siapapun. Mereka sibuk dengan urusan masing masing. Urusan membawa roti roti, menggali parit demi menemukan koin emas, dan urusan lainnya. Mereka sangat sibuk. Akan tetapi, setelah ku amati wajah mereka satu per satu. Mimik yang mereka kesankan hampir sama. Wajah tegang dengan tawa yang terpaksa menempel di atasnya. 

Karena keberadaanku diabaikan begitu saja, ku beranikan tangan untuk menyentuh salah satu dari mereka untuk ku tanyai. Seorang mahluk paruh baya dengan dua buah peti di atas kepalanya ku hadang dengan kedua tangan membentang menutupi akses jalan lapang. 

Hei pak tua, berhenti sebentar! Berikan aku jawaban atas apapun yang ku tanyakan dan kau akan ku beri sepuluh koin emas untuk hal ini, ucapku. 
Dia berhenti dengan segera sambil menaruh peti peti tadi ke atas tanah. 

Apa?! Ada apa anak muda?, ucapnya, lalu dia melanjutkan, jangan lupa dengan janjimu tadi setelah obrolan kita selesai!.Tentu!, jawabku yang juga ngegas.

Kenapa engkau masih berkeliaran sedangkan seorang sepuh memberimu mandat agar tetap mendiami goa?, kau tidak takut dengan desas desus bocornya tabir desa kita?, tanyaku.

Apa?, tabir desa kita bocor?, 

aku sama sekali tidak tahu menahu perihal itu, sekelilingku terlalu berisik sedangkan yang bisa aku lakukan hanyalah menyelamatkan kehidupan keluargaku. Dan satu satunya cara adalah apa yang tetap ku lakukan saat ini. Kau ada masalah dengan itu?!. 

Sesepuh itu?, dia kami hormati sebagai orang terhormat, tapi ucapannya tidak mampu membuat tangis anakku yang lapar terhenti karenanya. 
Jadi ya begini lah, hanya ini yang bisa ku lakukan. Sudah selesai? Aku tak punya banyak waktu, sebentar lagi malam. Dan jangan lupa soal sepuluh koinnya. Ia menjawab dengan cepat dan di setiap kata sebelum jeda selalu ada penekanan emosi yang dia sisipkan, tangannya menengadah dan ku lakukan kewajibanku. Lalu dia pak tua itu pergi. 

Belum jauh kakiku berkeliling tapi sepertinya mulut ini enggan lagi untuk bertanya seperti tadi. Ku kira hasilnya akan mirip mirip. 

Dari kejauhan ku lihat sebatang pohon ceri yang teduh, punggungku bersandar pada tubuhnya lalu merenungi dua jawaban dari kedua orang tadi. 

Kemudian berandai andai jikalau lubang di tabir itu kian membesar dan akhirnya udara luar berhasil merasuki seluruh isi kampung, nasib buruk seperti apakah yang akan terjadi?. 

Terlebih bila seorang sepuh itu hanya memberikan kalimat kalimat manis yang fungsinya tak lebih berguna dibanding potongan jeruk di atas gelas jus. Hanya garnis saja.

Bila mahluk mengerikan itu berhasil mengekspansi ruang jarahannya di desa kami, hal buruk apa yang akan melanda?, 

sedangkan saat ini kami terbagi menjadi beberapa kubu. Kubu yang mampu membangun tembok baja tinggi, kubu yang terafiliasi dengan seorang sepuh itu, kubu para penyihir dan ksatria yang sibuk menemukan ramuan pembunuh musuh, dan kubu rakyat jelata yang mana aku turut di dalamnya.

Pengetahuanku atas ketiga kubu yang lain sangat awam sehingga mereka hanya ku doakan dan tak terlalu merisaukan nasib mereka. 
Akan tetapi dengan kubuku sendiri, aku melihat potensi letupan letupan kecil di antara sesama kami.
Apabila tabir tidak lagi berfungsi dan musuh berhasil membuat layu apapun yang dilewati, itu berarti desa kami akan resmi terisolir, dan mau tidak mau seluruh mahluk yang mendiami desa akan kembali mendekam di dalam goa hingga waktu yang belum bisa ditentukan.

Yang paling sial dengan hal ini tentu saja kubu kami yang tidak cukup punya daya untuk menimbun berkarung karung roti gandum, daging, air, dan juga akses ghaib penembus ruang tadi. 
Dan apabila seorang sepuh tidak mau memberikan kami keringanan tangannya untuk menyuapi perut perut kami, entah bagaimana lagi jalan yang akan kami tempuh. 

Bisa saja kami menyerahkan jiwa kami secara Cuma Cuma pada musuh tak terlihat itu, atau yang lebih tragis, kami akan mati akibat perseteruan kami sendiri, saling berebut roti, daging, dan air, terlebih jika goa kami akhirnya runtuh oleh terkaman mahluk jahat itu, dengan terpaksa kami akan menjarah goa goa tetangga kami dengan segala konsekuensi.

Langit mulai redup meninggalkan sinaran oranye pada penutupnya. 
Tubuhku beranjak, berdiri melihat lalu lalang yang kian sepi. 
Kemudian memanjatkan harap pada dewa perang agar dia melindungi kami dari terpaan musuh yang tidak mampu kami lihat, dan juga agar kami tidak dirasuki oleh Angkara pada masing masing raga kami.

Angkara itu mahluk kuno serupa jin yang paling menakutkan, konon di suatu zaman, puluhan ribu mahluk tewas dengan tawa dan kesadaran yang menghilang, mereka memakan satu sama lain hingga memakan tubuh mereka sendiri sampai lenyap tak bersisa sebercak darah pun.

Aku sangat berharap Angkara bukanlah salah satu dari musuh tak terlihat kami. Eh, Tapi… sebentar!! 

Ataukah mungkin yang melubangi tabir tempo hari itu adalah angkara? Karena dari dongeng yang ku dengar dari kakek nenek, tabir desa kami hanya mampu ditembus oleh kekuatan mahluk mahluk kuno. Sedangkan mahluk mahluk kuno semuanya memiliki bentuk. 

Jadi siapa sebenarnya musuh kami? 

Apa mungkin Angkara berubah bentuknya, berevolusi menuruti zaman? 
Ataukah musuh kami diam diam membangun hubungan gelap dengan mahluk kuno itu sehingga mereka bisa saling membantu? Atau mungkin musuh kami saat ini adalah anak hasil hubungan itu sehingga dia memiliki perpaduan kekuatan kekuatan jahat mereka? 
Siapa atau apapun itu, 
Kalau memang iya, maka kami habislah sudah.

Tuesday, March 24, 2020

Menggema di Telinga


Pulas lepas
Benam rayumu
Begitu membekas
Bekas sentuhanmu
Bisik di telinga
Debar hangat dada kita
Dipasung lekat
Nyaman bersemedi
Dingin menderap hening
Wangi pagi hari
Jari jemari
Mangayun helai demi helai
Kasihmu
Meraba
Mendekati telinga
Namamu merenda namaku
Murka merona
Lekuk bibir
Seru mengambil
Halus gema air mata
Suka cita
Manusia
Bianglala

Tuesday, February 25, 2020

Air Beriak Tanda Tak Dalam. Air Menggenang, Kebanjiran.


Apabila ada malam penganugerahan kota terbaik dalam menjamu banjir kira kira kota mana saja yang akan masuk ke dalam nominasinya?

Beberapa dari kalian akan menyebutkan nama nama besar, tak terkecuali dengan nominee terkuatnya yaitu Jakarta.

Sependapat? Seharusnya iya, 
karena, topik banjir di DKI Jakarta akan menjadi tajuk utama paling tidak satu atau dua kali dalam setahun. 

Sudah seperti agenda rutin yang sulit untuk dihindari. Malah mungkin warga di sana sudah sangat terbiasa dengan hal itu.

Saya teringat hidup di daerah mampang prapatan di era antara 1997 hingga 1999, tahun pastinya saya lupa. Saat masih bersekolah dasar dan tinggal di sana saya dan keluarga disambanginya beberapa kali. Rumah kami terendam hampir sedengkul, orang tua saya sibuk mengangkat barang barang ke tempat yang lebih tinggi, terlebih dokumen penting seperti akte dan ijazah, itu jadi prioritas utama. Sedangkan saya yang masih kecil hanya merasa senang karena bermain air, walau ujung ujungnya kena omel.

Sekian tahun berlalu, hingga kami pindah menyusuri sumatera dan jawa tengah. Banjir itu masih jadi masalah yang sama. Apabila intensitas hujan tinggi dalam waktu yang lama, masyarakat sudah pasti ketar ketir.

Ternyata banjir ini bukan tamu kemarin sore, bahkan ketika Jakarta belum bernama Jakarta dia sudah rutin menyambangi.

1 januari 1892 kala masih bernama Batavia, hujan deras mengguyur selama 8 jam yang mengakibatkan saluran saluran air tak mampu menampung limpahan yang akhirnya merendam rumah warga di sekitaran pasar minggu.

Setahun berselang, 1893 dia datang lagi, kali ini bukan hanya merendam pemukiman, akan tetapi juga melumpuhkan perekonomian. 

Batavia adalah dataran rendah yang elevasi maksimalnya tak lebih dari tujuh meter dpl. Di banyak tempat, bahkan ada yang berada di bawah permukaan laut.

Konsekuensinya adalah Batavia mau tak mau akan terus berhubungan gelap dengan banjir.

Berganti abad, masalah banjir pun tak kunjung hilang. Pada 19 februari 1909 banjir merendam sebagian besar wilayah Batavia. 
Harian de locomotief sampai mengkritik pemerintah dengan tulisan judul “Batavia onder water” atau Batavia di bawah air.

Singkatan itu menjadi popular karena kebetulan sama dengan singkatan kantor sarana prasarana pemerintah yang bernama Burgelijke den openbare, yang juga mengurusi pengairan.

Sejarah mencatat bahwa pihak yang paling awal mengupayakan penanggulangan banjir di Batavia adalah VOC di bawah Jan Pieterzen Coen. 

Upaya yang ditempuh adalah mencoba menjinakkan kali ciliwung yang dianggap sebagai penyebab banjir. Caranya dengan menyodet badan badan sungai. 
Sodetan sengaja dibuat menjadi kanal kanal atau terusan seperti di kota kota belanda.

Fungsinya, mereduksi beban debit air ciliwung. Kemudian Kanal kanal ini mengalirkan air dari hulu ke hilir di laut jawa.

Tapi banjir tetap saja terjadi karena banyak kanal mengalami pendangkalan. Endapan material yang dibawa air dari hulu lah penyebabnya, sehingga kanal tidak berfungsi.

Pada 1910, penanggulangan banjir menjadi salah satu program kerja terpenting pemerintahan kolonial, dengan menganggarkan 25ribu gulden untuk menanggulangi banjir di daerah jembatan lima, blandongan, dan klenteng.

Pemerintah juga mengadakan penelitian sehubungan meningkatnya penebangan hutan untuk perkebunan di daerah bogor dan sekitarnya.
Herman van breen, insinyur hidrologi ditunjuk untuk menyusun perencanaan pengairan di Batavia. Hingga akhir 1913 ada lima proyek utama yang disetujui pemerintah.

Yaitu : pembuatan pintu air matraman, pintu air gusti, normalisasi sunter, kanal banjir, dan saluran cideng.
Pada 1927 pemerintah kolonial mengeluarkan 288.292 gulden untuk membiayai delapan proyek. Pemerintahan saat itu lebih menekankan tindakan preventif, namun sialnya terbatas dalam pendanaan proyek.

Di masa pendudukan jepang, penanggulangan banjir terbengkalai.

Setelah merdeka, pemerintahan Indonesia sibuk dengan urusan mempertahankan kemerdekaan. Banjir hanya ditanggulangi masyarakat dengan cara cara yang bersifat temporal dan lokal.

Pada tahun 1972, departemen pekerjaan umum yang membawahi badan badan yg terkait dengan proyek pengendalian banjir Jakarta raya mengadakan usaha usaha untuk mencegah dan mengendalikan banjir di Jakarta serta mengadakan perbaikan pengaliran dan saluran, pembuatan tanggul, dll.

Pemerintah DKI sendiri hanya kebagian tanggung jawab mengurusi proyek mikro (nonstructural). Proyek makro (structural) berada di tangan pemerintah pusat.
Upaya dengan menggandeng pihak asing pun telah dilakukan. Hasilnya, waduk dalam kota serta saluran baru seperti saluran cengkareng dan saluran cakung.

Pada tahun 2000an pemerintah kembali mencoba menangani banjir dengan membangun kanal timur.
Model yg sebetulnya merupakan gagasan van breen di tahun 1923, disangsikan dan menuai kritik.

Selama hampir satu abad, ada dua cara yang ditempuh. Sistem makro dan sistem mikro.
Dalam sistem makro, pembangunan kanal dan sistem polder cenderung dipilih, tapi sistem kanal tidak efektif lantaran topografis Jakarta yang datar sehingga aliran air tak begitu kuat.

Selain itu sampah dan sendimentasi lumpur yang besar juga menghambat aliran air.
Sedangkan sistem polder terkendala oleh pemukiman penduduk. Aliran air ke polder jadi tak lancar.

Era jokowi ahok, upaya yang ditempuh diantaranya pelebaran dan pengerukan kali,sungai,waduk dengan alat berat. Kemudian di era ahok,dia menambahkan tanggul dan beberapa pompa untuk mengalirkan air sebelum banjir datang

Di era anis baswedan (saat ini) banjir besar melanda di hari pertama tahun 2020.

Presiden menyoroti mandeknya upaya normalisasi sungai sejak 2017 karena terhentinya pembebasan lahan di bantaran kali.

Normalisasi merupakan metode penyediaan alur sungai dengan kapasitas mencukupi  untuk menyalurkan air terutama saat curah hujan tinggi.

Salah satunya dengan melakukan pengerukan untuk memperlebar dan memperdalam sungai, yang kemudian dipasangi dinding turap untuk pengerasan dinding sungai, pembangungan sodetan dan tanggul.

Upaya ini juga dibantu oleh pemerintah pusat.
Curah hujan yang melebihi angka maksimal yg sewajarnya adalah 208 mm per hari menjadi dugaan awal penyebab banjir awal tahun ini.

Menurut ahli geospasial, bintang rahmat.
Ada dua kemungkinan, 1. Akibat perubahan iklim. 2. Adanya urban heat island atau perubahan iklim lokal.
“perubahan iklim lokal terjadi akibat udara panas yg terperangkap dalam hutan beton suatu wilayah, dalam hal ini kota. Sehingga lama kelamaan membentuk pola cuaca tertentu yg berubah menjadi iklim lokal. Namun itu baru perkiraan saja” ucapnya.

Pada banjir kali ini pula ,terdapat titik yg dibanjiri pada banjir sebelumnya namun kali ini malah tidak terdampak.
Menurut bintang, perlu identifikasi apakah hal ini banjir kiriman atau banjir lokal.
Lalu, setelah merunut kronologinya, beliau memberikan pendapat bahwa banjir di Jakarta pada awal tahun merupakan banjir lokal akibat curah hujan.

Dia juga menambahkan bahwa tak ada faktor tunggal penyebab banjir. Setidaknya ada beberapa faktor.
1. Minimnya resapan air di selatan Jakarta atau bagian hulu. Daerah hulu merupakan tempat efektif untuk menyerap air permukaan yg diakibatkan curah hujan tinggi. Jika air yg mengalir di permukaan bisa diserap,maka air yg turun ke hilir dapat berkurang. Permasalahannya saat ini semua run off dibuang di sungai
2. Drainase yang buruk di hilir. Seperti yg sudah diungkapkan di awal tadi. Jakarta merupakan bidang datar. Akan sulit bila mengandalkan kanal yg mengandalkan gravitasi. Di sisi lain, Jakarta hampir tak ada ruang terbuka biru atau tempat parkir air sebelum dialirkan ke laut.
Seharusnya tiap pemukiman diwajibkan  memiliki semacam kolam resistensi untuk menampung air dan dibikin sistemik melalui regulasi pemerintah 
3. Fenomena penurunan tanah atau land subsidence yg tersebar hampir di semua wilayah DKI Jakarta.

Sebenarnya sudah ada regulasi yg mengatur hal ini, yaitu pergub no 20 tahun 2013 tentang sumur resapan dan kepgub no 279 tahun 2018 tentang tim pengawasan terpadu penyediaan sumur resapan dan instalasi pengolahan air limbah serta pemanfaatan air tanah di bangunan gedung dan perumahan.

Namun sepertinya tak ada sanksi tegas bagi pemilik gedung yang melanggar. 

Hasil inspeksi tahun 2018, dari 80 gedung yg didata, hanya ada satu yang memenuhi ketentuan.
Kendati demikian, khusus pada banjir awal tahun kemarin, pompa yang ada tidak berjalan maksimal. Dari 450 pompa yang tersedia, yang beroperasi hanya 50. Pengoperasiannya pun terlambat. 400 pompa yang tak berfungsi itu dikarenakan rusak hingga tidak ada bahan bakar.

Jakarta sejatinya merupakan daerah rawa, namun seiring bertambahnya manusia dan perkembangan pembangunan, rawa rawa tadi berubah tampilan menjadi pemukiman dan gedung tinggi.

Pemprov DKI menunjukan sebuah peta bahwa saat ini 90 persen lahan DKI sudah dibeton.

Tahun 2004 hingga 2006, Agung podomoro grup secara agresif membangun 12 apartemen di kawasan barat, pusat, selatan, & utara Jakarta.
Saat ini total apartemen di Jakarta mencapai 234 apartemen yang tentunya secara masif menyedot air tanah dan berperan mempercepat penurunan tanah.

Rencana tata ruang wilayah DKI setiap dekade semakin menguning.
Dalam upaya pengembalian fungsi, pemprov bisa mengembalikan fungsi lahan pada gedung gedung yang HGB nya akan segera habis.

Tapi, berdasarkan data yang saya kutip dari berbagai ulasan media online tersebut, apa yang terlintas di benakmu? 
Semudah itu kah mengaplikasikan berbagai usulan usulan teoritis para ahli ini? 
Saya rasa akan berat. Kenapa? 

Sekadar opini pribadi, banjir jakarta menurut saya adalah permasalahan sistematis yang bukan hanya berurusan dengan tata kelola kota dan sistem pengairan, akan tetapi juga sudah melibatkan urusan sosial ekonomi hukum serta politik. 

Pada point “tahun 2017 upaya normalisasi terkendala karena urusan pembebasan lahan”. 

Bisa jadi ini dipengaruhi urusan politik. Janji politik gubernur saat ini yang menghindari istilah penggusuran yang sebelumnya galak disuarakan oleh gubernur sebelumnya. Belum lagi soal proyek rumah susun atau rumah dp nol rupiah untuk menampung warga warga yang akan terdampak penggusuran. 

Tidak semudah itu untuk memindahkan suatu kelompok masyarakat yang sudah mendiami tempat cukup lama di daerah tertentu untuk pindah ke tempat yang baru, apalagi dengan model rumah bersusun. 

Sebagian orang takut kehilangan hak lahan ataupun mata pencahariannya dalam berdagang. 

Jakarta yang padat tidak hanya diisi orang orang kelas bawah, tapi ada sebagian yang bernasib lebih beruntung. Di mana kelas masyarakat ini bisa memilih dimana ia tinggal tanpa harus khawatir akan tergusur demi pembangunan. 

Kasus yang baru baru ini adalah unjuk rasa yang dilakukan beberapa kelompok masyarakat jakarta timur (cakung) kepada pengelola Jakarta garden city. 
Mereka mengamuk di depan mall aeon JGC. Dari pantauan yang terlihat terjadi kerusakan bangunan di sana. 

Mereka mengeluhkan pembangunan tanggul yang pihak JGC lakukan karena dianggap karena hal itulah pemukiman mereka kini terkena banjir. 

Apakah secara tidak langsung kita diperlihatkan gesekan kelas sosial lewat musibah banjir? 

Kelas sosial yang merasa dirugikan akan mudah sekali terbakar emosinya sehingga tak jarang ucapan bahkan makian berbau rasisme terlempar kembali. 

Ujung ujungnya konflik sara dan agama menjadi hilir segala perkara. 

Ataukah memang, luka akan sentimen itu tak akan pernah hilang. Hanya terkubur ketika langit kembali cerah, dan kembali membakar saat mendung datang?. 

Yang tak kalah panas adalah perihal kepemimpinan gubernur saat ini. 

POLITIS. 

Lagi lagi, menurut opini saya. Dendam akan hal itu tidak akan hilang sampai beliau lengser bahkan dipidana. Atau paling tidak menghilang dari daftar nama kuat di bursa capres. Mengerikan!.

Lalu, bila Jakarta yang sesak dan selalu rutin terkena banjir ini terkesan mengerikan. Kenapa setiap tahun jumlah penduduknya selalu bertambah?.

Daya pikat mengubah nasib jadi lebih baik? Mungkin.

Tapi, apakah sumber peluang hanya ada di jakarta? 

Apakah kita harus mengaitkan hal ini pada pembangunan ekonomi yang tidak merata? Bisa jadi, tapi lain hari ya. 

Yang jelas, urusan banjir DKI Jakarta ini melingkupi banyak aspek. Aspek sosial, ekonomi, politik, hukum, tata ruang, dll. Perlu kajian mendalam untuk mengerti kenapa musibah ini masih terus terjadi. Menyalahkan pemangku kepemimpinan daerah hanya secuil opsi yang dampaknya tak lebih baik dari membandingkan bubur ayam diaduk dan tidak diaduk. 

Karena sejauh ini siapapun gubernurnya, jakarta selalu digerayangi banjir. 

Seperti point di atas, urusan banjir bahka sudah ada sejak Jakarta belum bernama Jakarta. 

Dan memperdebatkan urusan politik di momen saat ini hanya akan memperparah gesekan sosial & tak memberikan solusi apapun bagi korban di kelas sosial bawah. Kelas sosial yang sangat rentan saat musibah banjir ini. 

Terlebih bagi runtukan rengginang yang hanya mendapat sodoran informasi bias dari media sosial tanpa mau untuk mengulik lebih dalam dari buku atau tulisan ilmiah ahli terkait. Kita tak pantas memperparah suasana ini dengan saling sindir dan terus terusan jadi komoditas politik kalangan parpol. 

Kalau masing masing dari kita tak mau berubah. Tak mau berpikir.  Perjalanan menuju 2024 dan seterusnya akan lebih memuakkan dari kemarin. 


(data dikutip dari Historia.id, Harian Kompas, & Tirto id) 







Thursday, February 6, 2020

Doa Kelahiran

Semoga kau dihindarkan dari orang orang tamak
Yang tak sedikitpun memberikanmu duka
Kemudian mengokohkan keangkuhanmu mempercantik dunia
Retak ranting yang tertancap menahun
Lama tak tergenggam walau terkadang dia rindu.
Dari mana ku tahu?
Malam itu daun daun kecilnya mengetuk
Di hentakan ketiga dia berhenti walau diriku sama
Ku berhenti mengabaikan upayanya
Jendela pun terbuka
Cerita panjang tak putus hingga butir air membasahi wajah dedaunannya subuh tadi
Lalu dia pergi
Aku hanya mendengarkan, tapi dalam hati..
Ku amini serta permohonan permohonannya

Thursday, January 30, 2020

Jawa Sepenuhnya

Semakin tua aku merasa semakin jawa
Obsesiku atas penguasaan terpupuk jadi
Kuasa atas lahan, kehormatan, ataupun orang
Roh roh halus dengan kasar menarik daun telinga
Raja raja kecil itu mengajakku bergabung dengannya

Monday, January 20, 2020

MEMENUHI KEKOSONGAN

Aku tidak lagi mengerti apapun yang ia bicarakan
Segala suara terdengar asing kendati rayu mesra kasih melanda

Membohonginya adalah bagian terbaikku
dan tak pernah gagal

Memberi sebagian telinga, waktu, dan kehadiran cukup mengelabuhinya dari kebingungan yang menderaku.

Dengan nyaman dan menerus, memberiku jeda jeda rapat yang mustahil ku isi dengan tangisanku sendiri

Karena alasan

Alasan apa yang jadi alasanku memberinya tangisan? Aku tak tau

"menemanimu kendati kekosongan memenuhiku tak ada ruginya, aku senang membuatmu tenang" 

Lagunya Mati

Di bar, di kafe, di karaoke
Orang orang bernyanyi
Yang tak berarti selain kesepian
atau menuntaskan kewajiban

Sunday, January 12, 2020

Si Anak Pindahan

Di suatu siang, terik menusuk nusuk kulit, keringet keluar dari pori pori bikin bau parfum berubah agak asem, aku iseng aja mangkal di burjo. Bisa dibilang burjo itu tempat ternyaman buat duduk gabut aja gitu, mau cuma sambil minum, ngeroko, apa sekalian makan mie. Mungkin, kebiasaan ini kebawa dari jaman kuliah dulu, saking seringnya nongkrong di burjo waktu itu sampe akrab banget sama mamang mamang burjonya. Malah jadi kaya temen deket juga sampe  bisa tukeran unek unek. Dan sudah tentu juga sampe ngutang makan minum rokok juga, hehe.

Mulai dari situ, kalo lagi bingung mau kemana atau kalo lagi males belom mau pulang mampir dulu ke burjo. Pesen minuman sama rokok batangan. Sangat beda rasanya memang, karna dulu kalo ke burjo sama temen temen, terus juga udah kenal sama mamangnya, tapi sekarang lebih sering sendirian dan gak ngobrol sama yang jaga burjo. Secara burjo di mana mana ada dan desain ruangannya mirip mirip, jadi rasa nostalgianya dapet, mirip kaya burjo di kampus dulu.

Sekarang burjo itu jadi tempat berdiam. Semacem refleksi atau relaksasi atau apa itu namanya. Hehe. Minum es kopi seteguk, liatin sekitar, kadang juga ga sengaja nguping obrolan orang. Jadi kaya ngeliat diri sendiri di masa lalu. Gemana asiknya ngobrol bareng temen, becanda becanda sampe ketawa ngakak ga peduli sama orang lain karena lucu dan nyaman banget obrolannya. Uh! Ngangenin.

Ngeliat mahasiswa mahasiswi lalu lalang, makan, baca buku, ngobrolin tugas sama penelitian, ngeghibah dosen dosen bangke, muji muji dosen cakep, dan segala macemnya. Selain itu, kadang juga ngeliat orang orang jualan, anak anak sekolah yang keliatan masih lebih polos dan asik dibanding mahasiswa mahasiswa tadi. Lucu, ya itu tadi. Jadi kaya ngelihat diri sendiri di masa lalu.

Masa masa sekolah itu cukup berwarna ya (cie gitu!). Dan emang kebetulan sering pindah sekolah waktu kecil. Awalnya di jakarta dari tk sampe sd kelas 2, terus pindah ke purwokerto setaun, terus lanjut lagi ke air tiris, riau. Setelah 2 taun di sana balik lagi ke kampung (purwokerto) sampe sekarang sebelum merantau lagi ke semarang.

Dalam keadaan itu, aku ngerasain banyak hal di tiap tempat tempat tadi. Ya tempatnya, orang orangnya, budayanya, istilah mengumpatnya, gaya pendidikan dan levelnya. Strata atau hierarki itu nyata men!.
Terbiasa di ibu kota dengan temen temen dari latar orang menengah ke atas lalu tiba tiba harus pindah ke kampung ngebuat aku ngerasa jadi superpower sendiri. Seolah olah jadi anak yang serba bisa dan tau semuanya. Nilai nilai jadi paling bagus, tiba tiba juara kelas, jadi perhatian guru guru dan anak cewek. Serasa hebat pokoknya.

Hal kaya gitu berulang lagi saat aku pindah ke air tiris. Inget banget tuh momen gini. Jadi, kalo di air tiris itu setiap kenaikan kelas / pembagian raport yang dapet rangking 1 di tiap kelas itu dipanggil maju sama kepala sekolah pas upacara. Lalu juara juara kelas ini dikasih hadiah yang isinya alat tulis dan di depan anak anak, kepala sekolah membaiat kami sebagai sosok yang harus dicontoh oleh setiap anak yang di sana. Enak banget rasanya waktu itu, sempet juga digodain cewek cewek yang ternyata anaknya kepala sekolah tadi dengan cara dipuji puji waktu jalan lewat, padahal ga kenal. Aku cuma senyum, malu. 

Itu tadi enaknya. Gak enaknya? Salah satunya soal adaptasi dan masalah komunikasi. Aku dari kecil selalu pake bahasa indonesia, lalu pas pindah ke jawa, temen temen semua pake bahasa jawa banyumasan yang mana waktu itu ga ngerti sama sekali. Tapi gak terlalu jadi soal karena mereka pun dikit dikit tau bahasa Indonesia. Nah yang paling ekstrim adalah waktu di air tiris, riau. 

Waktu itu gap antara aku "si anak pindahan" sama temen temen di air tiris lebih jauh daripada sama temen temen di kampung (Purwokerto). Terutama dari soal bahasa. Masih banyak anak anak di air tiris yang belom bisa berbahasa indonesia. Aku inget banget sampe sekarang, di suatu momen istirahat aku tiba tiba didatengin anak kelas lain yang ga aku kenal. Ucapannya yang masih keinget tuh kurang lebih gini, dalam bahasa indonesia ya, "ngapainlah kamu ke sini! Pake pake bahasa indonesia segala, gak laku bahasa Indonesia di sini, balik aja kamu sana kalo ga bisa bahasa sini!". Kurang lebih gitu. Hehe.

Bahkan saking seringnya tiba tiba diejek & dikerjain di sana, aku sampe lupa udah berapa kali diajak berantem. Hmmm. 
Selain soal komunikasi, mungkin saat itu aku dianggap anak yang sok pintar karena selalu bisa jawab pertanyaan guru guru. Bahkan, aku inget nih. Dulu aku satu satunya anak yang tau singkatan RT, RW, dan pengetahuan basic lainnya, termasuk apal pancasila. Di momen itu aku ngerasain suatu perasaan baru. Ternyata enak ya kalo pintar. Karena setelah aku bisa menjawab pertanyaan pertanyaan guru dengan tepat, mayoritas anak kelas bersimpati dan pengen dekat denganku. Dan juga untuk pertama kalinya aku merasakan enaknya jadi terkenal. Hehe

Tapi, yang paling fatal ketika untuk pertama kalinya aku berurusan lebih serius dengan anak anak lain sampe melibatkan kepala sekolah. Kalo inget hal ini bikin merasa bersalah karena gara gara aku tiga orang anak dikeluarin dari sekolah.
Masalah ga kelar sampe di situ, karena setelah anak anak ini dikeluarin dan pindah sekolahan, mereka sesekali menyebar teror dengan tiba tiba dateng ke sekolah dengan gestur preman dan ramai sambil diiringi sorakan anak anak lain terus bilang bilang ke temen lain, "mana faiz?! Mana faiz?!". Itu salah satu masa terkelamku. Lebih detilnya nanti ku tulis terpisah aja kronologinya.

Walau sering dibully bukan berarti aku ga punya teman. Mungkin dari dulu aku orangnya kaku, tapi paling enggak selalu punya teman dekat, satu, dua, atau tiga. Mereka selalu jadi temen bercerita apapun, termasuk soal cinta cintaan. Btw dari sd aku udah ngerti rasanya suka sama cewek, nulis surat cinta, bayar orang buat ngasih suratnya dan ditolak hehe. Nanti ku tulis di lain halaman. 

Gitu aja sih, aku pengen ngomong banyak soal ini, baik soal bully ataupun pendidikan di daerah, gak terkecuali dengan cerita recehnya tadi. Sehat selalu dan tetap semangat!. 

Bersambung.. 

Thursday, January 9, 2020

Memparipurnakan Cerita

Emangnya waktu itu kamu pernah nanya?, jawabnya setelah bertahun tahun kami tak saling tegur sapa. Jawaban yang bukan hanya membuat aku terdiam tapi juga berpikir sebentar, dalam hati bilang, iya juga ya.. Aku belum pernah menanyakan jawaban itu. Saat itu, yang aku lakukan hanya secepat mungkin mengambil kesimpulan tanpa memperhatikan sudut pandang orang lain.
Sampai datangnya hari ini, ternyata apa yang dulu ku anggap benar menjadi keliru.

Lalu kami larut dalam cerita cerita lama, menertawai, dan berandai andai kalau saja saat itu jalan yang kami tempuh berbeda mungkin saja hari ini kami masih sama sama. Berandai andai memang manis, tapi berbahaya. Haha

Di sela sela cerita masa lalu kami saling menanyakan tentang hari ini, sudah sejauh mana berjalan, seberapa luas berkembang, dan tetek bengek lainnya termasuk urusan berat badan & destinasi liburan. Tak jarang kami pangling satu sama lain. Celetukan semacam "setauku kamu dulu gini deh, ya ampun beda banget sama yang dulu, dll" muncul menjadi bumbu rempah penghangat obrolan.

Sesekali aku menunjukan foto foto lama dari laptopku, membuat basa basi dengan bertanya "kamu inget gak ini momen apa?", kemudian melihat dirinya memperhatikan foto itu sambil bersikeras mengingat ingat adalah bagian paling menggemaskan.
Hmmm apa yaa, aku inget tapi samar, jawabnya sambil memasang muka bloon penasaran.
Dalam hati aku sedikit kecewa ternyata kekuatannya menjaga kenangan kami tidak setangguh diriku. Aku bahkan masih ingat detil detil seperti itu hari apa dan jam berapa, tapi dia tidak. Tapi ya udahlah ya.. Long term memory orang beda beda, hehe.

"itu jumat malam, kita berangkat gerimis gerimis jam tujuh malem, di jalan kita kebingungan mau kemana, lalu asal berhenti di tempat makan yang ternyata ga enak", ucapku. Dia pun tertawa seolah olang pintu ingatannya terbuka seketika. Obrolan kami memanjang menertawakan foto foto ini. Sungguh mengasyikkan.

Sampai di suatu menit celetuk meletup dari mulutku, "kok kita ga bisa sama sama ya?". Emangnya waktu itu kamu pernah nanya?, jawabnya. Sorot matanya seperti menagih janji dari bibirku, sungguh manis dan menggoda. Sedangkan diam membungkamku yang berpikir kenapa waktu itu terlalu takut untuk menanyakan pertanyaan itu.
Iya kan? Kamu ga pernah serius buat nanya, masa aku tiba tiba jawab?, ucapnya lagi.

Seperti sudah menemukan titik rebahan ternyaman, dia langsung nyerocos panjang menghakimiku. "aku tau kamu kecewa, kamu pikir aku enggak?, aku nunggu tapi kamu datang menggandeng orang lain dengan santainya, kamu emang selalu datang di saat yang salah".
Aku pikir foto foto itu menjadi tombol switch dari obrolan hangat menjadi dingin. Kata kataku habis, yang bisa ku lakukan adalah mendengarkan suaranya dengan muka teduh & mematung.

Mungkin karena sudah puas atau nelangsa melihatku bisu, tiba tiba dia menepuk pahaku. By the way kami duduk bersebelahan.

"aku juga nunggu", ucapku.
Ternyata kami saling tunggu tanpa berani untuk jujur. Seolah tak ada yang berani untuk berjuang, hanya memupuk rindu, melihat dari jauh, lalu saling menyimpulkan tanpa berani menanyakan hal sebenarnya.
Seandainya aku mau sedikit lagi memberanikan diri mungkin jalan ceritanya akan berbeda kini. Tapi belum tentu juga, siapa yang tau?

Kami mengakhiri obrolan dan pulang ke rumah dengan rasa puas. Tak ada obrolan lagi setelahnya karena kami sudah hidup dengan wadahnya masing masing, dan kami saling menghormati cerita baru yang tlah lahir.