Sebuah kumpulan mahluk hidup yang terkurung oleh tabir tipis atas dasar rasa takut, ketidaktahuan akan bentuk musuh yang dihadapi serta kekuatan kekuatan apa saja yang dia miliki.Belum lagi perihal item senjata mana yang paling ampuh untuk membunuh musuh tadi belum juga ditemukan.
Kumpulan mahluk tadi bersembunyi dari apa yang tidak sepenuhnya mereka mengerti. Hanya dengan berbekal desas desus selayak dongeng malam hari yang mengantarkan mereka pada mimpi buruk, mimpi buruk yang menyebabkan tubuh masing masing dari mereka merasakan hawa tidak segar dan semangat hidup yang kian menipis.
Salah seorang yang dituakan di antara mereka berkata untuk tetap mendiami goa goa tempat biasa mereka merebahkan diri ketika lelah. Tanpa adanya uluran tangan lain, hanya kata kata manis pembuka dongeng negeri peri. Sebagian dari kumpulan mahluk tadi berkerumun, mempergunjingkan apa yang sedang dirahasiakan dari mereka, sebagian lagi berusaha mempertahankan kelangsungan hidupnya dengan menimbun berbagai kantong dan peti berisi koin emas, roti roti besar, serta daging dari ternak mereka maupun ternak orang lain.
Semula semuanya berjalan biasa, namun lambat laun mereka memburu satu sama lain. Berebut menjadi yang tercepat mengoleksi isi kantong dan peti tadi. Siapa cepat dia dapat!, mendapatkan peluang hidup yang lebih panjang.
Tabir tipis yang baru beberapa hari dibangun itu entah bagaimana ceritanya telah berlubang sebesar lubang jarum jahit. Dari lubang itu bau udara yang sebenarnya mampu dicium beberapa dari kumpulan mahluk tadi. Ada yang tiba tiba lari terbirit birit sambil berteriak agar segera mungkin lubang itu ditambal, ada yang diam diam membuat pengamanan ekstra, membentengi keluarga masing masing dengan tembok tembok baja nan tinggi yang di salah satu sudutnya tertulis “previlise kaum berada”.
Sebagian mahluk yang mampu membangun tembok baja nan tinggi tadi tampak tenang walau di raut wajah mereka kegelisahan akan masa depan juga jelas terbaca. Satu satunya kutukan yang tidak mampu mereka hindari hanyalah digerayangi rasa bosan.
Di suatu hari, salah satu dari mereka mendatangiku untuk sekadar bertamu, coba bayangkan apa yang hendak dia ceritakan padaku?.
Rasa bosan ini sungguh mengiris iris gerak kakiku yang cekatan, aku hampir mati tertidur dibuatnya, ucapnya dengan penuh kegundahan.
Lalu aku balik bertanya, Bagaimana dengan perut perut keluargamu?. Kami sudah memborong segalanya, roti gandum kelas satu, daging daging empuk Australia, dan yang terpenting adalah akses ghaib penembus ruang, jawabnya. Seketika mulutku melontar kata, Akses ghaib penembus ruang?, apa itu?. Akses ghaib penembus ruang adalah selembar kertas yang berisi mantra mantra, yang barang siapa memiliki itu akan mampu berkelana kemana saja, dimana saja, melakukan apa saja walau hanya berdiam diri di dalam goa, lanjutnya lagi.
Jadi, hanya dari dalam goa kau bisa melakukan segalanya?, bagaimana dengan membeli zirah, kau mampu?, tanyaku. Tentu saja, jawabnya lantang lalu melanjutkan, nanti ada orang dari kerajaan yang akan mengantarkannya padaku, tinggal ku ucap keinginan dalam hati, lalu semuanya terwujud.
Tak lama kemudian orang itu pamit untuk pulang. Sebagai imbalan karena sudah meluangkan waktu untuk mendengarkan ceritanya, dia meninggalkanku beberapa koin emas dan potongan roti autralia yang dia punya. Tapi ketika dia sudah tidak ada aku baru sadar bahwa aku lupa menanyakan perihal akses ghaib penembus ruang yang dia ceritakan. Aku ingin sekali mendapatkan selebar kertas mantra itu. Aku juga ingin hidup enak walau di dalam goa.
Karena kebosanan melanda begitu kencang, terlebih rasa penasaranku soal akses ghaib itu juga makin membuncah, aku putuskan untuk keluar dari goa. Ku tinggalkan keluargaku yang sedang pulas tertidur di depan meja makan.
Baru beberapa langkah ku pijaki, tanah tanah lapang ternyata ramai lalu lalang mahluk mahluk lain. Pikirku, bukankah ini hari lain, kenapa masih serupa hari biasanya?!.
Penasaran bercampur geram menyulut mulutku melontarkan teriakan sekali lagi.
Hei!! Hei!!, mahluk buta lagi tuli.. kenapa kalian begitu berisik dan menyesaki tanah lapang ini?!, kalian tak mengindahkan seruan sesepuh kalian?!
Seperti mahluk gila yang meracau sendirian, Tanya bercampur marahku tak dijawab siapapun. Mereka sibuk dengan urusan masing masing. Urusan membawa roti roti, menggali parit demi menemukan koin emas, dan urusan lainnya. Mereka sangat sibuk. Akan tetapi, setelah ku amati wajah mereka satu per satu. Mimik yang mereka kesankan hampir sama. Wajah tegang dengan tawa yang terpaksa menempel di atasnya.
Karena keberadaanku diabaikan begitu saja, ku beranikan tangan untuk menyentuh salah satu dari mereka untuk ku tanyai. Seorang mahluk paruh baya dengan dua buah peti di atas kepalanya ku hadang dengan kedua tangan membentang menutupi akses jalan lapang.
Hei pak tua, berhenti sebentar! Berikan aku jawaban atas apapun yang ku tanyakan dan kau akan ku beri sepuluh koin emas untuk hal ini, ucapku.
Dia berhenti dengan segera sambil menaruh peti peti tadi ke atas tanah.
Apa?! Ada apa anak muda?, ucapnya, lalu dia melanjutkan, jangan lupa dengan janjimu tadi setelah obrolan kita selesai!.Tentu!, jawabku yang juga ngegas.
Kenapa engkau masih berkeliaran sedangkan seorang sepuh memberimu mandat agar tetap mendiami goa?, kau tidak takut dengan desas desus bocornya tabir desa kita?, tanyaku.
Apa?, tabir desa kita bocor?,
aku sama sekali tidak tahu menahu perihal itu, sekelilingku terlalu berisik sedangkan yang bisa aku lakukan hanyalah menyelamatkan kehidupan keluargaku. Dan satu satunya cara adalah apa yang tetap ku lakukan saat ini. Kau ada masalah dengan itu?!.
Sesepuh itu?, dia kami hormati sebagai orang terhormat, tapi ucapannya tidak mampu membuat tangis anakku yang lapar terhenti karenanya.
Jadi ya begini lah, hanya ini yang bisa ku lakukan. Sudah selesai? Aku tak punya banyak waktu, sebentar lagi malam. Dan jangan lupa soal sepuluh koinnya. Ia menjawab dengan cepat dan di setiap kata sebelum jeda selalu ada penekanan emosi yang dia sisipkan, tangannya menengadah dan ku lakukan kewajibanku. Lalu dia pak tua itu pergi.
Belum jauh kakiku berkeliling tapi sepertinya mulut ini enggan lagi untuk bertanya seperti tadi. Ku kira hasilnya akan mirip mirip.
Dari kejauhan ku lihat sebatang pohon ceri yang teduh, punggungku bersandar pada tubuhnya lalu merenungi dua jawaban dari kedua orang tadi.
Kemudian berandai andai jikalau lubang di tabir itu kian membesar dan akhirnya udara luar berhasil merasuki seluruh isi kampung, nasib buruk seperti apakah yang akan terjadi?.
Terlebih bila seorang sepuh itu hanya memberikan kalimat kalimat manis yang fungsinya tak lebih berguna dibanding potongan jeruk di atas gelas jus. Hanya garnis saja.
Bila mahluk mengerikan itu berhasil mengekspansi ruang jarahannya di desa kami, hal buruk apa yang akan melanda?,
sedangkan saat ini kami terbagi menjadi beberapa kubu. Kubu yang mampu membangun tembok baja tinggi, kubu yang terafiliasi dengan seorang sepuh itu, kubu para penyihir dan ksatria yang sibuk menemukan ramuan pembunuh musuh, dan kubu rakyat jelata yang mana aku turut di dalamnya.
Pengetahuanku atas ketiga kubu yang lain sangat awam sehingga mereka hanya ku doakan dan tak terlalu merisaukan nasib mereka.
Akan tetapi dengan kubuku sendiri, aku melihat potensi letupan letupan kecil di antara sesama kami.
Apabila tabir tidak lagi berfungsi dan musuh berhasil membuat layu apapun yang dilewati, itu berarti desa kami akan resmi terisolir, dan mau tidak mau seluruh mahluk yang mendiami desa akan kembali mendekam di dalam goa hingga waktu yang belum bisa ditentukan.
Yang paling sial dengan hal ini tentu saja kubu kami yang tidak cukup punya daya untuk menimbun berkarung karung roti gandum, daging, air, dan juga akses ghaib penembus ruang tadi.
Dan apabila seorang sepuh tidak mau memberikan kami keringanan tangannya untuk menyuapi perut perut kami, entah bagaimana lagi jalan yang akan kami tempuh.
Bisa saja kami menyerahkan jiwa kami secara Cuma Cuma pada musuh tak terlihat itu, atau yang lebih tragis, kami akan mati akibat perseteruan kami sendiri, saling berebut roti, daging, dan air, terlebih jika goa kami akhirnya runtuh oleh terkaman mahluk jahat itu, dengan terpaksa kami akan menjarah goa goa tetangga kami dengan segala konsekuensi.
Langit mulai redup meninggalkan sinaran oranye pada penutupnya.
Tubuhku beranjak, berdiri melihat lalu lalang yang kian sepi.
Kemudian memanjatkan harap pada dewa perang agar dia melindungi kami dari terpaan musuh yang tidak mampu kami lihat, dan juga agar kami tidak dirasuki oleh Angkara pada masing masing raga kami.
Angkara itu mahluk kuno serupa jin yang paling menakutkan, konon di suatu zaman, puluhan ribu mahluk tewas dengan tawa dan kesadaran yang menghilang, mereka memakan satu sama lain hingga memakan tubuh mereka sendiri sampai lenyap tak bersisa sebercak darah pun.
Aku sangat berharap Angkara bukanlah salah satu dari musuh tak terlihat kami. Eh, Tapi… sebentar!!
Ataukah mungkin yang melubangi tabir tempo hari itu adalah angkara? Karena dari dongeng yang ku dengar dari kakek nenek, tabir desa kami hanya mampu ditembus oleh kekuatan mahluk mahluk kuno. Sedangkan mahluk mahluk kuno semuanya memiliki bentuk.
Jadi siapa sebenarnya musuh kami?
Apa mungkin Angkara berubah bentuknya, berevolusi menuruti zaman?
Ataukah musuh kami diam diam membangun hubungan gelap dengan mahluk kuno itu sehingga mereka bisa saling membantu? Atau mungkin musuh kami saat ini adalah anak hasil hubungan itu sehingga dia memiliki perpaduan kekuatan kekuatan jahat mereka?
Siapa atau apapun itu,
Kalau memang iya, maka kami habislah sudah.
No comments:
Post a Comment
welcome kids