Thursday, December 14, 2017

Urita dari Suwarnadwipa

Yaksa mengetuk
Sedari tadi mengerang
Pintu itu tak juga terbuka
Padahal ada pesan yang dibawa
Untuk penghuni yang larut dalam roman berdua

Garis tinta tlah tertulis
Di atas kertas yang mengering
Dalam lembaran suratnya berakhir

Ia berjalan menuju sempurnanya hidup
Bertolak, berpindah
Melewati kematian

Yang dimabuk cinta akan tuli dan buta
Yang dirundung rindu tak akan lagi malu malu
Dan yang bersedih kan mencari tempat tuk slalu mengeluh.

Yaksa telah lelah mendampingi
Sedangkan kini penghuni tak lagi peduli
Sehingga ia letakkan saja pesan itu
Di atas lantai tepat sela sela badan pintu
Pergi tanpa kembali
Tanpa temu tuk terakhir kali

Penghuni meradang
Karena ketika pintu ia buka tiada satupun orang
Ditambah lagi roman tak lagi berdua, pecah dan terbelah

Dipanggilnya Yaksa
Dipanggilnya penuh tanda seru
Dalam gelap hari yang makin menjadi
Dirinya remuk diserang sepi
Dan Yaksa tak lagi menemani
Pesan yang terinjak kaki diambil perlahan
Membaca dengan rasa
Rasa gelisah, sedih, dan amarah

"Urita dari Suwarnadwipa berbuah kelesah
Tetapi,
Akulah mengkona yang merenta
Aku yang tak lagi jadi pilihan tlah dijatuhi dandapati.
Selagi hidup dalam deret antre
Kuatlah kau seorang diri
Aku tak benar-benar hilang, tak benar-benar pergi
Hanya berpindah
Lelaplah kau dalam tidur, karena hanya dalam mimpi kau bisa menemuiku lagi"

Wednesday, December 13, 2017

Kenapa

Dari sekian kata yang ada, kau slalu memilih satu
Yang paling tidak slalu kau lempar ke telinga
Dan kau ucapkan dengan irama khas yang membekas
"Kenapa?"

Aku coba mengingat
Saat kita sama bersandar
Lalu rayu rayu begitu saja ku lepas bertubi berlarian kepadamu
Atau saat kau mulai risih
Karena wajahku terpaku menghadap bidadari
Begitu juga mata yang enggan lepas pegangan akan kekaguman
Kau slalu menamparku dengan "kenapa?"mu itu

Bahkan saat ku menirukan suaramu ber"kenapa?" Kau masih saja menamparku dengan "kenapa?"
Saat itu kau dan aku berkerabat dekat dengan waktu yang berkasih dengan tawa canda

"Kenapa?"mu itu terngiang ngiang
Di kepala, di telinga, di udara
Sejak kau memilih lari dengan si priyayi bestir
Sekarang aku jadi penyair

Hari ini "Kenapa?"mu datang berkunjung
Dan ku titipkan "kenapa?"ku padanya

Kenapa setelah lama berpisah aku masih saja salah?
Kenapa kau tersentak dan mencabut diri saat lihat ku duduk sendiri?
Dan kenapa walaupun kita tidak lagi bercinta, tetap saja masih saling melempar luka?
Bukankah kau sudah bahagia?
"Kenapa?"

Wednesday, December 6, 2017

Pendayang

Pendayang bertahan di antara buah kata yang menjamur
Yang lahir dari puja puji manusia akan bahagia
Ataupun cerca gelisah relung hatinya
Kata kata yang slalu melibatkan pagi dan senja
Teh dan kopi
Bukit dan pantai
Gelap dan terang
Kering dan hujan
Serta patah dan tumbuh
Kata kata yang lahir tanpa rahim
Yang kosong dan tak bernyawa

Pendayang berceloteh
Hampanya hidup tanpa kasih
Tanpa tempat bersandar yang mudah disentuh
Remuk erat digenggam

Jiwanya mudah meremang bila yang ia ingin tak juga datang
Seolah diburu waktu
Sejatinya waktu acuhkan pendayang itu
Kenal pun tidak

Menjaja manja berselirak kemana mana
Membuai di setiap penjuru dengan kata kata kosong itu
Kopi dengan abu
Senang dengan sendu
Hanya itu itu

Dalam hati, kau lah nirmala
Kau yang menjadikanmu pendayang
Dan aku sungguh menyenta
Berubahlah!

Wednesday, November 29, 2017

Alokton

Dari mana saja?
Hamparan tanah duduk bersila menikmati ia terbenam
Ranukumbolo yang biasanya bercerita pada semua mendadak diam
Semua manusia pasang senyum dan menggunting suasana tuk dibawanya pulang
Termasuk aku walau sedikit
Sedikit bawa sakit

Terengah-engah dingin menusuk panah
Aku yang terlepas busur terombang-ambing tidak terarah
Menancap di antah-berantah

Lagu slalu menempel di telingaku
Kawan menyusuri perjalanan
Palagi kala gundah gerogoti darah merah
Hanya lagu jadi anexia

Langit tak terbelah tapi wajahku dibelai sinar yang mulai meredup
Satu dari sekian yang mampu melarikan dari aling sang daun yang menancap dahan

Aku merebah

Tempat yang tak seorang pun tahu
Tiada sedih bila ku pergi
Palagi meminta tuk kembali

Aku merasa kau mengutuk dari kejauhan
Karena sejauh apapun ku berlari
Kau slalu menempel di pundak sebelah kiri
Dan aku mati

Harus kemana lagi?
Ranukumbolo seharusnya ku tak sendiri
Dalam senja merah aku masuk bersembunyi
Dari desah lembutmu yang terus mengikuti

Friday, November 24, 2017

Semalam di Sayidan

Hari hari berlalu
Aku kembali
Ada sisi yang terpuaskan, ada pula yang dibiarkan penasaran

Tak jauh langkah memanjang
Tapi sangat lama bila harus ku habiskan sendirian

Lupa!
Belum sempat aku sambangi keraton Yogya
Dan pantatku enggan terlalu sering singgah
Di kelambu warna warni suasana lampu redup
Di belantara yang bermadu cinta mengait asmara
Aku hanya lewat
Dan memandang
Iri dari kejauhan

Diri ini menciut, menjadi kerdil.
Bagai semut yang coba mengangkat paku bumi
Ku berkaca pada wajah wajah mereka
Tapi apa yang terpantul bukan aku.

Ramai Malioboro tak membangkitkan gairahku
Sama seperti jalan aspal lain yang jadi saksi cerita.
Jelas! Aku tak terlibat di dalamnya.

Bertahun-tahun aku tak ingin ke sini
Tak bisa diri menikmati "Istimewa" seperti apa yang mereka bilang
Tapi akhirnya ku terdampar di sini, pertama dalam hidup

Sebenarnya, kota ini ku benci

Di sini teringat janji
Di sini teringat temu tanpa ku diberi tahu
Di sini tempat aku di asingkan

Aku singgah di depan hotel hitam dengan jendela-jendela yang bersinar
Bersama yang lalu lalang aku menepi meresapi sunyi.
Jalanan padat berisi, tapi bagiku sepi

Beradu bahasa sampai jam tiga
Berhenti sebelum ditikam sesak dan dada memberontak.
Aku memaksa diri menikmati terpa angin
Menikmati hilir mudik muda mudi sedang asyik
Saling melempar tipuan
Bias cinta dan nafsu semata
Dan ku nikmati juga dengan tawa

Hantaman malam yang menggila ketika kita saling menikmati
Lara lara menempel seperti butir butir kaca pecah
Aku berdarah, kau mengusap luka, makin melebar dan bernanah
Aku sungguh menikmati ketika wangimu masuk ke paru ku dan orang orang berkaca mata terlihat sepertimu! Kau berserakan sejauh pandang membentang.

Habislah malam, pagi datang, dan aku sarapan
Salah satu emperan di Sayidan
Tembok warna warni dan ramah senyum sana sini
Soto sapi hangat menggoda tuk ku santap.
Ah!
Tak senikmat pesonanya di hidungku!
Wangimu masih menyumbat
Menghalangiku menapaki bumi

Seperti kata ku tadi
Kau berserakan sejauh pandang membentang.

Saturday, November 18, 2017

KABA

Kau harus terjaga
Karena terpejam hanya buatmu kehilangan rupa
Buatmu kehilangan ingatan di hari yang akan datang

Kau harus tetap terjaga
Untuk kesekian kalinya sepanjang malam malam bersama
Karena wajah itu akan menghilang bersama kenangan

Kau tak pernah menghitung berapa hari yang berlalu
Berapa detik yang berjalan mundur
Bagimu, ketulusan tiada ukuran
Tak terucap hanya sedikit tersiratkan
Bagimu, tiada kata menunggu
Karena kau tak menanti tubuh
Dirinya hidup bersemayam dalam jiwamu

Kau bercerita padaku bahwa kata adalah benda mati
Dan jiwalah yang membuatnya hidup dengan merangkainya bersama segala sikap
Kau juga berucap bahwa apa yang kau lakukan bukanlah pengorbanan
Mencintai tak pernah merasa berkorban
Kau lakukan karena senang, tenang

Tapi aku menyanggah,
Untuk apa?
Semua yang kau jalani nyaris sia sia
Apa yang membuatmu begitu terlihat menderita di mataku?
Kau tak dikhianati, kau ditinggalkan
Bukan kau tak baik, dia tak menambatkan jiwa padamu
Kau menyiksa tubuh demi puaskan perasaan
Kering di saat hujan
Gelap di antara terang
Aku kasihan padamu

Namun kau hanya membalas senyum
Lalu menyanggahku lagi
Kau tak mengerti mengapa
Kau tak menanam duka
Kau menikmati cinta yang sakral dengan prosesi peribadatanmu sendiri
Kau tak merasa sakit, walau aku tahu dia lah satu satunya obat bagimu

Kau lah rumah megah dengan segala pintu yang terbuka
Dengan ratusan jendela dan pagar tinggi yang tak terkunci
Kau membukanya jikalau dia pulang kembali
Kau yang tak mempersilahkan seorang pun masuk
Demi menjaga ranjangnya tetap sempurna
Kau memang sudah gila.

Saturday, November 11, 2017

LINTANG (Jalan Panjang Untuk Pulang)

Datang dan pergi
Dunia berputar begitu cepat
Bahkan dia turut larut bersamamu

Aku bukanlah aku
Yang tak sungguh memiliki aku

Kau bukan milikmu seorang
Kerinduannya yang membawamu pulang

Dalam remang cahaya terang
Redup pandangan, siluet wajahmu
Kau usai dan melanjutkan perjalanan

Aku tersenyum melihatmu melamun
Rekam memori yang tak kembali
Kerinduan tlah berganti
Memuai bersama bundamu nanti

Aku tak pernah ragu
Kau memang lugas tangkas
Cepat berkemas tanpa cemas

Terik siang yang biasanya panas tiba tiba sejuk
Berpayung awan kau berjalan perlahan
Ku hilang percaya.. siapa sangka?!

Kau dan aku akan bertemu lagi
Tersenyum bersama
Tanpa gelisah dalam ceritanya.

Nyaring di Sebrang

Buka mata wahai yang terluka!
Menangis saja biarkan batin lega!
Angkat badan, pijak tanah dan hentakkan!
Tajam mata mata yang memicing sudah biarkan!

Ini hari baik!
Bagimu untuk memulai perlahan!
Jangan lama-lama obati luka yang menganga!
Esok juga sembuh segera

Ia tlah memilihmu
Tapi ku ragu Ia rela tuk menunggu

Renggut segera!
Sudah selesai cerita cerita lama.

Tuan Enggan Tinggalkan

Jika genggaman ini remukkan hatimu
Di mana nuraninya?
Bila aku bernyanyi tulikan telingamu
Di mana suaranya?

Bila cahaya silaukan kedua belah mata
Di mana kau bisa menemukan mimpi?

Aku tulis kata lagi kata
Rangkaian itu itu saja
Tidak kah silaukanmu?
Hangatkah saat kau baca?

Ucaplah apapun yang kamu rasa
Birahi menghancurkanku di seberang sana
Biar aku mengerti pahitnya diam
Kau tak bicara atau aku yang enggan mengerti?

Benarkah bila aku benar?
Di mana salahnya?

Salahkah bila aku salah?
Di mana kebenaran?

Roman roman patah
Berarti bila diberi arti
Apa makna dari smua yang tercipta?
Sudahkah mendung itu hilang diganti terang?

Friday, November 10, 2017

Ragu

Di antara daun yang terjatuh
Langkahkan lagi apa yang pergi
Kelabu bercampur jingga di awan
Payungi hitam hati terdalam

Bisikkan sedikit tentang perasaan
Wanita sepertimu yang sulit ku abaikan
Di mana aku tuju untuk terlupa
Terlupa sebuah rahasia

Dua belas jam berlalu
Akankah sama seperti dulu?

Biarkan tinggal begitu saja..
Begitu sempurna wangi yang tersisa

Bila kau tidak sempurna
Dalam darahku mungkin juga demikian

Dan bila sayapmu patah disaat melayang
Aku terjatuh dengan separuhnya.

Bait Doa di Antara Hujan

Petir menyambar
Gemuruh air bersama angin datang
Ciutkan nyali seorang gelandangan

Berteduh Ia, mendekap kedua paha yang ditekuk sama panjang
Rasa takut menghantui
Walaupun, takut bukanlah sebuah rasa, ucapnya.

Tanah dihantam air melahirkan aroma..

Kedamaian..

Kesepian..

Sepertinya Tuhan sedang bersuara
Tapi sabdaNya tidak sekasar itu

Bukan Dia rupanya..

Aku harap, hujan hanya di sini
Yang mengamuk dan menghambat langkah kaki

Semoga langitmu cerah, biru, tanpa abu..
Dan langkahmu tak terhenti seperti aku.

Tiba-tiba rindu datang memutar kaset pita
Berisi gemuruh seperti ini di tahun-tahun lalu
Dimana hanya Aku..
Menjadi tameng atas rasa takutmu.

Wednesday, November 8, 2017

Gerbong Gerbong Kosong

Berkemelut aku dalam ruang kecil
Sepi, gelap, pengap
Bermain aku dengan kesempatan
Yang telah lelah karena sudah sekian lama ku tunggangi
Menit menit merangkak menghampiri tengah malam
Andai saja kau juga di sini menemani

Sedari lama aku menyusun rencana
Memasang sepasang demi sepasang rel rel
Merangkai gerbong gerbong kosong
Yang kini tak terhingga panjangnya
Menata ulang ruang, memberi warna putih di setiap dinding
Ku persiapkan untuk perjalanan bulan madu kita

Namun sebelum petang aku tersadar
Walau beribu undangan tlah ku hantar kau tak akan kunjung datang
Sementara aku sudah menunggu dengan setelan lengkap, termasuk setangkai mawar putih yang kau minta
Aku sendiri, kau tak ada

Dengan terpaksa ku berangkat sendiri
Meminta masinis menarik gerbong gerbong ini berjalan
Pemain biola memasang senyum kaku kala melihatku duduk sendiri menghadap meja makan kita
Sembari melepas cincin aku membalas senyumnya

Seharusnya ini hari yang bahagia, tapi kau merenggut untuk dirimu sendiri

Seharusnya ini jadi perjalanan yang indah, seperti bertahun tahun aku menjaga rekah kembangnya

Seharusnya gerbong gerbong kosong ini ramai oleh tawa keluarga kita

Atau,

Seharusnya malam tak pernah memberi restu padaku untuk melihat senyum dan sorot matamu saat itu.

Demi waktu yang tak banyak
Biarkanlah menit menit berlalu
Cabut segala janji yang menyumbat laju

Demi waktu yang telah belalu
Ku biarkan kau jadi malam, dan aku tetap jadi siang
Damailah kau dalam sunyi, berhentilah membuntuti.

Sunday, October 29, 2017

Semai Semi Arang

Tatap sendu
Bibir merekah
Tajam bersuara
Dalam hati dalam dalam
Lima bohlam kuning menggantung tak sama panjang
Wanita wanita bernyanyi di antara kepul asap dari bibir lelaki
Kenang yang terlepas tenang
Bersembunyi di balik beribu tulisan
Ibarat anak yang lahir dari rahim sang pena
Hidup dengan sejarahnya sendiri
Berdiri lama atau mati muda
Pram mengatakannya padaku
Aku bertanya
Walau pita suara tak bergetar dan menggema
Atau ku coba menuliskanmu di atas kertas jingga
Kini ku kian hilang kendali
Di balik tawa tawa berterbangan melewati lima bohlam tadi
Kau terlihat sepanjang jalan ku berkelana
Namamu disebut sebut manusia tanpa ku beri tahu
Tinggalkan aku sekarang
Atau kau kan terus ku kenang

Friday, October 27, 2017

ANTARA

Kamu, dengan suara menderu mencuri ruang
Kaca kaca berserakan seperti tak berarti
Dalam gelap gelap malam yang menyelimuti siang
Dalam stiap ayunan tebasan tangan tangan merobohkan tekad
Antara Palembang dan Yogyakarta
Temu setelah lama tak bertemu
Sekian banyak amara dan senyum terbuang
Menyusup diam diam
Diam diam ku dibuang
Antara Palembang dan Semarang
Lewati langkah, duduk, ataupun terbang
Buta di tengah malam
Sangsi di tengah kebutaan
Pisah setelah lama tak berpisah
Kau membentangkan alas kepadanya
Dan membukakan pintu untukku
Persilahkan kaki tuk keluar

Wednesday, October 25, 2017

Kembali ke Ngarai

Remang malam tak menghentikan kemelut aku memikirkanmu

Antara puncak dan ngarai

Jarak adalah benalu dalam hubungan ini

Garis garis yang terukir oleh tangan basah,
Bukan tanganku

Jerit suara angin dari kipas di atas sana

Dan dengkur mereka yang saling beradu

Ku bersimbah darah di ngarai yang pernah kita singgahi

Rasanya kau masih hidup di sini

Jarak adalah rencong yang ku apit dengan kedua belah tangan

Dan waktu adalah gerakan tanganmu yang membuat rencong itu berputar

Perpisahan adalah darahnya

Tumpah ruah, riuh ruang,

ku ingin beradu denganmu lagi di sini

Selagi rindu mulai pasang

Selagi genangan merah ku kesampingkan

Selagi aku mampir

Selagi dia kau tinggal pergi

Tuesday, October 24, 2017

Hunjam Hujan

Bulan tak tampak, awan pekat menutupinya, dan aku dihunjam tetes tetes air yang datang

Sirnanya kehangatan, diriku sendiri kedinginan

Dengan segala hormatku padamu

Dengan seluruh diamku tak berujung

Menggantimu ku ingin, tapi belum

Hujan masih menghunjamku bertubi

Dan diriku belum sanggup melepas ikatan

Sejujurnya, bagian terbaik dari hubungan ini adalah kita tak lagi terhubung

Kau mengarungi duniamu ke barat dan aku menjelajah ke timur

Sejujurnya, bagian terindah dari hubungan ini hanya sanggup hidup dalam kenangan

Dimana kau dan aku merajut cerita di dunia yang lain, tanpa tubuh saling menyentuh

Friday, October 20, 2017

MALA

Amarah telah menghentikan langkah kata ku
Tangan berhenti menuruti perintah jiwa untuk tetap merajut cerita
Membiarkan segalanya mengibas rambut panjang dan menutup wajah
Dia lahir di rumah pembenci
Yang beralaskan amarah dan beratapkan jerami
Ketika semua menyala,
Habis sudah

Menjelajahimu lagi adalah kesalahan
Alih alih mengobati perih
Rintih rintih tertahan

Mala, seorang biasa penyuka sepi
Dia seorang periang namun gemar menyendiri
Tak satu pun yang pernah melihat air mata jatuh dari matanya
Cukup menarik untuk ukuran seorang wanita

Dalam ruang kecil yang hanya ada lilin berapi sebagai benda mati,
Mala membangun sandiwara yang dia sendiri bukanlah pemeran utama

Dalam ruang kecil yang hanya ada lilin berapi sebagai benda mati,
Seorang periang meletakkan jubah besi yang membebani pundak
Dari sela sela mata jatuh air
Tetes bersuara
Serupa detak jam menempel di atas sana

....

Thursday, October 12, 2017

Duduk Sebentar

Duduklah sebentar
Aku lelah, lagi pula kini ku kian payah
Pijak kaki tak sedalam dulu
Lihatlah di kerutannya

Duduklah sebentar
Bersandar dan berebut napas
Teguk sedikit air yang ku gendong
Ku curi dari ujung sana

Mainkan apa yang kau mau
Apa saja
Ku tunggu
Sambil duduk sebentar

Jangan merengek minta digendong
Kau tak selamanya kecil
Aku tak selamanya hidup
Ayunkan tungkai kakimu sendiri

Bila kau lelah
Duduklah sebentar
Sendirian

Friday, September 22, 2017

JANGAN..

Memainkan jari jarimu di hamparan punggungku lagi.
Atau melilitkan telunjukmu dengan rambutku lagi.
Bahkan, senyum pun sangat menyakitkan.
Menghianati janji yang kau ucap sendiri.
Atau bermain main menjadikanku bayangan.
Pandangi aku, ku lemah akan sorotmu.
Habiskan waktu terlalu lama bermandi hujan.
Sakit atau mengucurkan air mata lagi.
Kau kira aku baik saja.
Kembali, kecuali kau temukan apa yang ku temukan.

Wednesday, August 16, 2017

Sang Tikus Tanah Yang Kini Pengecut

Terperangkap dan lolos, ribuan kali terulang hal serupa.
Menyusuri rongga rongga yang ku gali, ataupun yang tlah berlubang sebelumnya.
Mencari pelepas penat, lapar perut, dan pelepas dahaga.
Tak pernah puas stelah lemas berlomba,
Pijakkan kaki satu ke yang lainnya.
Siang, malam, pagi, dan senja,
Ku menggali, sigapku mencari.

Tertawa geli sendiri
Bersender punggung seorang penggali
Luka luka yang tak pernah terasa tadi
Perlahan muncul rasa rasa perih

Semburan air deras mengalir
Menyeret tubuh ini jauh dan hampir
Buat ku terbunuh
Hilang napas
Hilang pula smua keluh

Aku terhampar di jalanan luas
Hitam, keras, dan dingin
Tak jauh dariku, bergelimpangan kawan kawan
Ada yang terluka hebat
Ada yang meregang nyawa
Di antara tumpukan sampah sampah manusia

Aku selamat
Sedikit darah
Tapi tak parah

Merangkakku perlahan ke pinggiran
Inginku basuh luka sebelum datang pagi
Karena ketika surya naik
Ramailah jalanan, dan ku pasti terbunuh

Sehari semalam ku tak makan
Merenungi nasib kemarin malam
Seandainya saja semalam ku selesai
Tak ada hari ini, tak ada maaf yang sampai

Mulai saat itu ku henti menggali
Aku berhenti mencari
Aku berhenti merusak
Semesta memaksaku untuk masak

Tawaku tak sebanyak dulu
Tapi rasanya bahagia
Dalam diam
Ku belajar
Hingga luka luka mengering dan sdikit pudar

Jiwa yang beringas sudah tidak seperti waktu itu
Tiada lagi keberanian yang terlalu berani
Tiada lagi nafsu menguasai
Tiada lagi rasa ingin mengusik yang bukan hakku

Akan ada temu
Dibalik jalannya kaki pada garis yang sama

Akan ada jumpa
Diantara waktu kita memantaskan jiwa

Kita kan bersama
Bila kehendak tuhan memang begitu,
Bersabarlah dinda.

Saturday, August 5, 2017

Hening

Di bawah awan yang terayak
Duduk menyepi
Melihatmu di sela daun jendela

Seorang gadis bermata cokelat
Menggenggam hebat selembar kertas
Hari ini bukanlah hari yang lalu,
Senyum dan tawa riang seolah runtuh ke dasar karang
Yang ingin ku nikmati bukanlah ia yang sekarang

Di bawah awan yang terayak
Selembar kertas tertulis janji
Janji yang lahir sejak bulan sabit di tahun lalu
Ku lihat air mata menetes lembut membelai hati
Hati lembut yang terbungkus kerasnya tawa di setiap hari

Surya pun merana
Ditariknya terik yang mencekam
Lalu turunlah hujan

Gadis bermata cokelat
Yang berdiri di bawah awan yang terayak tadi
Melukis luka
Di atas genang air tepat di bawah kakinya

Keheningan yang bening
Luruh harapku
Basahi lembar kertasmu
Terhapuslah janji itu

Aku menggenggam payung
Di sela daun jendela ku bersenandung
Coba merasa apa yang kau rasa
Berharap sembuhkan hatimu yang terluka

Monday, July 31, 2017

Asmara

Asmara,
Aku tertidur pulas pada jalan pulang
Duduk dan terlentang
Hingga..
Tlah datang petang
Cahayamu pun hilang
Terjebakku di jenggala mnunggumu datang

Asmara,
Jemariku mati rasa
Mungkin tak lama ku hipotermia
Jangan bersenandung lagi dinda..
Peluk rekat aku dengan sgenap raga
Jiwa ingin engkau di sini lalu di sana

Kelu,
Segenggam tangkai kembang layu
Merayu hangatkanku walau tak mampu
Embun pagi yang selimutiku
Manis senyum sangat bisa tuk membunu

Cepatlah datang,
Ku tak bertahan hingga pagi
Rebahkan sejenak segunung mimpi mimpi
Biar smakin cepat kau dalam berlari
Aku janji..
Saat berdua pulang kembali
Aku yang gendong segunung mimpi tadi

Saturday, July 29, 2017

TOPANG

AKU, ANAK PERTAMA DARI TIGA
HARUS MAMPU MENOPANG KELUARGA

AKAN BANYAK BEBAN,
DAN HARUS BANYAK  BERKORBAN.

AKU, ANAK PERTAMA DARI TIGA
JALAN DI DEPAN TAK AKAN SMAKIN MUDAH

TETAPI TUHAN TAHU AKU SANGAT BISA

JALANAN INI AKAN INDAH,
BILA KU MUARAKAN KEPADANYA.

Attira

Attira, nama yang merdu

Seperti setiap tatapmu nan mendayu

Mengisi kesenggangan tanpa suara

Putih, bias terasa

Attira, sampai hati dirimu

Menampar tepat di hadapan

Aku yang tanpa harap

Kaki ini mati langkah, tatap ini hilang arah

Betapa tak beraninya aku menyapa

Kau dan aku sama sama punya mimpi

Mimpi seusia kita, namun kau lebih jauh..

Sangat jauh.

Apa kabar hari ini?

Aku masih berteduh dari panas

Kau berpeluh keringat,

Aku menyendiri diam.

Tak pantas.

Attira, mendung mengintip sela,
Antara kau dan mereka.
...
..

Singgah dan Menetap

Saat mulut membisu, dan tatap seolah malu. Hanya ada jari-jari yang tegas berbisik

Membisikan analogi

Yang tak setiap manusia kan mengerti,

Sekalipun kamu.

Sontak, berserakan smua swara serak
Habis harap tertidur kembali ia dalam barak.

Bergerumul awan di hamparan terik
Akankah ada satu yang lelah lalu singgah?

Merebah..

Pasrah...

Hingga kembali lelah.

Pintu kayu tua yang berkarat tuasnya,
Jua lapuk badannya,
Termakan rayap,
Jua usia,

Gadis kecil berambut jingga ada di dalam sana
Menghapus stiap jengkal warna dari sketsa yang aku punya,

Binarnya bahagia.

Maukah kau membantuku tuk mengusirnya pergi walau enggan?

Sejukan hawa dari panasnya suasana
Bentuk kembali ruang yang tertata
Hingga kau nyaman menetap disana.

Kepada : Minta


Aku mengukir lara,

Mengukur jengkal demi jengkal waktu yang tlah lama,

Kau lewati malam-malam berbeban sendirian.

Pada ku kau lebih dekat,

Dengan dia hatimu lebih jumawa,

Mengulang-ulang selamat setiap hari,

Mengisi hari dengan basa basi,

Aku mengukur lara yang tidak seberapa,

Padamu yang tak kembali juga,

Teruntuk kasih yang sangat sukar dilupa,

Mengenang kering,

Berkerut kening.

Lust

Bukan aku,
bukan pula dirimu
Yang bawa sembunyi nyanyian pilu
Bercampur rindu-rindu malu
Di dalam sepi melagu rindu

Menghitung dua lalu ketiga
Antara rapatnya bibirmu beraksara
Dan tatapan tanpa saling sapa
Hanya ada diri dikuasai duga

Seandainya dulu kau bisa membuka
Biru tak sama singgah di langit berbeda
Tiada arti aku kini dan dahulu
Hanya iriku di posisinya saat itu

Sejoli

Rindu tak berlalu
mengasingkan aku
di sela waktu sendiri..

Jagaku bermimpi
bertemu pagi
dan bayangmu pun hampiri aku,
memelukku..

Henti nadiku
detak jantungku..
hilang waktu ku dengan mu..

Jagaku bermimpi
bertemu pagi..
dan bayangmu pun di hadapanku tersenyum

Gelisahmu akan terganti..
Rindu pergi kala kita bertemu

Dan bila masih tersisa..
Mimpi yang kan mempertemukan kita seperti waktu dulu

Waktu Berkunjung

Jalan ramai mengerucut jadi sepi
Tanah basah menyejukan langkah kaki
Daun hijau tegak tinggi berdiri
Ku kembali melihat isi rumah ini

Dan melagu, berkumpul smua rasa rindu
Tawa tangis.. lari kecil.. kau dan diriku
Berkelahi masa masa lugu dulu
Kembali..
Ku berkunjung di kotamu..

Dan.. waktu melagu..
Melagukanmu..teringat kecil bersamamu
Dan.. selama itu..
Menahan rindu... Tuk kembali melihatmu..

Merasakan semua hadir, dan tubuh kita mengecil..
Ku kembali...
Ku kembali...

Rengkuh

Pintu terbuka
Bagi siapa yang ingin mengetuknya
Masuklah sesukamu
Sebisaku kau akan ku jamu

Berjalanlah jauh dengan lantang
sedari singsing fajar hingga datang petang
Kan kau temukan pengisi sepi
Di antara khalayak, aku ada di ujung tepi

Apakah pintumu terbuka?
Jariku ingin sekali mengetuknya
Dapatkah langkah masuk sesukaku?
Senang hati ku ingin kau jamu

Menunggu, bersandarku di ujung tepi
Menunggu saat malam hingga datang pagi
Aku berjalan terlampau jauh
Hanya untuk rengkuh hatimu utuh

Tuesday, July 25, 2017

Dikubur dalam pasir

Hembus angin, gaduh berkumpul menyumbat telinga..
Kepalaku dihempas pasir putih yang juga terhempas galaknya ombak..

Hati sepi, diam, dan basah
Ramai tak terasa
Tapi sepi ini nyata
Tanya..
Tanya....
Tanya...?
Pada sang pemilik sesungguhnya hatimu di sana
Cinta datangnya dari mana?
Dari sang maha pemilik alam smua.

Jawabku buta

Dari mana bisa ku sedikit lihat buktinya?
Intiplah ke dalam hati ayah bunda kepada anaknya..

Ku mulai gila

Hati dan pikiranku berganti jawab dan tanya.
Menikmati angin
Menikmati butir pasir
Menikmati air..
Menikmati cekungan garis bibir

Yang juga meninggalkan kesan
Yang entah dari mana datangnya.

Senyum manis yang ku bawa membumbung tinggi

Berdiriku tegak
Tangan ini mendekap tangan sendiri
Badan di sini
Harapku membumbung tinggi
Dua langkah kaki
Jarak yang pisahkan kami
Aku di depan
Dan ia di belakang,
Meniru gerakan.
Rebah kepalanya di bawah
Bukan untukku

Imajiner

Sunday, July 23, 2017

Bukan itu

Aku seperti merindukan yang telah mati,

rupa seperti di potret itu tak mungkin ada lagi,

aku memujamu habis habisan, ingat..ini rahasia berdua saja, 

pengikutku jangan sampai tau,

tapi bukan dirimu saat ini lah yang aku cintai,

bukan, kalau pun kau kembali.. bukan itu, bukan itu,


Aku rindu kamu pada potret itu,

aku rindu gadis merah tembagaku,

aku rindu kamu yang sudah mati,

termakan tanah digerogoti sepi.

Pra cerita MINTA

Langit begitu terang dan matahari sangat terik siang itu, aku sedang beranjak dari tempat tidur ku lalu menilik jam dinding yang berdecak sendiri sejak tadi, ternyata sudah cukup siang untuk ukuran manusia bangun dalam tidur.

Perutku sudah berdendang dari tadi namun tak ku hiraukan ketika terlelap, baru lah ketika ku terbangun rasa lapar mengurung semangatku, rasanya lemas. Ku beranjak keluar rumah kosku menuju mesin anjungan tunai mandiri, maklum.. anak kos di awal bulan selalu rajin sowan ke tempat itu. Dengan sepeda motor ku kebut saja lajunya karena sudah sangat tidak sabar perut ini ku isi.

Benar saja, beberapa deret antre sudah terpajang di depan mesin anjungan itu, karena tidak ingin membuang waktu aku masuk saja dalam barisan, dan cerita ini di mulai dari sini, cerita yang sangat sulit aku lepaskan dalam hidup hingga detik ini, yang membuat aku terseok seok selama akhir perantauanku menuntut ilmu, cerita yang menjadi awal titik balikku menjadi lelaki yang lebih baik lagi, serta cerita yang menjadi benih aku menuliskan cerita yang akan kau baca ini.

Minta, nama seorang wanita yang membuka pintu kala terik siang itu, di depan tempat sowan awal bulan mahasiswa mahasiswa kelaparan menarik uang kiriman bapak ibunya. Aku mengenalnya di tempat itu, dia tidak ada dalam deret antrean, di jauh di seberang barisan, namun waktu membuat mata kami bertemu pandang. Wajah oriental dengan rambut alami wanita kala terbangun dari tidurnya buat aku penasaran, tanpa tersadar sudah dua orang menyalip antreanku tanpa permisi. Entah setan dari mana aku pun memberanikan diri mendekatkan jarak untuk mengenal lebih dalam tentang dirinya. Ku lihat benda tergeletak begitu saja di dekat tapak kakinya, ku jadikan bahan lah hal itu, "mbak, itu punya mbak bukan", ucapku sambil menunjuk kartu tanda mahasiswa yang terjatuh, dia menoleh padaku lalu ke benda di bawahnya, dia hanya menggelengkan kepala lalu menyolek teman di sebelahnya sambil menanyakan hal yang sama. Tidak ada yang mengakui kepemilikan kartu itu. Karena tidak ingin kehabisan bahan obrolan, tiba tiba aku mengajaknya berkenalan, "saya alfa, boleh tahu namamu siapa?", Ucapku tanpa malu, dia menoleh dan memandangku sambil menjawab, "saya minta, apa kita pernah ketemu sebelumnya?". Aku menjawab bahwa kami baru bertemu kali ini, dan rasanya ingin mengenalnya lebih.. sepertinya aku kesetanan sehingga urat malu ku tidak lagi terasa. Hal yang membuatku percaya diri adalah sepertinya dia merasakan hal yang sama. Setelah mengambil sejumlah uang di mesin tadi, obrolan kami berlanjut sampai bertukar nomor ponsel dan pin messenger.

Hari demi hari, pagi siang hingga malam, selama satu minggu pertama aku merasa sangat sibuk bergelut dengan layar ponsel. Gayung bersambut, ajakanku makan malam di iya kan olehnya setelah seminggu intens berbalas pesan,
" Kalau begitu, nanti malam saya tunggu di blackbox coffee ya",ajakku padanya. Dia menjawab iya.
Aku berangkat lebih dahulu ke cafe itu setelah sekian jam berdandan dan berganti baju beberapa kali. Meja telah aku pesan dan ku siapkan beberapa bahan obrolan yang sekiranya menyenangkan.
Setengah jam berlalu, di ujung jalan ku melihat cahaya terpancar dari wajah yang terpasang kacamata di depan matanya, dia datang dengan baju hitam dan membawa buku, hal yang sama seperti apa yang aku kenakan dan ku bawa juga, kami tidak berjanjian soal itu.
Bidadari itu hampiriku sembari melempar senyum hangat yang sudah satu minggu tidak aku lihat.
"Sudah lama? Maaf ya tadi ada urusan sebentar", ucapnya membuka obrolan. "Tidak kok belum sampai satu hari saya di sini", balasku menggoda.
Kami memulai obrolan ketika jarum pendek jam berada di angka delapan, dan berakhir ketika tiba di angka sepuluh.
Dalam obrolan aku menggodanya kenapa membawa buku gambar, dia hanya tersenyum seperti kebingungan harus menjawab apa.
Kami seperti sudah sama sama tahu muara semua obrolan ini akan kemana, dan kami juga sama sama tahu akan ada perasaan yang tersangkut dibuatnya.
Namun kami juga sama sama menutupinya dengan tidak berucap banyak namun aku bisa merasakannya dari tatap mata dan gerak tubuh, kami seolah menari terbuai harmoni, mata kami tak lepas sepanjang malam yang singkat ini.
Ku antar dia pulang ke rumah kosnya, tatap dan senyum itu pun tidak lepas sepanjang aku melaju lambat dengan sepeda motorku.

Sejak malam itu kami semakin dekat, jarak dan juga perasaan, hampir setiap hari aku berkunjung untuk sekedar memberi dia bingkisan atau pun memberi sedikit kejutan dengan tiba tiba aku muncul di depan pintu. Semua yang terjadi seolah kami sudah menjadi sepasang kekasih.
Perasaan yang tidak tepat itulah yang mengantarkan kami ke hubungan yang kurang sehat, kami membangun semua ini di atas hubungan dia dengan lelaki lain. Dan dengan bodohnya aku lantang melanggar itu semua.
Sepertinya aku benar benar sudah kesetanan, urat malu ku tidak lagi terasa.
"Saya mau kamu selalu di samping saya, sudah terlajur hati saya kamu taklukkan, dan saya begitu nyaman denganmu", bisikku padanya.
Dia hanya terdiam, aku tahu dia diselimuti keraguan yang teramat dan tidak bisa memilih, aku pun tidak menyuruhnya memilih, hanya memintanya tetaplah diri ini dia temani dengan perasaan seperti ini.
Berbulan bulan kami larut dalam perasaan ini, kami merajut cerita di atas rajutan lamanya yang sedang lusuh.

Libur panjang perkuliahan adalah salah satu waktu yang paling tidak mengenakkan bagi mahasiswa yang memiliki pasangan berbeda asal tempat tinggal. Hal itu juga yang aku rasakan ketika harus pulang ke kampung dan dia harus terbang ke tempat lain, kami bernaung di langit yang sama dengan pulau yang berbeda.
Malam sebelum kami masing masing pulang, pertemuan adalah hal yang wajib kami lakukan, ku temui dia sedari pagi hingga malam larut, seolah berat melepasnya pulang, pulang ke kampungnya juga pulang ke hubungan lamanya.

Hari Jum'at jam satu yang sedang terik teriknya dia akan terbang, dan sebelum itu aku tidak mengantarnya karena beberapa hal, jadi aku temui langsung saja di bandara. Di sana aku bertemu mala, sahabat minta di kampus.
Mala menyapa, katanya minta ada di depan sana, mala memberi waktu.. dan minta memberi genangan air mata yang tertahan, jangan nakal katanya.. sambil membelai pipiku dan memegang tanganku erat.

Hubungan kami terputus sementara terhitung detik ini. Dan aku harus bersabar untuk memutuskan semua hubungan kami yang biasa tercipta. Hanya sementara, selama dia kembali ke pelukannya.

Kami sama sama tahu cerita ini tidak adil bagiku. Kesalahanku, memberi lebih dari separuh rasa padanya, cinta buta membodohi cara berpikirku, dan yang lebih bodoh adalah membiarkan rasa itu terus terusan membodohiku, hingga kini.

Caraku

Gerak tubuhnya membelakangi senyum yang diam diam tersembunyi..
Entah malu, atau hanya memberi kelonggaran jarak antara aku dan cemburu
Tubuh itu digerayangi pancaran mentari hingga bayangannya pun berjalan pula mengitari aku
Seperti yang lalu lalu, terdiam bisu, banyak bertanya tapi hanya dalam kalbu..
Apakah aku dan kamu kembali bertemu?
Jawabannya tidak pernah ingin ku ketahui
Dinginnya salju tak pernah turun di sini, begitu juga dirimu
Meraba raba jejak dalam gelapnya malam, buta.. tapi terasa
Ku paksakan merindu mungkin bisa juga
Aku selalu memotretmu
Dan ku bingkai rapi
Bersemayam di permukaan tembok kamarku yang sesekali ku pandangi karena keindahan
Terkadang juga terabaikan
Berdebu
Berbahagialah dengan caramu
Aku pun dengan caraku
Bila memang suratan tiba
Akan ada bahagia dengan cara kita,
Berdua

Thursday, July 13, 2017

Imaji malam

Berdiri pada malam
Malam panjang jauh setelah malam ini datang
Aku bukan milikmu sekeras apapun kau meminta
Terkepung malam dan riuh dada menambah dalamnya..
Sebuah perasaan.

Berdecak aku, di sampingmu aku berjalan
Mata indah yang tak akan pernah pindah

Kala helai helai rambutmu menyapa
Menerpa wajah dan ia tinggalkan wanginya
Atau sentuh lembutmu yang menyakitkan
Mata yang mengerucut saat memandang
Ribuan malam gagal mengusirnya hilang

Ku ganggu kala kau bersenandung
Melekat tubuh aku dan kamu
Hilang rima
Ramai sungkan tuk menyapa
Larut, membaur dengan waktu
Mesra waktu dengan imajiku

Wednesday, July 12, 2017

Mercusuar dan Kapal Selam // satu

Kaki ku semakin masuk ke dalam, genangan pasang surut air, putih dan halusnya butir pasir.

Sore itu, aku di tengah angin yang menerpa menatap jauh, sejauh gumpalan patah hati yang utuh.

Hanya berdiri sendiri..
Melagukan namamu, aku sendiri..
Mengusap belai air mata, ku sendiri..
Ditikam aku oleh rindu.

Waktu kini menjadi kawan, setelah berkali kali lalu kami berseteru. Karena dia membawa pesan titipan yang mau tak mau tidak bisa aku abaikan.

Ada sebongkah harta yang terpendam jauh di tengah laut yang pasang, dan untuk ke sana aku harus menyelam jauh ke dalam, dan telanjang.

Sebongkah harta yang mengubahku tak lagi seperti dahulu..
Dan rangkaian perjalanan itu akan aku ceritakan panjang kepadamu.

Mercusuar.. terang..
dan Kapal Selam, aku datang!

Surat cinta yang berbisik

Membelah langit tak berbatas
Bermain terang lampu ke atas
Sesekali melihat lembar potretmu buatku panas
Tersungkur habis sisa lembar kertas
....
..

Kembali wajahku berbalik
Gundah hati kala menelisik
Mengusap debu debu masa lalu
Dekat langkah menuju ke hadapanmu

.....
........

Kau bertanya,
Seberapa dalam ku pendam rasa
Bersuara dalam diam
Lihatlah dalamnya jauh di bola mata

.
...

Wajahku berbalik
Kemelutku kala menelisik
Pada lembaran surat cinta yang halus berbisik
Berpalinglah ke muka jangan lagi diusik

Thursday, May 18, 2017

Kepalang Pincang

           Udara dini hari masih menusuk tajam seperti biasanya, dan seperti malam yang sudah sudah, malam itu sepi dengan sedikit hiasan desah yang berbunyi. Hewan hewan malam bersenandung, memanggil kawan, mengisi sepi, begitu juga aku yang mencoba melompat tinggi merengkuh imaji.
           Jemari mulai mengetuk dahi meja, tempatku menaruh cangkir kecil berisi air, aku tak terlalu suka dengan kopi maka ku isi saja nyanyian pilu bercampur sedih yang bisa ku teguk sesekali. Aku memang sedang menuliskanmu, mungkin melagukanmu..oh, mungkin bukan, tapi melagukan kepergianmu. Kau yang kini masih bersemayam bukanlah kau yang dulu mengendap  dan meninggalkan kesan, waktu telah mengubah... Seperti apa dirimu.. dan juga cara pandangku. Aku hanya rindu, sejauh apa pun kisah yang terlanjur, atau serusak apapun rasa yang tlah hancur, tak kan bisa merubah apapun.
            Terkadang ku bosan menuliskan sebuah penyesalan, ku bertahan dan berkata ini bukanlah khayalan, kau bukan sebuah luka yang memberatkan, kau lah sebuah rasa yang membuka ku punya mata. Detak jarum jam kian nyaring terasa, dunia semakin sepi untuk ku daki sendiri, mungkin hewan hewan malam pun mulai merangkak berbalik dalam mimpi, tapi aku belum juga selesaikan tulisan ini. Ku berhenti, kata dia aku sudah terhenti, salah besar ku teguh pegang janji.. tak menguntungkan, bodohnya ku punya nyali!, Makin dicaci makin tak sadarkan diri.. lalaiku selamimu, karena beribu putaran bulan tlah ku tempuh, tak kunjung jua ku dapat rasa utuh, rasa-rasa sedikit masam, namun sarat tinggalkan pesan.
             Jauh tinggi kau terbang kembali, tak di tanah yang sama, tak juga dalam dunia berbeda. Sepertinya sudah habis masa, begitulah kira kira. Kau hanya tinggalkan seorang teman yang memantau tapi hanya diam, tak bertanya, kalah bersuara, dia pun tlah menikah.. kau tunggu apa? Sudah! segeralah melepas semuanya. Kau tahu? Kini ku smakin gila karena sakit tak lagi terasa, antara mengharap dan tak mengharap, ku ingin kau banting lagi aku, seperti biasa, paling ku buat lagu, yang melagukanmu, oh bukan... Melagukan kepergianmu.
           Kepalang pincang..
           Satu dua tahun ku tergenang
           Mengendap janji yang tlah basi
           Dan sebuah rupa yang tak kunjung pergi
       Ku tutup, jerit suara tak terdengar
       Pandang matamu dulu kian berbinar
       Lalu lalang.. lalu lalang..
       Ku tlah hancur, tiada lagi seorang penghalang.

Sunday, May 7, 2017

Senja dalam beranda nona

Bertemu lagi

Setelah sekian kisah berdistraksi

Sekadar temani minum kopi

Menikmati senyummu di penghujung hari

Senja merayu, lambat berjalan buat ku malu

Katamu juga kataku saling beradu

Mengulur batas antara rindu

Meronakan wajah yang hanya milikmu

Saksi bisu..

Senja dalam beranda..

Aku, dan dikau nona.

Saturday, May 6, 2017

Basuari, dan maaf yang tertunda

Rimbun langit menyala
Malam ini tiada kawan, apalagi
Terbentur tutur, hentak keras yang terlanjur
Menikmati dinda, menghunus pena, yang kini ku baca

Ada yang tergolek lemah diserang rindu
Dari ratusan kilo jalan ku tempu
Meminta kembali, pulang untukku
Jangankan melihat rumah... Pematang senja pun tak sempat ku nikmati

Ketahuilah, ku di sini tak ada suka ria
Atau pun larut dalam minuman dan canda tawa
Bukan tak ingin ku kembali datang
Letakkan senjata bertemu tuan
Tapi.. mungkin hanya belum masanya

Lembahku masi jauh dari pekik bahagia
Ku budak senjata dari sekian yang terjaja
Doakan sajalah dinda
Ku kembali utuh jiwa dan jua rupa

Kenang mimpi kita

Sebentar lagi ku ada,

Semoga saja.

Mortir terbang di atas kepala, dan ku sempatkan kau tuk menggoda.

Sampai jumpa

Monday, May 1, 2017

BARA

BERMUARA
PADA ANGKA
SEBELUM DUA

TUANGKAN APA
KAN TERISI APA
JUA SEBALIKNYA

HIDUP DUNIA
KERAS MENYALA

Sunday, April 30, 2017

Ilusi

Merebah.. menyerah..
Deras aliran di dalam keluar darah
Seiring berlalunya waktu kini kian parah
Menyakinkan hati hanya sedikit lelah

Melapis dinding dinding yang dibangun sendiri
Biar tak goyah palagi jatuh terbentur yang berlari
Membuat keras yang dilumat hari demi hari
Tak ada aku apalagi engkau di sini

Menuliskanmu adalah rindu
Merindukanmu adalah pilu
Merasakan pilu hanya menambah lara
Lara adalah apa yang tercipta dari kita

Akan ada yang berlalu seiring aku membohongimu
Akan ada yang makin berbohong hanya untuk membuat waktu
Seolah ia ada tapi tak tersentuh jiwa
Jiwa jiwa malang dilanda keheningan

Saturday, April 29, 2017

CURHAT SEDERHANA DALIH ALIRAN DALAM BERAGAMA

Dalam kurun waktu beberapa bulan ini kita makin dipusingkan dengan berbagai macam persoalan politik, baik di tingkatan atas maupun di bawah. Masing masing kepala mulai menuangkan tanggapannya baik secara langsung ataupun tidak, baik tertulis di media masa ataupun sosial maupun secara lisan dengan perbincangan ringan di warung kopi, ada yang setuju ada yang tidak, ada yang membela mati matian ada yang biasa saja, Saya pun akhirnya tersulut ikut ikutan menyampaikan opini juga, haha. Tapi makin kesini situasi di masyarakat semakin memburuk, terutama bagi sebagian orang yang beropini tanpa benar benar mengkaji apa yg sebenarnya terjadi, sehingga mulailah melakukan tindakan tindakan liar yg diyakini benar sesuai keyakinannya sendiri, parahnya lagi... hal ini tidak dibarengi dengan komunikasi baik antar berbagai pihak dan seolah semua yang dilakukan bukan untuk menyelesaikan masalah namun hanya ingin membenarkan secara sepihak tentang keyakinannya sendiri.

Bagi saya perbedaan adalah fitrah dari sang illahi, di kitab suci yang saya anut hal hal seperti itu sudah tertulis tentang berbagai macam golongan, bermacam macam keyakinan, berbagai macam suku dan lainnya, memang diciptakan berbeda, namun perbedaan ini bukanlah alat untuk memecahkah belah tapi untuk saling mengenal, saling menghormati dan menghargai. Saya sangat menghargai berbagai macam aliran dalam islam, baik yang dari dulu sudah ada maupun yg isunya baru muncul atau masuk belakangan ini, apalagi dengan berbagai macam keyakinan, saya sangat menghormati karena saya berkawan dengan orang orang dari latar belakang yg berbeda beda pula, namun sekeras apapun dipaksakan untuk satu tetap saja akan ada yg berbeda, karena banyak hal yg melatarbelakangi, untuk membahas hal itu butuh kalimat panjang dan juga diskusi dengan yg lebih berkompeten..saya tak mau menggurui, namun bukan perbedaanlah yang seharusnya dicari cari, bukan!.
Namun, dalam konteks perbedaan aliran dalam  agama islam, bagi saya yg terpenting yaitu satu, sama sama islam, menyembah yg 1 yaitu allah, nabi Muhammad adalah nabi terakhir dan alquran adalah kitab suci yg jadi panduan untuk kita semua, terlepas dari berbagai macam hadist yg shohih ataupun yg kurang keshohinannya dan ajaran imam imam yg menyampaikan, saya tak berani berucap banyak karena tidak cukup memahami & waktu untuk mengkaji.

Untuk memahami perbedaan pandangan sebaiknya berdiskusi dengan pemuka agama atau ulama yang terpercaya, yang jelas dari siapa dia memperoleh ilmu dan belajar, yg jelas kitab kitab apa saja yg jadi acuannya menyampaikan ajaran, jangan menyimpulkan sendiri secara liar, apalagi menyampaikan paham berdasarkan "jarene", itu tidak valid, sangat sulit dipelajari karena tidak jelas sumbernya, dan sangat berbahaya bagi masyarakat awam yg mendengar lalu menyebarkan ke yang lain, bila yg disampaikan merupakan kesalahpahaman, itu bisa jadi fitnah, nauzzubillah.. dan juga menurut saya harus adanya pembenahan diri sendiri, karena manusia seperti kita sangat mudah lekat dengan salah. Jadi benahi dulu diri sendiri apakah sudah melakukan semuanya sesuai dg apa yg dianut atau belum? Kalau memang sudah sesuai, barulah mengkoreksi orang lain apabila memang diperlukan, namun.. wajib dengan komunikasi yang baik, dengan adab yang baik. Saya pribadi tidak begitu menyukai bentuk bentuk pengajian yg selalu diselipi pengagungan terhadap salah satu aliran tertentu saja, apalagi yg bertele tele dengan banyak humor tapi tidak menyentuh hati dan tak membuat saya merasa bertambah ilmu setelah mengikuti pengajian tersebut, bagi saya pengajian atau kajian haruslah berisi ilmu untuk pembenahan diri agar jadi lebih baik & makin mengingat allah, makin mendekatkan diri dengan sang pencipta, sehingga bisa meminimalisir perbuatan dosa, agar makin baik tingkah laku sesuai dengan ajaran allah yg disampaikan oleh nabi dan para sahabat sahabatnya. Adanya pengagungan kepada salah satu aliran hanya akan menimbulkan perpecahan dan menyulut kebencian sesama umat muslim, padahal belum tentu kita sendiri yg paling benar, yg paling tahu, dan pasti masuk surga, belum tentu. Marilah sama sama berkaca, jangan sampai lelah untuk belajar/mengkaji tentang ilmu apapun, baik ilmu  agama maupun ilmu ilmu allah yang lain.

Sebaik baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sekitar, bagaimana mau bermanfaat jika tiap waktu menyulut perpecahan?, dan tidak ada balasan bagi kebaikan selain kebaikan pula, bagaimana mau menuai kebaikan apabila yang dilakukan adalah keburukan?, Semoga kita termasuk golongan yang diampuni oleh allah, dan semoga kita termasuk golongan yang tidak melampaui batas.amin.

Semua opini tersebut besumber dari diri saya, bila ada kesalahan sudah pasti diri sayalah yg salah karena masih kurangnya ilmu, saya pun sangat menerima masukan dan juga kritik, karena yang saya cari bukan pembenaran atas sudut pandang saya, melaikan sebuah kebenaran yg sebenar benarnya.


                                                 Faiz jelang ramadhan
                                                 Seorang Pendosa

Thursday, April 20, 2017

Teratai

Sesekali ku sempati
Menatap diri.. membuka mata.. meletakan ilusi
Membuka smua pakaian yang melekat
Berjalan perlahan ku masuk dalam air
Menahan napas, ku jatuhkan ke dalam
Smua itu dimulai..
Waktu sedikit melambat
Pandang dan dengar perlahan memudar
Kian berharga setiap napas
Menguap segala sangsi
Memupuk dalamnya empati
Ku harus pandai mengukur diri
Air mengalir masuki rongga-rongga kecil
Panas beralih jadi dingin
Tubuhku mengambang..
Lebih ringan dari yang ku pikir
Tapi hatiku tak di sini
Tak juga isi kepala
Kembali memutar waktu secepat suara
Suaramu terdengar lagi bercampur gema
Ku merasa apa yang kau rasa
Rasa getir menyibak takdir
Mencapur darahku dengan namamu
Hilangkan ragu..semakin ku malu
Semakin ku tahu.. semakin kecil diriku..
Ku masih mengambang di atas air yang menggenang
Mencoba tuk tenangkan gelisah
Jauhnya jarakku dengan kasihmu
Waktu berlalu...
Membuka mata..ku tarik napas yg hanya milikmu
Aku adalah kamu
Kamu, yang lebih dekat dari nadiku.

Friday, April 14, 2017

PERMULAAN

Seolah tiba tiba jatuh dari langit
Atau hujan yang seketika membuatku lari tuk berteduh
Atau pula kilat yang berlari lebih cepat dari suara petir
Aku menemukanmu dalam gelap malam
Hanya aku yang menemukan
Dimana untuk kau sadari semua ini... Perjalanan itu baru saja dimulai
Kau sungguh mengenaliku
Sebatas pohon yang nampak batang, ranting, dan daun saja..
Sedangkan akar..tak pernah mau kau raba
Ku melangkah terlalu percaya diri, hingga lupa untuk berhenti..
Ku ingin Kau lebih
Tanpa ku suarakan.. tanpa hati memaksakan..
Beribu maaf ku bisikkan ke langit..
Menyebut namamu
Menyebut namamu..
Hingga dengan sendiri engkau menyadari..
Dengan sendiri kau tak lagi menyendiri..
Perjalanan ini ku mulai tanpa bekal
Dengan waktu lah sebagian ku serahkan
Tapi jangan risau..
Ku punya hal yang tak ingin ku tampakkan
Nikmatilah ketidaktahuanmu akan aku
Nikmatilah waktu hingga akhirnya kita bertemu

Kecil

Masih ku terpaku di luasnya halamanmu
Jingganya senja mengurungku hingga tak mampu berdiri
Kemuning bunga turut mengiyakan
Dan aku kian terpaku
Wangi pagi dan senja tak sewangi tubuhmu
Yang melekatkanku padamu
Seutuhnya hatiku milikmu
Nada gembira maupun minornya
Menangislah biar lepas
Kembali berdua menikam malam
Beribu malam

Senja yang mengurungku melihat malu
Karena lepas darimu ku memuai, sirna dunia
Mengecilku olehnya
Pejam mata tak berani membuka
Tajamnya tatapmu serasa smua ucap
Dan ku terpuruk dalam kesalahan
Hilang pegangan
Terjatuhku dalam kebimbangan
Dan menangis tipis tertahan tangis
Kau berdusta..
Aku tak ada di sana

Sunday, April 2, 2017

Basuari, biru dan rindu

Ku mencuri waktu,
Lembar kertas, amplop, dan pena
Jua merebah, berlindung dengan badan-badan basah
Membungkus sedikit waktu untuk kau nikmati..
Sendiri..

Kau tahu? Berhari hari ku tak kunjung mandi
Peluh menumpuk lalu memuai bersama sengat matahari
Tak cukup waktu
Mereka pun kian dekat mengepung
Sudahkah kau makan? Nyonya.. berapa bulankah?
Ku harap masih sempat ku namai dia
Gentha priambada..
Atau, Pratami..

Jangan habiskan air dalam mata
Setidaknya jangan lakukan sendiri
Percayalah nyonya, ku ada walau tak berupa
Bersemayam jauh di dalam hati

Rindu, waktu kian berlagu
Memangkas detik, tak hapuskan pilu
Tatap langit, mendekatlah dengan jendela
Kita memandang bulan yang sama

Basuari, serdadu biru

Laku.. sumbu... Hilir... Hulu...
Jiwaku perlahan pasrah
Waktu merenggut waktu
Batas waktu terbatas
Langit nan penuh deru
Hujan tangis, caci, dan juga peluru
Hiasi malam pembebasan serdadu

Sendang bening antah berantah
Yang ku dengar hanya gemericik
Mata kau tutup, mulut tersumpal
Janji menjadi janji
Jadi janji hanya janji
Binasalah orang seribu
Termasuk aku..

Kau takkan​ sampai di akhir catatan
Ku rangkai kata sekiranya sukar kau duga
Agar lama kau mengerti..
Ku tersembul dari ruang sembunyi
Terseret caci dan maki

Saat kau baca lembar ini..
Ku sudah tak ada lagi

Thursday, March 30, 2017

Somebody

Seseorang yang masih menjadi ilusi
Siluet di tengah terang pagi
Yang ku datangi mendekat tapi tak kunjung terdaki

Cerita dimulai jauh sebelum ku naiki kendaraan ini
Tanganmu menggapai yang lain tak sedikitpun ada aku
Mungkin tak terbayang kan saling memiliki
Temani bicara dan bercanda duduk di sebelahku

Percakapan hanya pemanis waktu
Tuk dihabiskan bersama lalu hanyut melagu..
..kan hari hari sepi yang kini kian terisi
Kau dan aku sama sama tak lagi merasa sepi

Seseorang yang kini kian menjadi ilusi
Siluet di tengah tenggelamnya matahari
Bagian yang selalu didambakan
Berada erat dalam dekapan

Kesulitan Menyesuaikan Diri

Jadi saya rasa rasa semua ini berawal dari awal masa SMP, semua kesulitan beradaptasi dengan lingkungan sudah sejak lama saya alami dan saya sadari hal itu sangat menghambat pergaulan sehari hari. Dan itu saya alami makin berat saat masa masa SMP dan SMA, pada masa masa itu saya sulit menjalani pergaulan seperti anak anak sebaya lain, sehingga teman teman pun tidak banyak dan lingkupnya sempit. Hal itu sedikit terbawa pada masa kuliah, dimana saya merasa banyak muncul ketidakcocokan dalam pergaulan, namun seiring berjalan waktu dan keinginan untuk berubah, masalah itu kian terkikis, apalagi karena saya memaksakan diri untuk mengikuti banyak organisasi dan kegiatan bermusik seperti ngeband. Ya..! Menurut saya salah satu hal yang membantu meningkatkan kepercayaan diri dan keluwesan saya dalam bergaul salah satunya yang paling besar adalah dari kegiatan bermusik, dengan bermain musik di depan orang banyak diri saya dipaksa menjadi luwes dan tidak terlalu pemalu seperti masa masa sekolah dulu. Namun anehnya, saya hanya merasa luwes dan pede di luar lingkungan kampung halaman saya, saya benar benar merasa tidak nyaman ketika bergaul di lingkungan rumah orang tua saya, saya pun pemilih dalam bergaul, tapi saya tidak pernah menutup diri sekarang, saya berani menyapa dan sedikit berbasa basi sekarang, tapi untuk urusan berbagi pikiran saya belum mampu, terlalu banyak gap di sini saya rasa, bukan karena urusan pendidikan,tapi saya memang tidak suka lingkungan yang kurang sehat dan terlalu banyak basa basi yang tidak terarah. Di luar daerah saya lebih banyak memiliki teman dengan hubungan yang bagus ketimbang di sini. Jujur, faktor orang tua juga berperan dalam hal ini, orangtua saya sangat membatasi pergaulan saya di sini karena menurut mereka banyak hal yang akan membuat efek negatif ketimbang positif, dan saya rasa​memang benar. Saya sangat benci melihat orang berjudi dan minum minuman keras, mengobrol tak tentu arah hingga larut dan lainnya, saya sangat membenci itu, tapi keadaan di sini adalah apa yang saya benci, dan itu makin memperkuat niatan saya untuk hijrah ke tempat yang lebih baik suatu saat nanti. Sekuat apapun yang telah saya coba untuk mentolerir kebiasaan buruk di sini saya tidak bisa, apalagi karena saya memang tipe orang yang sangat terlihat ketika menyukai suatu hal dan membenci suatu hal pula. Karena sifat  seseorang bisa dilihat juga dari teman terdekatnya, dan saya hanya tak ingin menjadi lebih buruk karena saya sudah buruk. Semoga tuhan memberi hidayah padaku dan lainnya. Semoga semua bisa berubah untuk menjadi lebih baik. Amin

Tips dan trik menulis cerpen

Untuk bro dan sist yang mau dan berkeinginan untuk menulis cerpen atau karya sastra,saya punya beberapa tips dibawah ini, silakan disimak..

1. Kumpulkan beberapa ide untuk ceritamu

 Inspirasi bisa kamu dapatkan dari mana saja, so siapkan catatan kecil kemana saja kamu pergi, lalu tulis semua ide yang kamu dapat. Bagi yang malas membawa catatan kecil di zaman yang sudah serba canggih kamu bisa pake gadget atau smartphone yang didalamnya ada aplikasi write note, tapi saya lebih rekomendasikan untuk mambawa catatan kecil.

Kalo kamu hobby jalan-jalan pasti inspirasi yang kamu dapat akan terpisah-pisah, sampai di tempat A kamu dapat inspirasi untuk akhir dari cerita yang kamu tulis, sesampainya di tempat B ternyata masih ada bagian cerita yang kurang. Terus dan terus seperti itu, maka beruntunglah. Loh ko bisa beruntung? Karena inspirasi yang berbeda-beda tadi akan menjadi satu cerita yang sempurna, maka beruntunglah, kalo kamu selalu membawa catatan kecil kemana kamu pergi.

 Apabila kamu memiliki masalah dalam menemukan inspirasi, cobalah pelajari brainstorming dan kalo masih belum bisa juga, coba lihat orang disekeliling, tah itu keluarga atau kerabat.

 Pengalaman pribadi biasanya menjadi ide yang sangat bagus, tidak sedikit penulis-penulis terkenal seperti Andrea Hirata, Ahmad Fuadi dan lain-lain, menceritakan pengalaman pribadi mereka melalui tulisan.
2. Begin with the basic of a short story

Setelah menemukan ide apa yang akan kamu jadikan cerpen, langkah selanjutnya adalah menuliskan basik ceritanya, supaya apa yang kamu tulis terstruktur. Sangat tidak direkomendasikan untuk memikirkan terlebih dahulu judul apa yang pas untuk cerita yang kamu tulis, kebanyakan orang malas menulis karena sudah dibingungkan dengan judul cerita. Tapi, kalo sudah ada why not ? berikut beberapa basik untuk menulis cerpen;

-Introduction atau perkenalan; kamu bisa menuliskan tentang tokoh utamanya, waktunya, keadaan cuacanya dan masih banyak lainnya.

“gumpalan tipis lembut bagai kapas nan putih itu terus turun perlahan lalu menempel diaspal …”

Seperti contoh diatas, penulis sedang menggambarkan bahwa keadaan cuaca disana sedang bersalju.
- Adegan awal; ceritakan sedikit point utama yang nanti akan menjadi pokok pembahasan
- Adegan penting; mulai ceritakan point permasalahannya
- Adegan klimak; nah, disini kamu tulis semenarik mungkin inti dari cerpen yang sedang kamu buat. Buat mereka menangis dan emosi dengan tulisanmu.
- Adegan akhir; dimana cerita yang kamu buat akan selesai
- Kesimpulan; ending yang menarik adalah ending yang meyelesaikan permasalahan cerita yang kamu buat atau ending yang masih memiliki cerita di akhir, tidak sedikit penulis ternama sengaja membuat penasaran pembaca dengan ending yang masih tergantung.

3. Temukan inspirasi dari orang-orang yang ada disekitar kamu

Kalo kamu memiliki kesulitan tentang karakter apa yang akan kamu buat, coba kamu jalan-jalan entah ke pasar, ke caffe atau ke tempat yang banyak dikunjungi orang banyak, disana akan banyak sekali contoh karakter yang bisa kamu ambil.

Contohnya; kamu bisa menggambarkan seorang karakter yang selalu minum kopi, kalo tertawa dia lepas dan sangat keras, selalu stand by depan komputer atau masih banyak lainnya.

4. Kenali karakter yang kamu buat

Ini bisa menjadi tugas yang sangat sulit, bagaimana karakter yang ada di cerita kamu buat serealistis mungkin. Karakter ini lah yang nantinya akan menjadi ikon di cerita yang kamu buat.

Siapa yang tidak kenal azam di novel ketika Cinta Bertasbih? Siapa yang tidak kenal Fahri di Novel Ayat-ayat Cinta. Sang penulis Habiburohman El Shirazy atau akrab dengan panggilan kang Abik membuat karakter serealistis mungkin, sehingga mudah diingat oleh pembaca.

5. Tentukan siapa saja yang akan bercerita

Ada tiga view yang biasanya menceritakan, orang pertama “saya”, orang kedua “kamu” dan orang ketiga “Dia”. Orang pertama biasanya adalah karakter yang nanti menceritakan isi cerita, yang kedua adalah karakter yang dijelaskan oleh karakter utama dan yang ketiga adalah orang luar yang ikut melengkapi ceritamu.

Bingung yah ? saya juga bingung sebenernya. Contohnya, dalam novel KCB peran utamanya adalah Azam; peran keduanya Furqon dan peran yang ketiga eliana.

Masih bingung juga ? orang pertama azam, menceritakan tentang dirinya yang sedang berkuliah sambil jualan tempe, yang nanti pada akhirnya menemukan sang pujaan hati –Ana Altafunisa; orang kedua Furqon, menceritakan bahwa dia adalah seorang Mahasiswa Indonesia yang sukses dan tampan dan orang ketiga adalah Eliana, menceritakan bahwa dia adalah seorang artis yang cantik dan kaya.

Yang saya ambil simple disini adalah Novel, sebenarnya tidak hanya ada tiga view yang bercerita melainkan lebih, tapi karena disini bagaimana menulis cerpen, usahakan sesimple mungkin, siapa saja yang bercerita.

6. Organize your thoughts

Atau control your mind, Yang dimaksud disini adalah mengatur alur cerita, biasanya setelah kamu mempersiapkan strukur cerpennya seperti yang sudah dibahas di point ke dua, kamu tidak akan bingung menentukan apa yang akan terjadi.

Cerita yang kamu buat akan konsisten dan tidak akan keluar jalur, bermulai dari introduction atau perkenalan, adegan awal, adegan penting, adegan klimaks, adegan akhir dan kesimpulan. Kalo kamu sudah melakukan ini, kamu akan terbiasa menulis dengan fokus, meskipun ada perubahan, kamu dapat merubahnya dengan mudah. Kamu bisa menulis cerpen dengan santainya hingga selesai.

7. Mulai menulis

Dari beberapa point yang sudah ditulis diatas, point penting agar bisa menulis cerpen adalah mau memulainya. Sebanyak apapun kamu mempelajari tentang bagaimana menulis cerpen, ikut seminar kepenulisan, kalo kamu belum berani memulai, maka semuanya sia-sia.

Tidak bisa dipungkiri, menulis adalah perkara yang sukar. Tapi akan terasa lebih sukar kalo kamu belum mau memulainya. Kadang penetuan karakter dan alur cerita menjadi alasan, belum lagi ditambah judul. itu tidak masalah. Simpanlah di draft, point pertama mulailah untuk menulis.

Monday, March 20, 2017

Mengalah

Matahari kembali terbit
Membuka ruang mata kian padang
Terbelahlah pintu pintu pencari impian
Lalu lalang..
Manusia manusia sibuk dengan dirinya
Dengan urusan dunianya..

Matahari kembali terbit
Membuka ruang retina mataku
Mengikis kasarnya ego, kebencianku..
Menjadi seorang guru..
Aku hanya anak..setahuku..

Ego yang besar, kasar..
Berbisik nyaring..
Katanya aku lebih baik dari itu
Lebih baik dari semua yg ditawarkan
Aku membuka mata perlahan
Membuka hati perlahan,mengalah..

Tapi tetap sedikit aku sisakan
Bisik darinya, bahwa..
Aku lebih baik dari itu
Karena pintu tak cuma satu
Tidak cuma satu..

Ku ikhlaskan bila memang berbagi ilmu
Biar tetap teguh pendirianku
Bahwa tak ingin ku ikut menyesatkanmu
Pada dunia yang tak seberapa baku..
Pasti ada sela, jikalau ku mau

Sang pemilik ingin ku terseok dulu
Tak ada alasan untuk berpangku tangan
Karena tak ada balasan kebaikan selain kebaikan

Thursday, March 16, 2017

Terjebak

Tubuh ini sakit jiwanya
Dan ku rasa memang iya
Temanku berucap juga iya
Semacam mengakar, menancap jiwa

Aku sakit jiwa
Tak pandai lagi merasa
Hilang kemampuan lepas tertawa
Serta menerima indahnya realita

Alir air gemericik tenangkan berisik
Kau mungkin kan merasa tenang
Aku yang terusik
Sangat tidak senang

Hari hari beserta alibi
Mudah mencela mudah mencaci
Terperangkap pula deras emosi
Jatuh air mata seperti tali

Ku terlempar ke sana ke sini
Dada ini sesak
Apakah yang harus ku perbuat lagi?
Kian hari kian ku merangkak

Ku hendak lepas jeratan sendiri
Siapapun mohon kembali
Sehari atau dua tiga hari
Lepaskan aku dari ikat simpul ini

Wednesday, March 15, 2017

Gia

Riak dalam
Menggenang, terpapar mata kala senggang
Manusia manusia lalu lalang
Merumuskan hidup, cara ia bertahan
Genting, tenang, termakan arus
Bukan salahmu jua benarku
Tak usah dipaksa
Karena tak kan pernah siap
Seberapapun lamanya tlah ku baca
Menjaga tawa
Tetaplah bahagia

Wednesday, March 8, 2017

Tulis

Aku menulis
Kembali menulis
Apapun ku tulis
Kejujuran dan kebohongan

Aku menulis
Menggambar dalam tulisan
Yang tak layak baca sebagaj karya tulis
Aku terpaksa menulis

Dalam genangan waktu ku tulis
Lembar lembar bingung pada tulisan
Tetap ku tak terkesan
Pada tulisan yang ku tulis

Karena tak butuh aku pada pujian
Pujian belati panjang yang bercabang
Menyayatnyayat pada tangisan
Sisakan pedih sisakan lobang

Aku menulis
Pada genangan waktu ku menulis
Rimbunan hijau pun ku tulis
Gelisah hatimu jua ku tulis

Aku
Menulis kamu
Menulis sendu
Menulis rindu
Antara aku
Dan dirimu.

Monday, March 6, 2017

BIASA

Membiasakan diri hingga nanti ku terbiasa
Terbangun, duduk, merangkai waktu, hingga lelap kembali
Membiasakan diri terbiasa melewatkan semua tidak denganmu
Membiasakan diri membuat biasa yang ku buat seperti biasa
Yang berbeda hanya tak lagi kau kawani
Dalam dalam rapat tak ku ucap
Karena membiasakan diri jauh darimu kini kian ku biasa
Rasaku dan rasamu mungkin sudah tak seperti waktu dulu
Dimana sejenak tak bertemu kita bisa terjerat rindu
Biasakanlah itu... Biasakanlah..
Cepat lambat...
Membiasakan dirimu akan jadi kebiasaanku juga
Ucap saja bahwa rindu menjerat lagi kala memang kau sudah biasa
Sampai kata itu kita dengar berdua..
Kau dan aku benar benar sudah jadi biasa.

Saturday, March 4, 2017

Romansa

Kelambu, menyikap tubuh dalam ruang
Nampak tapi tak mampu ia tembus
Berkeliling arungi sigap angin romansa kelaparan
Ia bakal kandung benih
Tersisa sedikit rumitnya hidup yang seberapa panjang lamanya
Dalam kelambu sepasang tubuh tergeletak
Tak saling sentuh satu dan lain tubuh
Kira kira... Ku duga menduga
Mana yang kan dibela tuhannya?

Rindu dan tengah Sumatera

Samudera surut kan segra
Memuja sang maha pemilik alam smua
Berlutut runtut membawa sekantong tuntut
Manusia tetaplah mahluk berupa
Satu dan perlahan kitari waktu
Tampak, tegak, berbunga, dan layu
Menusuk kulit dingin ini ntah dari mana
Telapak smua berair mendidih namun perih
Riwayat nanti datang berdasi memberi saksi
Lemah lembut lugu tak mempan interupsi
Helai demi helai rambutku tumbang tanpa sangsi
Ku belum kunjungi sam ratulangi lagi
Digigitnya pilu, mahluk besar bernama rindu
Kau sangat dekat dalam nadiku,
Merebah tubuh, duhai..kasihanilah aku

Friday, March 3, 2017

NAFSU

Bukan aku, bukan pula dirimu
Yang bawa sembunyi nyanyian pilu
Bercampur rindu rindu malu
Di dalam sepi melagu rindu

Menghitung dua lalu ketiga
Antara rapatnya bibir bersuara
Dan tatapan tanpa saling sapa
Hanya ada diri dikuasai duga

Berandai dulu kau bisa membuka
Biru tak sama singgah ke langit berbeda
Tiada arti aku kini dan dahulu
Hanya iri aku di posisinya itu

Berdengung

Aku terdiam, menyendiri, kamar sempit pengobat sepi
Rebahkan tubuh, diri ini terguncang
Tiada pagi seperti pagi, tiada malam yang menyenyakan
Merelakan waktu berdenting, kemerincing kian memicing, matanya menaruh harap ,menaruh kencing
Tepat di wajah mengikis malu
Ku kira hidup tak sesulit itu
Menua, membekas dosa pada raut yang terus menua
Aku berdiri di persimpangan mimpi
Kosong tak mendengar bukan ku tuli
Sepi.... Sepi.... Sepi...
Bila ku tak jongkok pagi nanti
Arti perutku penuh kerontang
Gemetar wajah kini ku naik pitam
Memakan saudara memakan jumawa memakan smua di hadapan hitam

Tuhan

Titik kecil di langit mengerucutkan pantulan sinar ke arahku
Aku tersesat di lembah kering penuh debu
Yang mana bila ku bernapas kan terasa sesak dan batuk kian berdahak
Tiada tempat berteduh untuk kepala yang tanpa alas
Merangkak jengkal demi jengkal
Demikian pula masa lalu yang perlahan masuk melintasi pikiran
Badan lemah tak berdaya ini hanya mampu berandai andai ia datang memeluk hangat dan sangat nyaman
Aku tak berdaya dengar langsung suaranya
Hanya dengung untaian nyanyian indah dari corong orang lain
Itu saja cukup menyentuh dan menenangkan
Sejauh apa pun ku pergi lalu terjatuh tiada tempat selain ia ku kembali
Maafnya luas jua lembut kasih sayangnya
Rasa takut dan malu terhempas ketika sedikit saja ku dengar namanya
Kian takut kian ku ingin dekat
Walau perlahan dan merangkak tak tentu kapan ku kan sampai
Ku rasanya dekat dan menuntut erat
Ia tetap memberi meski lama ku tak kunjungi
Rinduku seperti bayang bayang yang tak pasti kelamnya
Namun aku tahu
Sejauh apa pun ku terjatuh dan pergi, hanya ia tempat ku kembali.