Friday, December 28, 2018

DIJARAH

Seperti bulan, yang tak terang sepanjang malam
Yang mencapai titik terpadang hanya untuk waktu tertentu

Seperti itulah gempa yang membawa kabut hampa
Tak selalu tapi pasti memilih waktu
Dari tigaratusan hari dia menandai

Aku mengingatnya sebagai pengingat bahwa aku sedang tak ingat

Perpisahan, kemiskinan, kematian

Dalam perpisahan aku layu
Dalam kemiskinan aku tak punya pilihan
Dalam kematian aku sendiri

Dalam sendiri, aku mati

Bila bulan penuh datang
Aku acungkan gaman
Langkah kaki bersembunyi

Disebutnya namaku, dibisikkan nama namanya, lalu binasalah raga

Tidak dengan jiwa

Kehadirannya mengobrak-abrik kenyamanan
Dengan nyaman yang direnggut, sesenggukanku berlanjut

Tiga hari tiga malam tak ada siang
Tiga ratus enam puluh kali tiga dipenjarakan keinginan

Babak belur raut wajah
Kian kekal ku dijarah

Thursday, December 27, 2018

SELIRAK NYAWA RUANG TADI

Biasanya masuknya kupu-kupu ke dalam ruangan sering dikaitkan orang orang dengan akan adanya tamu yang datang.

Di dalam ruangan yang dingin dan sepi, sepenggal cahaya matahari masuk di sela sela jendela dengan angin yang mengombang ambingkan korden putih.

Di dekat kasur tempatmu tertidur ia menyorot wajahmu yang ku pandangi sedari tadi.

Sesekali kau memasang senyum di situ, sesekali kau menciptakan bunyi yang buatku tersenyum geli.

Antara aku tak tega membangunkanmu atau aku tak rela mengakhiri pandangan ini. Karena biasanya ketika kau terbangun, kau tak sedikitpun mengizinkanku mengamatimu terlalu lama, kau selalu risih dan menghukum aku dengan tampar dari tanganmu.

Lalu aku merebah lagi di sampingmu, menolehkan kepalaku ke arah wajahmu, menikmati hirup udara bersama satu menit lagi.

Dan matamu perlahan terbuka, memberi apa yang sebenarnya dari tadi ku tunggu, senyum pertamamu hari ini, dengan telapak tanganmu yang membelai pipi. Aku dibelai kamu.

Seperti yang lalu lalu.
Yang selalu kau ucap pertama kali, bersama mata lelah dan senyum kecilmu, kau menyambutku dengan "kenapa" mu.

Aku digerakkan ruang ini, angin dan sepenggal matahari tadi seolah mengompori, "kecup keningnya saat ini!".

Sudah, katamu.
Aku harus memberimu makan pagi, lanjutmu.
Dan kau melangkahi tubuhku, meninggalkan bekas lipstik di bibirku.

Nyawa ruang tadi berpindah ke kamar mandi.
Aku mengejarmu.
Meremas lembut tubuhmu, mengecup sisi atas kepalamu.
Beri saja aku kopi, ucapku.

Yang ku favoritkan adalah
Rambut pirang berantakan yang tak kau ikat, lusuh wajah tanpa bedak, dan bau tubuh tanpa guerlain shalimarmu yang mengganggu.

Pagi terus berulang seperti tadi.
Hingga suatu hari kau harus pamit pergi, meninggalkanku satu minggu.

Pagi itu mukadimah perjalananku.
Tanpamu dengan segala lusuhnya, tiada lengkap tenagaku memikul semua beban.

Aku dipasung rindu.
Dosis obat bernama temu tak lagi mempan bagiku.
Mendoakanmu adalah sebaik baiknya caraku mengharapkan keselamatanmu.

Minggu berulang berubah bulan.
Bulan berkali kali berbuah tahun.
Pagi pagi seperti itu tak bisa lagi ku nikmati.

Walau ku sudah melakukan sebaik baiknya cara mengobati ini,
Sebaik baiknya mengakali menyempurnakan mukadimah hari,
Tapi tanpamu, ruang tadi tak ada nyawa lagi.
Angin dan sepenggal matahari pun tak lagi punya arti.

Kecuali,

Kupu kupu tadi,
Datang untuk mengganti kau yang pergi.