Wednesday, March 11, 2015

Lemah

Membayangkan wajahnya
Lentik jarinya menyentuh kulitmu
Rambutmu dibelai lembut
Suara tangisan meraung tinggi
Sakitmu melemahkan tegap dirinya
Kenyangmu menghapus lapar perutnya
Kau begitu bermakna
Berdiri dan ku lihat bayanganmu
Dalam mimpi dan doa melintas hadirmu
Tanganku berkeringat
Keningku panas kau pun cemas
Maafkan semua itu
Hingga dunia tempatmu bermimpi sirna
Aku lah segalanya
Memberi tanpa balas
Lembut kasih tiada batas
Dalam amarah langit yang gemuruh
Hujan pasti ku lihat kau berpelangi
Rintik tetes air mataku
Entah apa tiada kau sangka
Suara itu ganggu tidurku
Bangkitkan amarahmu

Maafkan aku tiada berlinang lagi
Maafkan lembut sentuhanmu berbalas kasar
Tapak kakiku lembah indah pecahan gunung
Kau mencakar langit demi panorama dinikmati dunia
Maafkan aku
Ayah, bunda