Pada pekat malam yang merundung
Tangan itu kencang
Menggulung aku ke perapian
Dihadapkan kepalaku padanya
Ibu jarinya mengusap air mata
Ia berbicara
Sedih selazimnya sedih
Rasa memang harus dirasa
Tetapi yang hidup tetap harus hidup
Bergelimang kosong
Ia bercerita, meletakkan telapak telapak tangannya ke sumber cahaya
Lalu burung burung kecil itu terbang sepanjang tembok yang membentang
Kau masih bisa terbang
Yang tersungkur akan terkubur
Namun tidak mati
Ia akan abadi
Di sini,
Ujung telunjuknya menyentuh dadaku