Thursday, April 18, 2019

Gembira manusia dari masa lalu

Kepadamu
Yang larut dalam kerut dunia, mengerucutkan benci seolah muara di pihakmu seorang.

Aku tersenyum kecil saat lentik jarimu memainkan rantai arloji kesayangan, sambil bergurau kau tarik ia ke posisi yang tak lazim, pelan pelan menuju lengan.

Membawaku pada gembira biar sedetik.

Apa yang membuat semuanya istimewa?
Garis wajahmu menyuarakan hal yang sama, lalu menularkannya padaku yang letaknya entah di mana.

Bahkan ketika kau sebenarnya keluhkan acuhnya perhatian, aku membacanya gemas, segemas ketika kau mencium wangi dari pipi bayi bayi.

Keibuanmu
Mencubit kekarnya egoku

Selain itu, sebenarnya aku sangat iri dengan garis waktu yang kau lewati dengan suka cita.

Sebuah perasaan yang sangat bias, yang bahkan untuk benar benar tahu bahwa aku merasakan itu pun sukar.

Jiwaku dibanjiri sedih, selepas apapun tawa yang ku buang.

Ku iri hingga ingin sekali tuk dilibatkan dalam keisengan keisenganmu yang sempat membawaku pada gembira.

Tapi bagaimana caranya aku melarungkan aku pada duniamu itu?

Dan sejujurnya aku tahu bahwa dunia itu tak semulus gembira yang kau cipratkan itu.

Aku mencoba merasakan kamu, membaca tiap senyum dan sorot mata yang terekam dan kau bagi di setiap garis dimensi.

Iri yang bergemuruh
Meletup letup malu
Mungkin sama seperti milikku.

Hanya saja kau lebih lihai bersembunyi dari kosong kosong ruang yang kau tinggal, kau sisakan satu yang bersih tuk di huni manusia dari masa lalu,

Apakah kau cermin yang memantulkan deritaku?
Mengapa kau sejahat itu?

Adakah celah kita untuk bersatu selagi masih saling menyisakan ruang kosong tuk manusia dari masa lalu?

Apakah perasaan semacam ini terus lalu lalang di sepanjang tarik napasku? Aku lelah, bila harus menyerah, aku bermimpi pulang ke ruang kosongmu.

Aku rela saja bila harus menata ulang meja kerjamu, menyapu debu debu tebal yang telah lama menghinggapi lantai tempat kau dulu menari.

Aku rela menjadi satu satunya penonton tarian itu, lalu ku duduk teramat dekat, mengagumi setiap sendi yang bergerak, dengan bunyi bunyi sepi kegembiraan ini.

Tapi kerelaanku tak berpenghuni karena nyaliku dipecundangi keadaan yang enggan sekali ku ceritakan.

Atau mungkin memang harus selalu seperti ini, menikmati setiap tetes kegembiraan yang terciprat. Entah, ku tak lagi pandai memuji.

Sunday, April 14, 2019

Dalam Beluam

Lama kelana
Menyisir keras
Tanya besar yang mengecilkan kami
Paksa merenggang
Lenggang tangan sebelah nadi

Badan Terasak sesak
Menyelinaplah ia
Terbunuh sang citraleka

Namun jauh di dalam sumpah
Jiwa kami telah menikah
Mencumbui susah
Berguling kebah, merindukan bunga
Janin atas ia dan aku

Jika suram melenda
Aku menyelir dalam tubuhnya
Kibaskan tabir yang merungkau
Membawanya bersembunyi
Menatarnya berhenti mengelabuhi diri

Ia menyengamku
Tak bersisa
Aku lah kekam
Bersemayam di lekuk dadanya
Merasa setiap debarnya
Terbakar oleh marah dan cemburunya
Korban dari ia yang menempikkan derita
Jarak tak bersisa
Yang tersimpan dalam beluam