Yaksa mengetuk
Sedari tadi mengerang
Pintu itu tak juga terbuka
Padahal ada pesan yang dibawa
Untuk penghuni yang larut dalam roman berdua
Garis tinta tlah tertulis
Di atas kertas yang mengering
Dalam lembaran suratnya berakhir
Ia berjalan menuju sempurnanya hidup
Bertolak, berpindah
Melewati kematian
Yang dimabuk cinta akan tuli dan buta
Yang dirundung rindu tak akan lagi malu malu
Dan yang bersedih kan mencari tempat tuk slalu mengeluh.
Yaksa telah lelah mendampingi
Sedangkan kini penghuni tak lagi peduli
Sehingga ia letakkan saja pesan itu
Di atas lantai tepat sela sela badan pintu
Pergi tanpa kembali
Tanpa temu tuk terakhir kali
Penghuni meradang
Karena ketika pintu ia buka tiada satupun orang
Ditambah lagi roman tak lagi berdua, pecah dan terbelah
Dipanggilnya Yaksa
Dipanggilnya penuh tanda seru
Dalam gelap hari yang makin menjadi
Dirinya remuk diserang sepi
Dan Yaksa tak lagi menemani
Pesan yang terinjak kaki diambil perlahan
Membaca dengan rasa
Rasa gelisah, sedih, dan amarah
"Urita dari Suwarnadwipa berbuah kelesah
Tetapi,
Akulah mengkona yang merenta
Aku yang tak lagi jadi pilihan tlah dijatuhi dandapati.
Selagi hidup dalam deret antre
Kuatlah kau seorang diri
Aku tak benar-benar hilang, tak benar-benar pergi
Hanya berpindah
Lelaplah kau dalam tidur, karena hanya dalam mimpi kau bisa menemuiku lagi"