Thursday, December 14, 2017

Urita dari Suwarnadwipa

Yaksa mengetuk
Sedari tadi mengerang
Pintu itu tak juga terbuka
Padahal ada pesan yang dibawa
Untuk penghuni yang larut dalam roman berdua

Garis tinta tlah tertulis
Di atas kertas yang mengering
Dalam lembaran suratnya berakhir

Ia berjalan menuju sempurnanya hidup
Bertolak, berpindah
Melewati kematian

Yang dimabuk cinta akan tuli dan buta
Yang dirundung rindu tak akan lagi malu malu
Dan yang bersedih kan mencari tempat tuk slalu mengeluh.

Yaksa telah lelah mendampingi
Sedangkan kini penghuni tak lagi peduli
Sehingga ia letakkan saja pesan itu
Di atas lantai tepat sela sela badan pintu
Pergi tanpa kembali
Tanpa temu tuk terakhir kali

Penghuni meradang
Karena ketika pintu ia buka tiada satupun orang
Ditambah lagi roman tak lagi berdua, pecah dan terbelah

Dipanggilnya Yaksa
Dipanggilnya penuh tanda seru
Dalam gelap hari yang makin menjadi
Dirinya remuk diserang sepi
Dan Yaksa tak lagi menemani
Pesan yang terinjak kaki diambil perlahan
Membaca dengan rasa
Rasa gelisah, sedih, dan amarah

"Urita dari Suwarnadwipa berbuah kelesah
Tetapi,
Akulah mengkona yang merenta
Aku yang tak lagi jadi pilihan tlah dijatuhi dandapati.
Selagi hidup dalam deret antre
Kuatlah kau seorang diri
Aku tak benar-benar hilang, tak benar-benar pergi
Hanya berpindah
Lelaplah kau dalam tidur, karena hanya dalam mimpi kau bisa menemuiku lagi"

Wednesday, December 13, 2017

Kenapa

Dari sekian kata yang ada, kau slalu memilih satu
Yang paling tidak slalu kau lempar ke telinga
Dan kau ucapkan dengan irama khas yang membekas
"Kenapa?"

Aku coba mengingat
Saat kita sama bersandar
Lalu rayu rayu begitu saja ku lepas bertubi berlarian kepadamu
Atau saat kau mulai risih
Karena wajahku terpaku menghadap bidadari
Begitu juga mata yang enggan lepas pegangan akan kekaguman
Kau slalu menamparku dengan "kenapa?"mu itu

Bahkan saat ku menirukan suaramu ber"kenapa?" Kau masih saja menamparku dengan "kenapa?"
Saat itu kau dan aku berkerabat dekat dengan waktu yang berkasih dengan tawa canda

"Kenapa?"mu itu terngiang ngiang
Di kepala, di telinga, di udara
Sejak kau memilih lari dengan si priyayi bestir
Sekarang aku jadi penyair

Hari ini "Kenapa?"mu datang berkunjung
Dan ku titipkan "kenapa?"ku padanya

Kenapa setelah lama berpisah aku masih saja salah?
Kenapa kau tersentak dan mencabut diri saat lihat ku duduk sendiri?
Dan kenapa walaupun kita tidak lagi bercinta, tetap saja masih saling melempar luka?
Bukankah kau sudah bahagia?
"Kenapa?"