Dari sekian kata yang ada, kau slalu memilih satu
Yang paling tidak slalu kau lempar ke telinga
Dan kau ucapkan dengan irama khas yang membekas
"Kenapa?"
Aku coba mengingat
Saat kita sama bersandar
Lalu rayu rayu begitu saja ku lepas bertubi berlarian kepadamu
Atau saat kau mulai risih
Karena wajahku terpaku menghadap bidadari
Begitu juga mata yang enggan lepas pegangan akan kekaguman
Kau slalu menamparku dengan "kenapa?"mu itu
Bahkan saat ku menirukan suaramu ber"kenapa?" Kau masih saja menamparku dengan "kenapa?"
Saat itu kau dan aku berkerabat dekat dengan waktu yang berkasih dengan tawa canda
"Kenapa?"mu itu terngiang ngiang
Di kepala, di telinga, di udara
Sejak kau memilih lari dengan si priyayi bestir
Sekarang aku jadi penyair
Hari ini "Kenapa?"mu datang berkunjung
Dan ku titipkan "kenapa?"ku padanya
Kenapa setelah lama berpisah aku masih saja salah?
Kenapa kau tersentak dan mencabut diri saat lihat ku duduk sendiri?
Dan kenapa walaupun kita tidak lagi bercinta, tetap saja masih saling melempar luka?
Bukankah kau sudah bahagia?
"Kenapa?"
No comments:
Post a Comment
welcome kids