Hari itu baru saja aku terlelap tiba tiba langsung kedua mata terbuka, seakan firasat yang datang jadi hantu di siang malam.
Aku berlari lalu membanting semua di tanganku sambil berteriak, beliau datang hari ini.
Matanya lebam pipinya merona bekas sapuan air mata
Aku menjadi batu tak bisa berkata apa apa, tak sedikitpun mulutku berbicara hanya wajah yang menampakkan amarah, pada diriku sendiri.
Apa sekacau itu aku merobek lembar lembar harapan? Segampang itu aku abaikan kasih sayang?
Aku hanya ingin menyendiri.
Banyak hal yang ku sembunyikan namun akhirnya mereka cari tahu sendiri, lalu mereka memahami walau sebagian.
Kau ingin berhenti untuk dunia yang baru atau tuntaskan tanggung jawab ini? Lembut ucapnya di telingaku.
Aku diam
Hanya ada amarah, bukan karena cinta mereka tapi diriku yang lelah
I can't solve my problem
Pertemuan singkat itu memberiku arti
Mereka tlah berubah kini
Aku menahan mencari kambing hitam
Entah kamu entah waktu semua ingin ku sesalkan
Kehilangan setangkai bunga seperti runtuhnya awal dunia,
Bodoh
Air mataku tertahan, andai saja kau bisa jelaskan
Kepada malaikat dari tuhan menggendong nyawaku sendirian
Aku rapuh
Tak semudah kau tertawa makan dengan temanmu
Hingga detik ini aku sangat ingin memeluk kedua malaikatku, memohon ampun sejadi sehabis tenaga yang tersisa biar aku lupa,
Lupakan kamu.
Di akhir hari ibu bersandar di bahuku, seolah masih rindu dengan doa kuat di hatinya
Aku pilu
Sekelebat pita hitam kembali berputar di kepala apa saja yang pernah kita tuliskan
Barulah aku ingat dia, tak seharusnya ku lakukan padamu.
Rasa paling romantis
Kau biarkan menangis
Cinta datang bukan pengusir sepi sendiri
Kasih terluapkan tanpa harapan kembali
Suatu saat kita akan saling merasakan
Di waktu yang akan datang.
Teruntuk penopang hati yang lumpuh berdiri, kedua malaikatku.
Dan kamu, sisi kiri sayapku yang robek sebelah.