Hari hari berlalu
Aku kembali
Ada sisi yang terpuaskan, ada pula yang dibiarkan penasaran
Tak jauh langkah memanjang
Tapi sangat lama bila harus ku habiskan sendirian
Lupa!
Belum sempat aku sambangi keraton Yogya
Dan pantatku enggan terlalu sering singgah
Di kelambu warna warni suasana lampu redup
Di belantara yang bermadu cinta mengait asmara
Aku hanya lewat
Dan memandang
Iri dari kejauhan
Diri ini menciut, menjadi kerdil.
Bagai semut yang coba mengangkat paku bumi
Ku berkaca pada wajah wajah mereka
Tapi apa yang terpantul bukan aku.
Ramai Malioboro tak membangkitkan gairahku
Sama seperti jalan aspal lain yang jadi saksi cerita.
Jelas! Aku tak terlibat di dalamnya.
Bertahun-tahun aku tak ingin ke sini
Tak bisa diri menikmati "Istimewa" seperti apa yang mereka bilang
Tapi akhirnya ku terdampar di sini, pertama dalam hidup
Sebenarnya, kota ini ku benci
Di sini teringat janji
Di sini teringat temu tanpa ku diberi tahu
Di sini tempat aku di asingkan
Aku singgah di depan hotel hitam dengan jendela-jendela yang bersinar
Bersama yang lalu lalang aku menepi meresapi sunyi.
Jalanan padat berisi, tapi bagiku sepi
Beradu bahasa sampai jam tiga
Berhenti sebelum ditikam sesak dan dada memberontak.
Aku memaksa diri menikmati terpa angin
Menikmati hilir mudik muda mudi sedang asyik
Saling melempar tipuan
Bias cinta dan nafsu semata
Dan ku nikmati juga dengan tawa
Hantaman malam yang menggila ketika kita saling menikmati
Lara lara menempel seperti butir butir kaca pecah
Aku berdarah, kau mengusap luka, makin melebar dan bernanah
Aku sungguh menikmati ketika wangimu masuk ke paru ku dan orang orang berkaca mata terlihat sepertimu! Kau berserakan sejauh pandang membentang.
Habislah malam, pagi datang, dan aku sarapan
Salah satu emperan di Sayidan
Tembok warna warni dan ramah senyum sana sini
Soto sapi hangat menggoda tuk ku santap.
Ah!
Tak senikmat pesonanya di hidungku!
Wangimu masih menyumbat
Menghalangiku menapaki bumi
Seperti kata ku tadi
Kau berserakan sejauh pandang membentang.