Sunday, September 28, 2014

Sempit

Anak mama pernah berkata apa yang dia mau harus ada, entah bagaimana caranya yang dimau harus ada di depan mata. Mama pernah berkata sabar ya nak nanti setelah kau mampu berjalan tanpa dipegang ku belikan kau sepatu dan sepeda. Di rumah sederhana, hanya ada orang tua dan diisi perabotan bernama cinta hiduplah tiga manusia berbeda usia, dia adalah ayah, bunda, dan bayi lelaki mungil tanpa dosa. Tiap malam jam dua belas lebih sekian menit si mungil menangis mengganggu heningnya malam dan menggugah tidur pos satpam. Ibu terbangun kebingungan, membangunkan ayah yang lelap tertidur di bawah. Tangisan itu disambut senyum dan sindiran manja dari keduanya, "ada apa siii si kecil iniii? Lapar yaaa, nyuu nyuu nyuu, cup cup cup", sambil mengelus pipinya ayah berucap demikian. Bayi itu tetap menangis makin histeris, ibu menggendongnya lalu menyusui bayi itu penuh cinta, ternyata popoknya juga basah. Ayah dan ibu saling memandang mengisyaratkan siapa ini yang giliran mengganti popok si kecil, "ayolah yah katanya mau belajar mengganti popok," celetuk ibu. Ayah tersenyum dan menggaruk kepala, dahinya mengerut heran. Hahaha iya iya, si kecil mau dipegang ayahnya yaa, mana mana sini anak ayah, ayah berucap demikian. Setelah semua selesai, ibu menggendong si kecil lalu menyusuinya lagi dengan lembut ia gendong sambil duduk di tempat tidur dan tangannya menepuk nepuk lembut pantat si kecil, sedangkan ayah merebahkan badannya kembali di tempat tidur sambil sesekali melirik ke arah ibu dan si kecil, ayah pun tersenyum kecil, " seperti apa ya dia besok kalo sudah besar? Si kecil butuh apa lagi biar badannya sehat?" Seru ayah kepada ibu. Ibu tak berucap apa apa, hanya memandang ke meja kecil yang di atasnya berisi kardus makanan bayi dan beberapa popok serta baju, ayah mengerti apa yang dibutuhkan tapi hari itu adalah tanggal dua puluhan, dimana persediaan uang menipis, mungkin bulan depan barus bisa memenuhi kebutuhan si kecil lagi ujarnya dalam hati.
Dulu sewaktu si kecil belum ada dan mereka hanya dua remaja muda penuh kasih, kemana mana bersama menghabiskan waktu untuk sekedar tertawa dan tersenyum. Tak kenal lelah lelaki itu berusaha menyenangkan hati si wanita, hingga di hari redup dan awan memudar seiring turunnya hujan, petir berisik menampar nampar suasana dan langit, bencana itu dimulai. Pulang sekolah mereka berdua terjebak di perjalanan, sepi.... kala itu senja mulai datang dan meredup, jingganya hilang ditutupi kelam, sekelam birahi yang hinggapi di dada. Rasanya getaran yang melemahkan sendi sendi itu makin hebat menginveksi mereka untuk semakin mendekat.
Dipeganglah jemari wanita itu dengan penuh manja, mereka saling malu hingga waktu yang membuat si malu pergi. Mereka seakan menari nari tanpa berdiri, saling bicara mesra tanpa kata, saling mengerti apa yang harus segera dilakukan. Mereka ternyata tak berdua saja, banyak yang melihat dan pengaruhi nurani mereka, hingga tubuh pria wanita itu terkapar tanpa busana, tertidur sejenak setelah nikmat dan sesal menjadi satu dalam suasana.
Wanita itu membangunkan si pria, raut wajahnya kaku, penuh gelisah tiada bersinar. Mereka saling diam, saling sesal dan meminta maaf. Apa lah arti sebuah maaf saat positif mereka menjadi bertiga? Mereka sibuk sendiri, hancur semua hasil belajar dua tahun ini. Orang tua mereka tak mengerti, namun cepat atau lambat bangkai itu tercium juga, kotoran itu terlempar ke muka juga. Hilang sudah kata kata cinta, senyum senyum indah dan manja sepasang insan dimabuk rasa, semua menjadi berbeda atas selebrasi yang berlebihan yang mengatas namakan kata cinta, ternyata iblis tertawa hebat dan terbahak karena sudah berhasil kelabuhi makna cinta mereka.
Mereka menikah, tanpa restu penuh tanpa bahagia lancar. Hambar...
Diusirlah dari kedua belah pihak, berpisah dengan kedua orang tua diiringi melodi kekecewaan semuanya. Harus ku tebus ini semua dengan keringat dan darah. Mereka tak pernah selesaikan studi dan tinggal di rumah kecil hingga si kecil membesar dan mengerti.