Wednesday, August 27, 2014

Tips buat band versi kidscorner

Kali ini saya mau berbagi soal tips bagi kamu yang mau bikin band, mungkin kalo kamu baca tulisan ini empat menit dari hidup kamu bakal sia sia, dan juga kalo percaya akan sia sia juga karena sang narasumber adalah orang yang gagal di band, lol. Ini tipsnya, simak baik baik sambil bales bbm gebetan baru,
Ukhhukk ukhhukk,
Pertama kali yang harus kamu lakuin adalah nyari personil lain sesuai dengan apa yang dibutuhin, jangan sendirian karena itu jadi solo bukan demak atau jogja apalagi band.
Yang kedua setelah kamu nemu personil yang udah masuk kriteria kamu, tentuin genre musik yang bakal kamu mainin, harus jelas lugas secara seksama dan dalam tempo yang sesingkat singkatnya :p,
Selanjutnya kamu harus bangun imej band kamu, siapa yang jadi frontman dalam band harus mampu mewakili imej band kamu, bisa dari permainan dan aksi panggung yang beda atau dandanan khas, semuanya harus selaras jangan sampe jomplang atau menonjol satu orang doang.
Jangan lupa latian rutin buat ngeblen isi kepala masing masing personil,biar mainnya kompak, gaboleh sok nunjukin skill pas main gaboleh juga nurut nurutan doang, harus bisa memposisikan diri di porsinya masing masing.
Selanjutnya jalin relasi dengan siapa aja, komunitas musik, radio lokal, orang orang event, siapa aja deh biar kamu bisa dapet info gigs yang bisa kamu masukin disana,biar band kamu dapet nama.
Lalu, tetap membumi saat kamu merintis atau kalo udah rada famous, jangan posisikan kamu superstar yang bisa sok playboy atau betingkah semaunya,tanpa ada yang nonton gigs kamu,kamu bukan apa apa tanpa mereka.
Jangan lupa tiap nampil pake alat alat kamu sendiri,jangan lenggang kangkung gabawa apa apa,itu nunjukin band kamu kelas mana dan seberapa niat kamu buat main disitu.
Oh ya penting nih, buatlah lagumu sendiri, yang beda, kedengeran aneh sampe orang lain kalo denger dia tau lagu model begitu adalah lagu band kamu, ciri khas itu kekuatan. Soalnya banyak yang hanya ikut tren,misalnya poppunk jadi poppunk semua, post hardcore jadi posthardcore semua, pendengar butuh something new. Kecuali kamu adalah band tribute.
Rajin ikut event, dari mulai kamu bayar buat ikut, gratisan, sampe nanti kamu udah layak buat nerima rupiah dari perform kamu.
Denger masukan dan kritik dari yang liat, yang denger, yang tau lagu lagu dan performnya band kamu, teman temanmu adalah juri tanpa bayaran, biar band kamu berkembang.
Jangan pernah malu kalo udah di stage, misalnya waktu band kamu 10 menit, itu adalah kekuasaanmu, tempatmu, kesempatanmu, show up!! Sebisamu, jangan peduliin ditonton berapa orang, dicibir orang, atau ga didengerin, ngelatih profesional, siapa tau beken, gitu.
Selalu sediain dana buat kas band yang dipake untuk latian atau record materi lagu kamu, siapa tau ada kesempatan buat ngirim demo ke label atau manager yang lagi cari artis.

Itulah tips versi kidscorner,percaya gak percaya mending jangan dibaca, udah terlanjur? :D yaudah siapa tau berguna. Selamat mencoba kids!

Monday, August 25, 2014

Sakura

Mataku meredup melihat langit biru, seperti itu mungkin caraku menyanjungmu, mataku tersilaukan.
Awan awan beriringan ke barat ditiup udara yg tak terlihat, seperti itu pun aku terarak mengikutimu, sedetik memuai dan hilang tanpa harapan.
Terlihat mereka menggantung disana, saat ku tembus berceceran hambar, seperti itu juga apa yang ku rasa.
Tiada tujuan ini agar langit tetap biru seperti kamu selalu ada di hatiku, bahagia harus begitu.
Memuailah seperti dioksida yang ku hempas, hingga aku tak tahu kemana kau bermuara.
Selalu bahagia. Sakura.

Seorang anak dan pohon cemara

Seorang anak dan pohon cemara

Angin berhembus kencang menabrak tubuh lemah seorang manusia yang lupa, saat darah mengucur lembut lewat hidung dan telinga. Suara bom menggema terdengar berisik dalam telinga yang terluka. Tubuh penuh debu dengan pakaian yang lusuh, rambut setengah ikal tak beraturan menyatu satu dengan yang lain di atas kepalanya, merintih kesakitan. Lihat sekitarnya hanya kayu, batu, dan pepohonan rimbun menambah luka batinnya yang tersiksa setelah tiga hari berlari dari kejaran maut yang menganga mulutnya. Langkah selangkah dua langkah tertatih lagi lanjutkan visi dalam retinanya yang berkaca-kaca, betapa malang dalam hati berkata namun apa mau dikata mati pun tak kunjung tiba, mungkin itu arti hidup masih bersisa untuk diselami lagi sisanya.
Ketika malam tiba, duduk saja bersender pohon cemara bersama bayangan hitam tepat itu dirinya, berceritalah dia bibirnya bergerak lambat juga lama. Tiada kawan tiada sahabat sebangsa dari manusia yang bisa berbagi keluh kesah arogansinya terhadap bangsa, iya, iya, dan iya, ulangan kata itu terucap kontinyu bersama harap bias tertidur pulas di bawah sana. Entah sudah jam berapa, bersenderpun dengan harap dan cemas di dada. Perut pun kosong namun masih terihat besar dibanding pergelangan tangan kering dan betis keras kurang berisi, menyedihkan bila dibayangkan. Dia menangis, air mata lancang terjatuh dari pegangannya di kelopak mata, alasan tanpa alasan masih juga tak kantuk tak ingin terlelap membayangkan beberapa tahun lalu masih tertawa mesra dengan seorang bangsawan wanita, cantik rupa dan tingkah lakunya, seperti udara yang terhela, dan mata berkedip yang tak lupa, dia nikmati tiap kehadirannya, selalu menjadi pendengar yang setia untuk tiap keluh kesahnya, dia sudah mati. Serdadu penuh bara di dalam mata menangkap dengan paksa memisahkan manusia yang bercinta mesra, tak bias berbuat apa apa lengannya dihujani timah panas, masih terasa hingga sekarang rasanya bagaimana, dia tak bias apa apa dia mati, dia mati, berharap lupa dan berprasangka yang tak diinginkan, rasa dalam dadanya masih terlalu luas untuk dibabat serdadu biadab penuh peluh dan ambisi tak berhati manusia, mereka babi mereka iblis jahanam, serayanya hingga menangis. Malam itu tiada lagi alasan untuk tetap terjaga dan melanjutkan ambisi, semua terasa sudah selesai untuk semua keindahan di dalam diri. Manusia yang bersender itu pun terlelap tak terasa lelah jiwa dan raganya membawa mimpi menjemputnya paksa, dedaunan gugur selimuti tubuhnya, langit merintih tangis sendu keluar ratapi kisahnya tadi.
Bangun!!!! Bangun!!!!! Hai pemalas! Bangunnn!!! , tubuh meronta tersentak degub jantung berderu cepat, matanya terbuka mulut menganga dirapatkan otaknya, dia menangis lagi memukul tanah memukul batu memukul pohon di belakangnya. Tuhan aku tak kuat!! aku tak kuat!!, semuanya lenyap!, semuanya hilang!, namun aku kau utuhkan, terselamatkan yang harusnya terbunuh, aku tak kuat! Ucap mulut bengis sang lelaki. Tangannya menambah luka, kejadian dulu tak pernah terlupa. Berdirilah dia tertatih menahan luka langkahkan telapaknya lagi mencari ujung cahaya. Tangannya meraih dahan demi dahan, sisi lain diri manjanya keluar menjadi liar tak seperti sebelumnya. Masih saja dalam otak dan telinganya terbayang halus lembut orchestra megah saat berdansa dengan yang dicinta, seakan semuanya berjalan indah, pikirnya lupa, yang terlihat hanya dingin dan lembutnya embun embut pagi, tubuhnya terstimulus, bagian tak terlupa dari bayangnya dengan seorang wanita, rambutnya hitam legam bergelombang, memakai gaun pesta dan dia memegang erat telapak tangannya, memeluknya berputar diantara pesta, di matanya terpancar rasa cinta, manusia yang saling mencinta dengan tangis dari mata yang bahagia, dia sudah tak tahan ingin meronta berharap kembali dalam perasaan yang menderanya sekarang. Dia muntah, darah keluar dari gusi, tangan kakinya mati rasa, lelahnya bercerita cerita lalu yang sudah mati. Hentikan ini!! Matikan ini!! Biarlah aku melihat dia bahagia ke eropa bersama lelaki lain lanjutkan hidup indahnya!! Tahan aku serdadu jahanam!! Babi keparat!!, dia memukul sebisanya, jatuhkan luka mengambil sebilah kayu lalu menghunuskan ke udara sekitarnya sembari dia teriak. Ranjau meledak, empat meter di depannya seekor kijang menginjak benda keji, alat perang itu menghempaskan tubuh manusia itu ke udara dan menghantam batu. Dia tergeletak bercucuran darah dari kepala dan daging kijang yang malang, tak terasa apa apa lagi, tak bisa berucap lagi, tak bisa bergerak lagi, mungkin tulang remuk patah lembut tak sepatah hatinya. Mukanya terbaring di tanah ucapkan salam teruntuk sang wanita, harapkan bila ini sudah selesai bisa bertemu lagi walau terakhir kali, dengan senyum dia melawan langit berucap dalam hati, aku sudah lengkap, aku sudah siap menjemputnya lagi ke pesta, akan aku pakai baju mahalku pemberian belanda, ku naikkan dia ke kereta dan aku payungi dia saat berjalan hingga tiada panasnya mentari mampu menembus kulitnya, dia terlelap. Masih terbaring, mata melihat seorang berjalan, dia wanita, cantik rupa dan tingkah lakunya, rambutnya hitam legam dan bergelombang, seketika tubuh lemahnya mampu berdiri meraih telapak tangan wanita itu lagi, dan menari bersama dikelilingi pohon cemara setia yang temani saat terluka, aku tak kuat, aku bahagia, bibirnya tersenyum. Ledakan lagi, tubuh sang manusia terhembas hebat entah jatuh dimana, tak bersisa. Dia lupa, sedang menari bahagia tak hiraukan tubuhnya lagi, pergi ke pesta lagi bersama wanitanya, terncinta, dalam surga.