Dimana lagi kamu kan pergi?
Tak terbayang hidup jauh sesingkat ini
Sekian detik lagi ragamu menua
Seiring hari hari terisi untaian fana
Ketuk demi ketuk
Bising ucap kepala ke telingaku
Hidupmu berkutat dengan rindu
Pada waktu yang berlalu
Pada waktu yang berlalu
Tiada tenang selagi pijak langkah masih tampak
Entah berdiri entah tergeletak
Diriku adalah kamu
Kamu adalah sebagian rahmatnya untukku
Tidak pernah cukup ku habiskan walau sedikit ku resapi biar berhemat
Berharap panjangnya pertemuan kita
Apalah daya
Apalah daya
Ku nikmati ini tapa rasa bersalah
Sekian lama ku terpencil dalam pikiranku
Kehilangan dua tiga seseorang menjadi bukan perkara susah
Benci,dicaci sudah biarlah
Jiwa yang sendiri merasa menyendiri
Kau buka mata dan kau buatkan kopi
Biar ku melihat indahnya kau berbagi
Kesenanganmu yang kau rasakan sendiri
Jikalau daun jatuh slalu di bawah pohonnya
Aku pasti tak seperti ini
Tawamu menampar mimpiku akan dunia
Dan kau tahu,kau bukanlah yang pertama