Saturday, March 4, 2017

Romansa

Kelambu, menyikap tubuh dalam ruang
Nampak tapi tak mampu ia tembus
Berkeliling arungi sigap angin romansa kelaparan
Ia bakal kandung benih
Tersisa sedikit rumitnya hidup yang seberapa panjang lamanya
Dalam kelambu sepasang tubuh tergeletak
Tak saling sentuh satu dan lain tubuh
Kira kira... Ku duga menduga
Mana yang kan dibela tuhannya?

Rindu dan tengah Sumatera

Samudera surut kan segra
Memuja sang maha pemilik alam smua
Berlutut runtut membawa sekantong tuntut
Manusia tetaplah mahluk berupa
Satu dan perlahan kitari waktu
Tampak, tegak, berbunga, dan layu
Menusuk kulit dingin ini ntah dari mana
Telapak smua berair mendidih namun perih
Riwayat nanti datang berdasi memberi saksi
Lemah lembut lugu tak mempan interupsi
Helai demi helai rambutku tumbang tanpa sangsi
Ku belum kunjungi sam ratulangi lagi
Digigitnya pilu, mahluk besar bernama rindu
Kau sangat dekat dalam nadiku,
Merebah tubuh, duhai..kasihanilah aku

Friday, March 3, 2017

NAFSU

Bukan aku, bukan pula dirimu
Yang bawa sembunyi nyanyian pilu
Bercampur rindu rindu malu
Di dalam sepi melagu rindu

Menghitung dua lalu ketiga
Antara rapatnya bibir bersuara
Dan tatapan tanpa saling sapa
Hanya ada diri dikuasai duga

Berandai dulu kau bisa membuka
Biru tak sama singgah ke langit berbeda
Tiada arti aku kini dan dahulu
Hanya iri aku di posisinya itu

Berdengung

Aku terdiam, menyendiri, kamar sempit pengobat sepi
Rebahkan tubuh, diri ini terguncang
Tiada pagi seperti pagi, tiada malam yang menyenyakan
Merelakan waktu berdenting, kemerincing kian memicing, matanya menaruh harap ,menaruh kencing
Tepat di wajah mengikis malu
Ku kira hidup tak sesulit itu
Menua, membekas dosa pada raut yang terus menua
Aku berdiri di persimpangan mimpi
Kosong tak mendengar bukan ku tuli
Sepi.... Sepi.... Sepi...
Bila ku tak jongkok pagi nanti
Arti perutku penuh kerontang
Gemetar wajah kini ku naik pitam
Memakan saudara memakan jumawa memakan smua di hadapan hitam

Tuhan

Titik kecil di langit mengerucutkan pantulan sinar ke arahku
Aku tersesat di lembah kering penuh debu
Yang mana bila ku bernapas kan terasa sesak dan batuk kian berdahak
Tiada tempat berteduh untuk kepala yang tanpa alas
Merangkak jengkal demi jengkal
Demikian pula masa lalu yang perlahan masuk melintasi pikiran
Badan lemah tak berdaya ini hanya mampu berandai andai ia datang memeluk hangat dan sangat nyaman
Aku tak berdaya dengar langsung suaranya
Hanya dengung untaian nyanyian indah dari corong orang lain
Itu saja cukup menyentuh dan menenangkan
Sejauh apa pun ku pergi lalu terjatuh tiada tempat selain ia ku kembali
Maafnya luas jua lembut kasih sayangnya
Rasa takut dan malu terhempas ketika sedikit saja ku dengar namanya
Kian takut kian ku ingin dekat
Walau perlahan dan merangkak tak tentu kapan ku kan sampai
Ku rasanya dekat dan menuntut erat
Ia tetap memberi meski lama ku tak kunjungi
Rinduku seperti bayang bayang yang tak pasti kelamnya
Namun aku tahu
Sejauh apa pun ku terjatuh dan pergi, hanya ia tempat ku kembali.