Emangnya waktu itu kamu pernah nanya?, jawabnya setelah bertahun tahun kami tak saling tegur sapa. Jawaban yang bukan hanya membuat aku terdiam tapi juga berpikir sebentar, dalam hati bilang, iya juga ya.. Aku belum pernah menanyakan jawaban itu. Saat itu, yang aku lakukan hanya secepat mungkin mengambil kesimpulan tanpa memperhatikan sudut pandang orang lain.
Sampai datangnya hari ini, ternyata apa yang dulu ku anggap benar menjadi keliru.
Lalu kami larut dalam cerita cerita lama, menertawai, dan berandai andai kalau saja saat itu jalan yang kami tempuh berbeda mungkin saja hari ini kami masih sama sama. Berandai andai memang manis, tapi berbahaya. Haha
Di sela sela cerita masa lalu kami saling menanyakan tentang hari ini, sudah sejauh mana berjalan, seberapa luas berkembang, dan tetek bengek lainnya termasuk urusan berat badan & destinasi liburan. Tak jarang kami pangling satu sama lain. Celetukan semacam "setauku kamu dulu gini deh, ya ampun beda banget sama yang dulu, dll" muncul menjadi bumbu rempah penghangat obrolan.
Sesekali aku menunjukan foto foto lama dari laptopku, membuat basa basi dengan bertanya "kamu inget gak ini momen apa?", kemudian melihat dirinya memperhatikan foto itu sambil bersikeras mengingat ingat adalah bagian paling menggemaskan.
Hmmm apa yaa, aku inget tapi samar, jawabnya sambil memasang muka bloon penasaran.
Dalam hati aku sedikit kecewa ternyata kekuatannya menjaga kenangan kami tidak setangguh diriku. Aku bahkan masih ingat detil detil seperti itu hari apa dan jam berapa, tapi dia tidak. Tapi ya udahlah ya.. Long term memory orang beda beda, hehe.
"itu jumat malam, kita berangkat gerimis gerimis jam tujuh malem, di jalan kita kebingungan mau kemana, lalu asal berhenti di tempat makan yang ternyata ga enak", ucapku. Dia pun tertawa seolah olang pintu ingatannya terbuka seketika. Obrolan kami memanjang menertawakan foto foto ini. Sungguh mengasyikkan.
Sampai di suatu menit celetuk meletup dari mulutku, "kok kita ga bisa sama sama ya?". Emangnya waktu itu kamu pernah nanya?, jawabnya. Sorot matanya seperti menagih janji dari bibirku, sungguh manis dan menggoda. Sedangkan diam membungkamku yang berpikir kenapa waktu itu terlalu takut untuk menanyakan pertanyaan itu.
Iya kan? Kamu ga pernah serius buat nanya, masa aku tiba tiba jawab?, ucapnya lagi.
Seperti sudah menemukan titik rebahan ternyaman, dia langsung nyerocos panjang menghakimiku. "aku tau kamu kecewa, kamu pikir aku enggak?, aku nunggu tapi kamu datang menggandeng orang lain dengan santainya, kamu emang selalu datang di saat yang salah".
Aku pikir foto foto itu menjadi tombol switch dari obrolan hangat menjadi dingin. Kata kataku habis, yang bisa ku lakukan adalah mendengarkan suaranya dengan muka teduh & mematung.
Mungkin karena sudah puas atau nelangsa melihatku bisu, tiba tiba dia menepuk pahaku. By the way kami duduk bersebelahan.
"aku juga nunggu", ucapku.
Ternyata kami saling tunggu tanpa berani untuk jujur. Seolah tak ada yang berani untuk berjuang, hanya memupuk rindu, melihat dari jauh, lalu saling menyimpulkan tanpa berani menanyakan hal sebenarnya.
Seandainya aku mau sedikit lagi memberanikan diri mungkin jalan ceritanya akan berbeda kini. Tapi belum tentu juga, siapa yang tau?
Kami mengakhiri obrolan dan pulang ke rumah dengan rasa puas. Tak ada obrolan lagi setelahnya karena kami sudah hidup dengan wadahnya masing masing, dan kami saling menghormati cerita baru yang tlah lahir.