Sunday, November 28, 2021

seGaris

Akselerasi dan belah
Dimensi lembut mudah
Terbelah saling silang 
Saling sayang
Terakselerasi mudah
Lembut lewat lidah
Menggambar silang
Jari di dada
Pertanda janji abadi
Mengendap lama
Kasat mata

Di garis yang sama
Saling temu
Terendapku dalam
Nada minor jauh
Frekuensi rendah
Di bawahmu jatuh
Tiada padu
Saling temu
Ketidakmungkinan

Kau dengar, lihat, dan rasa
Ku rasa, lihat, dan dengar
Pagi cerah menyorotimu
Raut wajah sarat syarat 
Bahagia tidak cukup sekadar ada
Pada atribut yang tidak ku miliki
Ku tanggalkan ketidakpunyaanku tanpa apa apa
Apa apa yang ku harap ada padaku dan kau mengharapkannya

BerbahagIalah DindA


Wednesday, November 24, 2021

bodoh

Tidak ada yang hilang dan terhapus
Semuanya, hal yang tidak seberapa banyak itu masih tertata sama
Seperti saat kita masih berdua
Kendati kontak bergambar abu pun

Sunday, November 14, 2021

hai

Kamu, dinda
Aku rindu
Udah ga marah marah kan?
Jangan marah marah ya
Kapan kita bisa ketemu lagi? 

Monday, November 8, 2021

garis

Tuhan menggariskan pertemuan kita sebagai ujian bagiku
Menurutku Dia cemburu terhadap bagaimana aku memperlakukan dirimu secara berlebih
Sehingga Dia membalikkan hatimu untuk memberikanku sebuah pelajaran besar
Mematahkan garis yang tadinya bersatu, menjadi berpencar dan terpisah
Karena aku gagal terhadap ujian itu
Yang artinya aku tidak cukup pantas untuk bersemayam dalam hatimu.
Tuhan teramat sayang kepadamu

Friday, October 29, 2021

hapus

Ada yang lebih menyala dari bara api
Yang lebih panas dari terik matahari 
Yang tak hanya menggugurkan keringat
Tapi juga air mata
Yang berjalan pelan
Menuruni lekuk pipimu

Kita tak cuma bertempur hebat
Perundingan dan gencatan senjata sudah kita upayakan
Tapi nihil menemui titik temu
Kau dan aku
Tak lagi padu

Ada yang lebih cantik dari dirimu
Yaitu kamu 
Kamu yang waktu itu merengek dan tersenyum
Kamu yang waktu itu itu menangis dan memelukku
Kamu yang waktu itu menghangatkan dada
      Membuat aku merasa nyata

Ku akui dengan penuh kejujuran 
Bahwa berbohong, satu satunya jalan untuk dilakukan
Aku tak lagi mencintaimu 
Tak ada lagi panjang dalam umur yang kita tanam. 
Dia hidup selamanya

Tuesday, October 12, 2021

sambung

Berdua duduk bersandar pada dinding
Kau menghadap alat jahitmu
Memegang kemeja yang mana satu kancingnya terputus

Kau menatapku dengan tatapan berbahaya
Apa lagi arti dari sorot mata manja itu
Kalau bukan kau akan meminta sesuatu dariku

Tanpa bicara pun aku tak bisa menolak apa apa

ya

Terima kasih karna tak pernah sedikit pun menyuruh
    aku tuk berkaca
Tidak memaki ketidakmampuanku menjadi
        sebagaimana mesti yang pantas berada di pentas

Perlombaan lari menuju ke hatimu 
    Memperebutkan balas kasih sayangmu
                sungguh melelahkan 
   Padahal aku bukan salah satu pesertanya

Saturday, October 9, 2021

pause

Tidurku adalah tombol pause
Pada drama yang kau jeda
Tak ada mimpi yang melanjutkan cerita
Murni berhenti
      dan ketika nyawa itu kembali
      merasuki badan, 

Membentur sela sela rongga kedua paru
Gelisah sepersekian detik menyebar ke semua urat
Menyesal rasanya

ironi

Kita mendiami bumi yang cepat berotasi
Cepat mengitari matahari
Tapi bersamaku semua terasa lama
dan membosankan
Bersamaku duniamu diam
Berhenti pada sisi luar arah matahari
Gelap dan dingin sepanjang perjalanan 
Tidurlah satu satunya caramu
Menghindari aku bersuara

menyesali

Kau mengingatkanku pada rasa sakit
Tanpa kau sadari
Aku ditarik mesin waktu
Kembali meratapi kepergian tiba tiba

Meratapku pada detik detik
Tiap hela napas terisak menyisakan ketidakrelaan
Ketidakmampuan menahan tubuhmu agar tetap tinggal
Bersamaku seorang diri
Tanpa ada langkah menjauh
Atau pelukan yang mengendur

Padamu aku tumpahkan dendam
Mencintai seseorang yang tak ada cela di depan mata
Aku larut terlalu memaksa
Melukaimu, membuat kau takut

Rasa kehilangan menyiksa
Menyisakan ketakutan akan salah
Cara melangkah berhati hati enggan untuk melukai
Walau pada akhirnya kau pun terluka
Menghilangkan rasa yang pernah sedikit sopan
Masuk dan berbagi secuil bahagia

Aku lah yang menyesal 
Membiarkanmu menjadi tujuan balas dendamku
Memaksamu menerima apa yang ku beri
Dan aku sakit sendiri karena ilusi ini membuat kita 
Tidak lagi memijaki bumi
Dan berjarak
Seperti bulan

Maafkan aku dinda
Aku memikirkan egoku sendiri
Aku mengabaikan luka yang baru saja mengering

kesalahan besar

Bila tuhan datang
Menawarkan satu permohonan yang pasti dikabulkan
Aku hanya meminta 
Kita ditakdirkan menjadi sahabat selamanya 
Tanpa ada perasaan yang melewati batas
Atau rasa ingin memilikimu melebihi kapasitasku
Sehingga usia napas kita akan jauh lebih panjang
Sehingga kau bisa merepotkanku kapanpun kau mau
Sehingga aku akan selalu jadi tempatmu menumpahkan air mata air matamu
    dan aku tak perlu melukai perasaanmu seperti ini
Kau tak harus tau bengisnya aku memperpanjang rasa dendam 
Kau sungguh tak layak untuk mengerti 
Kita sungguh tak pantas untuk saling menyakiti


Wednesday, September 29, 2021

nyaman

Dari sapa
Tatap itu berawal
Perhatianku kau ambil
Disembunyikan hingga saat ini

Padamu ku tak pernah bosan
Tempat nyaman untuk ku peluk pulang

Monday, September 27, 2021

kereLaan

Jatuh cinta adalah
Pada siapa hatimu siap dipatahkan
        Menyayangi adalah rela membagi tanpa mengharapkan
        balas setimpal seperti apa yang kau inginkan

Menyayangi, tentang bagaimana bahagianya selalu nomor 1
Padamu telah ku jatuhkan
Aku yang tak punya apa apa

Friday, September 24, 2021

AWAL

Penghujan
Basah air yang jatuh menempel kian rapat
Memandanginya kosong
Menyimpan kemelut baru di uluh hati
Tentu saja lebih baik dihantam genggaman tangan daripada pahitnya manis ucapan

Berteduh
Masih di bawah kibasan angin menampar wajahku
Bersama air dingin walau tanpa petir
Tersambar aku oleh kenyataan
Tidak ada cinta walau sebesar biji sawi
Tidak ada ketidakrelaan atas kepergian yang sebentar lagi 
Ratap meratapi
Kita saling menyakiti

Payung dan selimut 
Binatang buas terbiasa bergelut dengan hawa napsunya sendiri
Bergelut dan sering kali kalah
Dia lapar dan dia ingin
Hingga kalah bahkan mungkin membunuh dirinya sendiri
Pada kulit antara pipi dan matamu pernah ku hapuskan dengan kemeja
Muara duka yang kau tampakkan pada batinku yang juga tersiksa
Ku ucap, aku pun merasakan kesedihan itu hingga hari ini
Hingga di hari kau tak lagi mampu menerima ceritaku dan peran dia dalam jalanan penghidupanku
Lalu ku ucap selamat tinggal 
Pada dia yang telah kekal
Kau tetap tidak percaya
Kendati pelukku ingin memelukmu
Badanmu dingin
Mati rasa

Duduk menunggu reda
Waktu yang hilang tidak akan terganti
Tapi momen bisa direkayasa dengan sedikit berpura pura
Menyedihkan, aku meratapi kenyataan itu
Menunggunya menghilang entah sampai kapan
Sempat ku paksakan tapi menyakitkan
Kini rasanya malam berganti malam
Senja muram tak seindah lagu lagu mereka
Tidak ada lagi yang istimewa dari dirinya
Seiring waktu terganti kamu
Kau ganti dengan kelabu yang baru
Kian deras hujan berlanjut 

Bau tanah dan pulang 
Gadisku yang tersesat
Di belantara kau mencari
Mata mata itu siap menerkam
Merebut hatimu yang belum siap bersenandung
Melodi cinta sejati
Aku serahkan jiwaku kau lukai
Ku cukupkan aku agar tak lagi kau sibuk mencari
Walau batinmu tak puas
Aku cuma punya atribut ketulusan 
Tak mampu berlayar ataupun terbang, membawamu melihat awan menikmati deru ombak seru menggulung 
Aku tak ingin kau tersapu
Terseret dan tenggelam
Hipotermia dan kehilangan kesadaran
Aku sangat sedih bila kau mati
Terluka
Dan merasa sendiri 

Aku ada
Aku ada


Tuesday, September 21, 2021

SELAMAT

Selamat menikmati
Dini hari gelap yang bukan malam
Tidak juga pagi
Yang terlalu telat untuk tidur dan terlalu gelap untuk mulai berjalan

Selamat datang lagi hari hari tanpa desir darah dari dada
Tanpa agenda selain tentang kerja
Tanpa seseorang yang ingin ambil hatinya kecuali keluarga

Selamat menjalani masa masa sedih
Selamat menemukan kembali
Di lain hari

SUDAH

Penyesalan tidak pernah hadir sedikitpun
Meski bayangan
Kau meminta atau berdiam
Ku membaca
Semampu yang ku bisa

Pada relativitas dunia
Kembang kempis makna terpenjara
Mengikatkan padamu
Apa yang terlepas
Sudah terlepas

Tak berani ku tatap wajah sendiri
Malu menghantui
Dengung ucapan ucapan mereka
Kepadamu
Yang tercinta 

Singkat yang terasa padat
Terlewati yang terasa lama
Baru yang terekam usang
Tidak lagi mengembirakan hari
Redup ruang lampu jalan bertebaran
Mengiringi jalanku keluar
Seorang diri
Seperti tamu yang tidak diharapkan datang

Alasan alasan agar tidak nyaman
Sebegitukah rasanya untuk pertama kali? 
Malu sekali
Masuk tanpa ada yang menyambut
Pulang tak ada yang menutup

Merendahkan diri
Di hadapanmu ku memuji
Setinggi langit dari dalam hati ini

Aneh sekali menikmati hujan tanpa dirimu
Asing sekali membeli minuman yang biasa kau pesan
Yang bahkan aku tak tau rasanya
Kini di hadapanku
Diam tak tersentuh

Karena biasanya kau yang memegangnya
Dengan senyum tawa gadis kecil yang sangat ku suka

Sudah
Sudahlah

Monday, September 20, 2021

DI PANGKUAN BULAN

Hai sayangku nan jauh di sana
Maaf akhir akhir ini aku dengan mengalir
Menuruti permintaanmu untuk mengabaikan keberadaanmu

Aku menemukan seseorang sayang
Orang yang membuatku nyaman, dan dia bilang aku juga begitu
Tapi, kami tidak bisa berhubungan seperti kita dahulu
Dia tidak bisa. Entah apa alasannya. Walau sudah ku lawan diam diam untuk selalu ada, berharap dia berubah pikiran.
Tapi malah aku diusir, hehe. 

Sayang, bayang bayang cerita kita mempersulitku
Ternyata bermodal baik dan jujur saja belum cukup
Dulu, kita hanya mabuk dengan cinta
Seiring aku menua sedangkan kau abadi
Ternyata hidup bersama lebih dari sekadar ada bersama

Tapi sayang, aku senang sekali. 
Aku sudah melakukan hal yang sangat ingin aku lakukan denganmu waktu dulu tapi tidak bisa karena keadaan.
Keadaan keuanganku. 

Aku bisa membelikan ini itu semauku, aku sudah berani mengajak ke sana kemari, menuruti permintaan ini itu dan memberi kejutan. 

Hal yang ingin sekali aku lakukan padamu
Tapi baru terwujud sekarang
Tapi kepadanya

Sayang, maafkan aku menghubungimu ketika terluka saja
Karena tidak ada tempat yang mau mendengar ceritaku
Tidak juga dengannya

Masalah yang dia punya banyak sayang, aku tidak tega untuk menceritakan kepahitanku walaupun sangat ingin. 
Aku tahan tahan sampai sering kali ngambek kepadanya. 
Sampai aku lupa bahwa kami bukan siapa siapa. 

Tapi, entah. Kami pernah larut dalam waktu. Sama seperti yang pernah kita lakukan dulu. 

Sesuatu yang membuatku enggan melupakanmu. Tapi dia seolah mudah melupakan. 

Ohya
Dia marah padaku, tentang hal yang sama, hal yang membuatmu pernah mendiamkanku selama seminggu. 

Tapi bedanya, aku sudah bisa meredam, sayang. 
Aku tidak memaki maki dan marah marah seperti yang pernah ku lakukan padamu. 

Tapi sayang, kenapa dulu kau masih sabar menghadapiku? 
Kenapa? 
Padahal sangat banyak alasan untuk pergi. Walau akhirnya kau pun kini pergi. 

Apakah surga itu indah sayang?

Ingin sekali aku mampir
Memelukmu dan menceritakan hal tadi tepat di depan wajahmu
Bila itu terjadi, kau harus tahan melihat wajahku tertekuk lusuh karena menangis. 

Aku kesepian sayang

Tapi aku sudah mencoba, dan gagal

Lalu mereka menamaiku penjahat, menyamakanku dengan mantan pasangan pasangan mereka. 

Mereka tidak paham bagaimana kita pernah bersama. 
Aku tidak pernah meninggalkanmu kendati aku marah. 

Aku tidak pernah mendua walau godaan datang dari belakang layar. 

Aku jadi teringat bagaimana kau cemburu saat perempuan remaja itu mengelilingiku dan mengajak berfoto

Kau pulang ke kos sendiri dan tidak bisa dihubungi

Lucu sekali ekspresimu

Senang sekali merasakan rasa diinginkan dalam hidup

Senang sekali merasa menjadi sesuatu berharga yang tidak ingin dilepaskan

Senang sekali merasa dimiliki kamu. 
Waktu dulu

Tidak bisakah kau doakan aku disamping orang tuamu? 

Doakan aku bahagia dan merasakan hal hal tadi lagi

Tanyakan kepadaNya masih adakah kesempatan aku menemukan seseorang yang menyayangiku dan aku pun sayang padanya? 

Tapi sayang, aku lelah
Aku sangat lelah

Peluk aku sekaliii lagi
Biarkan aku memelukmu erat sekalii saja

Aku sangat membutuhkannya malam ini


SEBELAH SISI

Ajari aku, walau ini sangat terlambat
Bila kau mengizinkan dan memberiku waktu bercerita
Ada banyak buih lautan yang ingin ku tumpahkan di hadapanmu
Bahkan aku sendiri tidak tau
Mengapa aku seperti ini, walau
Sungguh.. Sungguh.. Ingin ku berubah setangguh beton 
Setangguh kamu

Ada banyak yang ingin ku jadikan alasan
Banyak yang ingin ku salahkan
Termasuk diriku sendiri 

Dan rasa ingin memilikimu yang tidak terkabulkan
Menambah derita untuk menyalahkan diri ini
Mengapa tidak bisa
Kenapa bukan aku

Bukan untuk pertama
Sebelumnya pernah ku dengar dan baca kalimat itu
Tapi bila kau mau menerima sanggahanku
Hari ini lebih lebih sudah membaik
Hanya belum sempurna
Belum berbuah visi yang indah

Hari ini aku jauh bisa menerima ucapan ucapan kecewa
Dulu aku melawab dan menolak penuh amarah
Hari ini aku pasrah
Memang kenyataan pahit harus diterima
Sambil aku mencari gula agar bisa sedikit terasa manis

Lelah tapi yg hidup harus tetap digendong
Di pundak dan punggung yang penuh ini
Aku memimpikan seseorang yang antusias mendengarkan ceritaku
Seseorang yang tidak lelah menghadapi anak kecil yang bersemayam dalam tubuhku
Akan sangat senang bila dia mau bersabar menumbuhkan dirinya hingga dewasa

Tapi aku ingin menyanggah lagi
Aku sudah berusaha
Membuka
Mencoba berhati hati
Tapi tetap gagal

Berulang kali
Patah hati
Atas keyakinanku sendiri
Harapan sebelah sisi

Saturday, September 18, 2021

mati

Mengobatimu dan
Aku
Terbunuh

mengapa

Uluh hatiku perih ditikam tajam
Lemas terbius 
Hilang rasa
Sakit sekali

PAYAH

Diambil sebagian dariku
Tersembunyi jauh di dalam
Tertutup tangis, gelisah, amarah
Milikmu seorang

Setangguh tanah dipijak kaki
Badan melindungi terpaan 
Payungi siang malam turun hujan
Mendalam dirasakan
Sebelah perasaan

Anggun bermain
Tarianmu membutakan mata
Hati
Dan luka hilang ntah kemana

Tapi yang terluka
Melukaiku atas salah salah mereka


RUMAH UNTUK PULANG


Rumah adalah bangunan, dinding dinding yang berdiri dia atas hamparan pondasi dan saling menempel satu sama lain, biasanya direkatkan dengan semen yang dicampur pasir dan bebatuan.

Terdapat atap yang berfungsi melindungi isi rumah dari terik dan hujan, dari hal hal jahat dan dingin. Walau konsekuensinya menutup pandangan orang yang terlentang untuk melihat gugusan bintang bintang di kala terang.

Rumah biasanya berisi orang orang, jin, perabotan, sesampahan, kebahagiaan, juga kesedihan.

Rumah juga biasanya terdiri dari ruang ruang, ada juga yang hanya memiliki satu ruang, tapi paling tidak dia mempunyai satu ruang untuk dihuni, untuk penghuninya hidup dan berlindung. Walaupun tidak semua yang hidup mempunyai rumah dalam bentuk bangunan untuk hidup.

Ada yang menjadikan buasnya kehidupan sebagai tempatnya untuk hidup

Rumah adalah tempat melepas Lelah, duduk dan pulas tertidur, bersenggama dan mengikrarkan adzan pada telingan kecil anak anak mereka

Rumah adalah tempat di mana ayah mengomel dan memberi hal hal menyenangkan, tempat ibu mengusap rasa sedih dan mengajarkan cara membaca dan beribadah

Rumah adalah sesuatu tidak berwujud dimana Ketika aku masuk ke dalamnya, aku merasa nyaman dan ingin berlama lama merebah di sana.

Rumah adalah keterbukaan yang juga menyimpan misteri secara bersamaan

Dimana menemukan uang di pakaian bekas dan mainan masa kecil terasa cukup membahagiakan dan membawa waktu waktu lampau yang terbuang

Maka dari itu rumah juga adalah mesin waktu.

Tempat apa apa saja yang hidup di dalamnya berkembang dan tumbuh, menyusut dan menghilang.

Rumah juga merupakan investasi

Kata mereka yang tidak mendiaminya

Rumah itu hanya bangunan

Karena rumah itu kamu

Tempat singgah semua rasa dan emosi, romantisme beserta hal hal hiperbolik dan kemurnian

Tempat semua ingin ku tambatkan dan di setiap waktu ingin ku libatkan

Rumah juga sesuatu yang ingin ku ketuk pintunya untuk masuk dengan sopan

Dan tidak buru buru untuk duduk sebelum dipersilahkan

Tapi kamu, rumahku sendiri, aku tidak perlu ijin darimu untuk melakukan segalanya

Karena rumahku, kamu, adalah kejutan yang tidak pernah ku duga sebelumnya

Tempat di mana ku ingin pulang

Tempat di mana aku rindukan setelah perjalanan jauh

Kau lah rumah impian itu

Dan ingin sekali ku gantikan menjadi kalian

 

Monday, August 23, 2021

bercerita

Seperti pejuang ranah komedi bilang, bahwa mereka akan mengupayakan agar komedi menjadi salah satu kebutuhan pokok di era modern saat ini, mereka ingin tertawa menjadi industri yang untuk mendapatkannya tidak selalu gratis.

Seperti itu juga yang ada di kepalaku sekarang, bener bener sekarang nih, hehe. Dalam artian di umurku yang tanggung menuju tua ini kebutuhan akan hiburan / tertawa sangat sangat dibutuhkan. Walaupun kadang kadang tidak selalu membantu keadaan ya, ya tapi mau gimana lagi, hidup harus terus hidup. Walau perasaan senang dan sedih cepat sekali bergantian. 

Selain itu, rasa rasanya aku sudah mulai lelah untuk terus terusan jadi tempat cerita orang lain. Tapi lagi lagi, walau aku sangat menikmati bagaimana orang lain bercerita padaku, tapi lagi nih, asalkan kondisiku prima.

Sedangkan akhir akhir ini kondisiku lagi kurang oke untuk berperan jadi pendengar yang baik. Artinya, aku juga punya sesuatu yang ingin aku sampaikan, aku utarakan, aku keluh kesahkan kepada orang lain. Tapi sayangnya cuy, ga ada yang memenuhi kualifikasi itu. Orang terdekatku tengah bergelut dengan urusan mereka sendiri, dan aku tau, aku tau mereka tidak punya cukup energi untuk mengurusi urusan orang lain sepertiku.

Mirip dengan kondisiku saat ini. Dengan sombong aku akan bilang, mereka beruntung memiliki kepedulianku untuk mendengarkan hahaha. Tapi bagaimana dengan aku? Tidak ada saling* dalam hubungan ini, atau lebih tepatnya aku sangat takut merepotkan mereka.
Kadang kadang aku pikir apa pasang tarif aja ya? Haha, gaklah, gak sampai hati.

Tapi lagi lagi, bagaimana dengan aku? Aku pengen cerita juga ke orang lain, bukan cuma ke tuhan, aku tidak sereligius itu dan sebagai orang yang lebih suka mengekspresikan rasa dengan sentuhan, aku pengen ada sesuatu yang ku pegang, ku dekap erat sampai menangis di pelukannya.

Hashhh, berat sekali menjadi dewasa, berat sekali untuk terus terusan memendam sendiri rasa sesak di hati. Dan tuntutan untuk tetap berpositive vibe saat keadaan tidak baik baik saja.

Yaa ampun. Maaf ya, aku cuma sedikit bercerita dengan gamblang tanpa diksi dalam puisi. Biasanya juga jarang yg paham maksudnya kalo gak aku jelasin wkwk.

Sehat selalu ya kamu. 

Thursday, August 19, 2021

PERAYAAN

Pada akhirnya kami berjumpa kembali
Kawan lama yang telah lama sekali tidak berjumpa
Ngilunya patah hati
Sensasi rasa ketidakpastian, ketidaknyamanan, rasa penolakan
Setelah beratusratus kali senang mendera
Ada waktunya surut menyeimbangkan ego
Atas apa yang aku yakini
Bahwa aku telah sembuh dan kuat
Ternyata walaupun sudah mampu terbang dan berlari
Aku masih bisa tersandung, jatuh, dan terkilir
Selamat malam nasib baik
Selamat menikmati perayaan yang muda mudi bilang
Patah hati adalah sebaik baiknya waktu untuk menyambung dan berlindung
Detik detik yang terabaikan

Thursday, February 18, 2021

BERPULANG

Jika ada yang benar benar aku butuhkan saat ini hanyalah kembali, pulang dalam peluk dan pangkuanmu

Jika kau bertanya adakah yang mampu menyeka mata sembabku? , ya.. Ada, ia hanyalah sedikit waktu saat kau berada tenang di sisiku

Detik ini, mulai hari ini, mungkin rinduku tak akan pernah mampu terbayar lunas

Mulai hari ini, segala sesuatu tentangmu menjadi rajah dalam kesunyian malam malamku menahan rindu

Aku masih menolak untuk meyakini bahwa kau benar benar pergi

Bagiku kau masih ada, menyatu dalam tubuhku yang kering diperas kefanaan dunia

Aku teringat di suatu pagi di hari minggu,

Kau membangunkanku pagi pagi sekali, mengangkatku dengan kedua tanganmu lalu menciumi seluruh permukaan wajahku

Hari sebelumnya kau pernah berjanji akan membawaku pergi melihat bunga bunga, dan kau pun berjanji akan memberiku salah satu dari mereka, yang paling mekar dan merona, ucapmu

Sesungguhnya, saat itu aku belum terlalu memahami tindak tanduk serta rencanamu, 

akan tetapi, kini, harini, 

aku sangat menginginkan momen itu kembali, aku sangat ingin menyimpannya bukan hanya dalam memori di kepala, 

aku sangat ingin menyimpanmu dalam ponselku, jadi, ketika rindu datang menagih tiba tiba, 
Peredam rasa sakit ini telah ku punya, alasan agar rindu itu pergi seharusnya bisa dia terima

Walaupun hanya sementara

Jika kau bertanya apakah saat ini aku sudah bahagia, jawabannya tidak,

 aku tidak bahagia, aku tidak akan pernah merasa cukup, aku akan selalu meminta kepadamu,

 lalu membuatmu kerepotan hingga kau mengomel dan berbalik arah mendekatiku lagi

 memelukku, mengusap air mata, dan membuat aku merasa jadi manusia yang paling dikasihi di seisi alam semesta

Hari ini aku mengandaikan seluruh pertanyaan tadi, bunyi bunyi dalam kepala yang mewujud bentuk suaramu. 

Hari ini aku hanya berharap 

Kau tak akan pernah pergi




Tuesday, January 19, 2021

Alai Belai

Sesungguhnya beralih darimu bukanlah hal yang sukar bagiku, sayang
Tetapi lelaki sejati akan teguh menopang janji
Kendati membuang waktu seperti kau yang membuang diriku dalam kemiskinan, 
Dengan memilih yang lain, yang sesumbar nyawa kan ku tukar dengan bahagiamu, sayang
Walau yang terjadi ternyata lain,
Tak ada mimpi yang menjadi nyata terkecuali lahirnya sang bidadari
Aku membual, mengarang sumpah serapah : kini nikmatilah kehangatan kasih dalam jeruji rasa malu yang terlalu kokoh mengerangkeng derita seumur hidup!
Kini nikmatilah sepi dengan segala tekanan di urat kepala dan ujung limpamu!
Ku teriakan itu dengan kucuran air mata buaya, ujarmu.
Senyum hanyalah bentuk lain untuk mengaburkan derita
Ku habiskan berpuluh puluh kilo jarak dan beribu ribu tahun hanya untuk mengubur janji itu
Akan tetapi, ikrar janji dalam suaramu selalu terngiang di kala malam sebelum aku tidur
Tidur yang jauh sekali dari kata lelap
Bangun pagiku tak pernah lagi berenergi setelah kau pergi, sayang
Tetapi
Aku upayakan untuk menjauhi kemiskinan
Sebuah alasan yang kau ucapkan sebelum pergi meninggalkanku di sini
Lalu ku tanam dalam dalam pada kedua bola mataku yang kian menguning, sekarat, dan kesakitan
Sayang,
Sesungguhnya aku telah berdusta
Hatiku terkoyak melihat kau yang memelas iba
Memasang senyum manis yang tidak semanis dulu
Matamu tak mungkin mampu membohongiku
Sayang, janganlah terpejam
Maafkan aku yang mengabaikan sapaan itu
Kau hanya tidak tau, bertandon tandon air mata sudah ku tumpahkan
Ngilu ngilu pada persendian yang enggan ku rasa hanya demi tetap berjalan
Muka yang diseret tambang robek diadu dengan tanah dan kerikil
Segala kesakitan itu ku lalui hanya untuk mengubur janji
Mengubur namamu dalam sisi gelapku
Aku masih Tidak mengerti mengapa kau tinggalkan aku sendirian dalam kelaparan 
Aku masih sulit tuk percaya bahwa kau tega 
Sayang, bolehkah ku habisi nyawa lelaki itu? 
Bolehkah aku balas luka hantaman tangan pada pipi pipimu? 
Bolehkah aku cabik dia dan ku gantung di atas pusaramu? 
Mengapa kau semenyebalkan ini, sayang? 
Mengapa kau sedelusional itu untuk takluk pada bujuk rayu iblis yang kini sudah membunuhmu? 
Bukankah kita pernah sama sama belajar untuk memperkuat kuda kuda? 
Bukankah kau yang selalu berhasil dalam latihan itu? 
Mengapa kau yang sekarang mati? 
Sayang, sesungguhnya mengganti dirimu dengan yang lain bukanlah sesuatu yang sulit
Iya, sungguh sungguh teramat mudah
Bila kau tidak percaya dengan ucapanku maka bangunlah, 
Tertawakan aku lagi, sakiti aku lagi dan pergi dengan yang lain
Itu jauh lebih baik daripada saat ini