Thursday, July 9, 2015

Tepi ruas

Jangankan tidur,terjagapun ku tak nyenyak
Detik detik menit jemari secara rahasia mencari kamu melihat kamu
Aku hanya iri
Begitu indahnya kebersamaan dan dianggap ada
Lintang tak berpikir salahnya dimana
Tapi tak juga berpikir apa
Dia lelah, maka merebahlah
Aku tak berteman siapa siapa
Pantas saja dia rasakan pikirmu pun ku tak sejalan
Bila cintaiku bicaralah
Sangat membenciku maka tikamlah
Diammu racun dalam darahku
Aku hanya iri
Lintang menangis dalam hatinya
Menghibur sepi, membuka lembaran janji
Rumahku terbuka untukmu
Bila pijak kaki di halamanmu lucuti risihnya

aku paling arah

Bila cinta bicaralah
Diammu racun dalam darahku

Tuesday, July 7, 2015

Suhana dan ayaka

Tiba tiba gelasku tumpah
Berceceran sisa minumku kemana mana
Suara itu membuat debarku bertambah
Ku harap kau tak kenapa kenapa

Ingatku pada pertemuan kita
Sebelum kau terbang berkelana
Kembali berdiam di rumah
Yang mungkin sulit ku jamah

Mampir saja ku tak pernah,
Membayangkan kita bersama di sana
Tapi jarak bukanlah pemisah
Jumpa lah obat saat tinggalkan rumah

Ya, kita sama sama tahu semua makin sulit
Tak sanggup tabunganku hampiri restu orang tuamu
Kita saling cinta tapi mau makan apa?
Rokok pun berat mengganduliku
Walau ku janji tinggalkan itu
Tapi mungkinkah cinta terjalin lagi?

Di sanur ku lihat senyum pertamamu
Memaksa mataku tunduk lutut memujamu
Tak perlu ucapkan cinta dari mulut cukup lihatlah ada di mataku

Sekian lama berkasih dalam waktu
Ku selalu sabar di sini menunggu
Waktu bertemu dan kembali bertemu

Ya, ku percaya dalam raga yang tak mampu
Jiwaku selalu hadir dalam hela napas, walau dimensi yang berbeda
Mungkin di waktu lain kita bersama
Tak ada lagi jarak antara kita

Kita nikah saja yok

Berputarlah aku kembali dalam rindu
Rinduku akan hadirmu
Seperti halnya dia aku pun slalu ingin tahu kamu
Sedang apa sedang merasa yang bagaimana

Aku duduk di potongan kayu
Kala malam menjemput fajar
Lalu merebah antara pepohonan
Udara yang dingin menusuk hingga jantungku
Seperti kemarin aku yang kehilanganmu

Bulan menyeka wajah dengan sinarnya
Seolah bertanya kau ini kenapa
Bolehlah bernyanyi daripada berdiam diri
Menghibur hati dengan caramu sendiri

Aku membayangkan kamu merebah di sampingku jua
Sesekali saling menatap seperti waktu dulu
Waktu kau mempermainkanku dan ku merusak kalian

Ku rindu sangat akan senyummu
Waktu bergulir cepat namun hilangmu tak juga ku dapat
Aku tak kemana mana tak dengan siapa siapa

Ku nyanyikan lagu untukmu
Kau sauti dengan desah napasmu
Hati terpatri di dalam sedang berjanji
Ingin setelah ini kita bersama lagi
Walau saat lupa dunia janji kita bersama
Tidakkah kita menikah saja
Biar lepas kau darinya
Dan seutuhnya milikku

Bulan masih setia dengar suaraku
Suara pilu pendaman berbulan bulan
Mimpi yang berlarut larut

Menikahlah denganku