Thursday, May 18, 2017

Kepalang Pincang

           Udara dini hari masih menusuk tajam seperti biasanya, dan seperti malam yang sudah sudah, malam itu sepi dengan sedikit hiasan desah yang berbunyi. Hewan hewan malam bersenandung, memanggil kawan, mengisi sepi, begitu juga aku yang mencoba melompat tinggi merengkuh imaji.
           Jemari mulai mengetuk dahi meja, tempatku menaruh cangkir kecil berisi air, aku tak terlalu suka dengan kopi maka ku isi saja nyanyian pilu bercampur sedih yang bisa ku teguk sesekali. Aku memang sedang menuliskanmu, mungkin melagukanmu..oh, mungkin bukan, tapi melagukan kepergianmu. Kau yang kini masih bersemayam bukanlah kau yang dulu mengendap  dan meninggalkan kesan, waktu telah mengubah... Seperti apa dirimu.. dan juga cara pandangku. Aku hanya rindu, sejauh apa pun kisah yang terlanjur, atau serusak apapun rasa yang tlah hancur, tak kan bisa merubah apapun.
            Terkadang ku bosan menuliskan sebuah penyesalan, ku bertahan dan berkata ini bukanlah khayalan, kau bukan sebuah luka yang memberatkan, kau lah sebuah rasa yang membuka ku punya mata. Detak jarum jam kian nyaring terasa, dunia semakin sepi untuk ku daki sendiri, mungkin hewan hewan malam pun mulai merangkak berbalik dalam mimpi, tapi aku belum juga selesaikan tulisan ini. Ku berhenti, kata dia aku sudah terhenti, salah besar ku teguh pegang janji.. tak menguntungkan, bodohnya ku punya nyali!, Makin dicaci makin tak sadarkan diri.. lalaiku selamimu, karena beribu putaran bulan tlah ku tempuh, tak kunjung jua ku dapat rasa utuh, rasa-rasa sedikit masam, namun sarat tinggalkan pesan.
             Jauh tinggi kau terbang kembali, tak di tanah yang sama, tak juga dalam dunia berbeda. Sepertinya sudah habis masa, begitulah kira kira. Kau hanya tinggalkan seorang teman yang memantau tapi hanya diam, tak bertanya, kalah bersuara, dia pun tlah menikah.. kau tunggu apa? Sudah! segeralah melepas semuanya. Kau tahu? Kini ku smakin gila karena sakit tak lagi terasa, antara mengharap dan tak mengharap, ku ingin kau banting lagi aku, seperti biasa, paling ku buat lagu, yang melagukanmu, oh bukan... Melagukan kepergianmu.
           Kepalang pincang..
           Satu dua tahun ku tergenang
           Mengendap janji yang tlah basi
           Dan sebuah rupa yang tak kunjung pergi
       Ku tutup, jerit suara tak terdengar
       Pandang matamu dulu kian berbinar
       Lalu lalang.. lalu lalang..
       Ku tlah hancur, tiada lagi seorang penghalang.