Friday, March 16, 2018

DIAT

Aku baru sadar
Bahwa yang selama ini ku ciumi hanyalah imaji

Prasangkaku kamu
Oh ternyata ku dimabuk rindu

Sekian lama lensa merah dan biru menghalangi mata
Ku hindari sudut itu
Ku kira ada kasih yang bermadu
Ternyata hanya kamu aku yang bisu
Terpatri dalam pengapnya potret dahulu

Sial!

Aku nyenyak berjalan
Dalam mimpi disajikan
Gigitanmu di leherku
Tamparanmu di pipiku
Dinginnya bibir mengucap pamit
Bingkisan yang sebenarnya sulit
Sulit ku lupa
Sulit ku terima

Betapa bangsatnya aku
Betapa bangsatnya kamu

Tiba-tiba kau datang
Mengacak-acak kenyamanan
Menghisapiku hingga ambruk
Menertawai aku yang kian terpuruk

Lembar Terakhir

Dia menghilang
Seperti rangkaian kata yang membaur
Dalam kertas-kertas yang terbuang

Dia melebur
Dalam udara yang ku hela
Lalu terbentur pagi yang kembali saat membuka mata

Peperangan telah berakhir
Kau dan aku selesai berjuang

Lembar terakhir yang tersimpan
Berisi potretmu penuh senyuman
Merayakan bertambahnya usia
Atau mungkin, mengisyaratkan sampai jumpa

Hidup itu pelik

Dan mimpi adalah penawar racun
Dari luka-luka yang tersimpan
Atas lembar-lembar terakhir dari sebuah penantian.

BILAMASA

Kita menghangatkan diri dalam ruang yang dingin
Seolah detik adalah jam
Dan hari ini adalah selamanya

Kita ditempatkan berjajar dengan tawa tawa mereka
Memadu kasih seolah mimpi
Dan aku ingin tertidur selamanya

Aku tak ingin terjaga biar hari ini panjang
Agar terus ku daki terjalnya jalan
Karena sampai bukanlah tujuan

Bila pagi datang
Bisakah kau lupakan malam?
Sembunyikan aku dalam bawah sadar
Agar perpisahan tak berubah jadi beban