Aku baru sadar
Bahwa yang selama ini ku ciumi hanyalah imaji
Prasangkaku kamu
Oh ternyata ku dimabuk rindu
Sekian lama lensa merah dan biru menghalangi mata
Ku hindari sudut itu
Ku kira ada kasih yang bermadu
Ternyata hanya kamu aku yang bisu
Terpatri dalam pengapnya potret dahulu
Sial!
Aku nyenyak berjalan
Dalam mimpi disajikan
Gigitanmu di leherku
Tamparanmu di pipiku
Dinginnya bibir mengucap pamit
Bingkisan yang sebenarnya sulit
Sulit ku lupa
Sulit ku terima
Betapa bangsatnya aku
Betapa bangsatnya kamu
Tiba-tiba kau datang
Mengacak-acak kenyamanan
Menghisapiku hingga ambruk
Menertawai aku yang kian terpuruk