Saturday, November 18, 2017

KABA

Kau harus terjaga
Karena terpejam hanya buatmu kehilangan rupa
Buatmu kehilangan ingatan di hari yang akan datang

Kau harus tetap terjaga
Untuk kesekian kalinya sepanjang malam malam bersama
Karena wajah itu akan menghilang bersama kenangan

Kau tak pernah menghitung berapa hari yang berlalu
Berapa detik yang berjalan mundur
Bagimu, ketulusan tiada ukuran
Tak terucap hanya sedikit tersiratkan
Bagimu, tiada kata menunggu
Karena kau tak menanti tubuh
Dirinya hidup bersemayam dalam jiwamu

Kau bercerita padaku bahwa kata adalah benda mati
Dan jiwalah yang membuatnya hidup dengan merangkainya bersama segala sikap
Kau juga berucap bahwa apa yang kau lakukan bukanlah pengorbanan
Mencintai tak pernah merasa berkorban
Kau lakukan karena senang, tenang

Tapi aku menyanggah,
Untuk apa?
Semua yang kau jalani nyaris sia sia
Apa yang membuatmu begitu terlihat menderita di mataku?
Kau tak dikhianati, kau ditinggalkan
Bukan kau tak baik, dia tak menambatkan jiwa padamu
Kau menyiksa tubuh demi puaskan perasaan
Kering di saat hujan
Gelap di antara terang
Aku kasihan padamu

Namun kau hanya membalas senyum
Lalu menyanggahku lagi
Kau tak mengerti mengapa
Kau tak menanam duka
Kau menikmati cinta yang sakral dengan prosesi peribadatanmu sendiri
Kau tak merasa sakit, walau aku tahu dia lah satu satunya obat bagimu

Kau lah rumah megah dengan segala pintu yang terbuka
Dengan ratusan jendela dan pagar tinggi yang tak terkunci
Kau membukanya jikalau dia pulang kembali
Kau yang tak mempersilahkan seorang pun masuk
Demi menjaga ranjangnya tetap sempurna
Kau memang sudah gila.