Saturday, January 2, 2016

Bertanya

Jika malam larut, terlelapkah kamu
Begitu dingin dihempas angit, tak meneduhkah kamu
Aromamu melekat dalam kegelisahanku yang selalu ingin tahu,
Sedang apa kau saat ini
Tiada tempat lagi untuk membuang waktu selain bersamamu
Berhargakah itu
Asap ini begitu pekat, mataku pedih
Begitu jugakah kamu
Bila aku jatuh relakah kau angkat daguku lagi
Saat berlebih suka dalam euphoria mau kah kau menemani
Saat air mata menghampiri mau kah kau sejenak tinggalkanku sendiri
Usaplah sedikit di kedua mataku, maukah kamu
Saat kedua kaki tak mampu menopang tubuh maukah kau antarkanku ke kamar mandi
Maukah kau menyeka seluruh kulitku biar hidungmu tak terganggu
Saat semua habis terjual dan aku sendiri maukah kamu sedikit bekerja keras
Ragaku mulai tak mampu puaskanmu, maukah kau sedikit bersabar akan itu
Saat bibirku mulai bisu mau kah kau ejakan namaNya agarku ikuti gerak bibirmu
Saat ku pergi lebih dulu mau kah kau simpan cintamu satu
Aku tak ada lagi rindu kah kamu
Maukah mengenang sejenak masa itu
Saat sobek kepercayaanmu mau kah kamu maafkanku
Maaf tak segampang itu ujarmu
Maukah senyum sejenak

Bila aku tak lagi ayu mau kah kau menerimaku seperti dulu

Bila tiada pembawa ramai dalam rumah kita mau kah kamu memberi maaf lagi

Bila selama waktu bergulir saat sedihmu tak pernah ku hadir bagaimana kah rasamu

Maukah kau ulang waktu


Bila waktu datang kelopak di ujung mata mau kah kamu bertemuku

Monday, December 28, 2015

Gagak bermata merah

Rumah,  menggelikan..
Gagak bermata merah mencari pengisi lapar perutnya
Pandangannya jeli tiada kepastian dapat tertidur nanti
Apa rasanya menahan lapar?
Apa rasanya lemas hingga tulang kering gemetar menopang tubuh
Kau kalah dengan hewan
Manusia adidaya itu kamuflase imajinasiku sendiri
Meremas remas tanganmu membelai tawa, sungging senyuman menampik waktu
Hewan berbentuk manusia
Imaji kita
Gemercik air, menggelikan
Dia bilang menenangkan tangan membasuh kemaluan
Tak bermakna apa apa
Jalan jalan jalannya berjalan jalan dalam pikiran
Rambutmu terhempas, wangi direnggut hidung mereka dari udara
Ah, aku sudah biasa,  rupawan dalam bayangan
Tak seberapa menenangkan dalam pelukan
Gagaknya masih di langit, perutnya masih lapar
Meluapkan air yang iya hela, hela?
Hahaha hahaha
Aku tidak tertawa, kau percaya?
Ambigu itu tidak ada
Hanya tidak mengerti atau sengaja kau tutupi
Jangankan aku tertidur pulas
Makan pun entah kapan dan dimana
Kemarilah kau turun kepakan, di bahuku atau lenganku saja
Bisa kau ku santap atau kau menungguku mati tergeletak
Kita akan saling menguntungkan, tinggal menunggu waktu
Lebih dulu tinggalkan dirimu, atau aku.

Sunday, December 27, 2015

Roro

Runtuk teruntuk kamu
Berserak serakan serak suara menyeru namamu
Dalam diam ucap doa tengah malam untuk penghuni yang terdalam
Kau dimana dikau kemana?
Tetes menetes tetes air di kiri kelopak matamu
Kau kenapa?
Runtuk teruntuk jiwamu jiwa dalam kesepian
Hidup sekali lagi tiada daya di sini
Daya berdaya lengahku diperdaya hati bergetar menahan rindu
Rindu merindu rinding merinding membaca namamu
Kamu kenapa?
Roro