Sunday, July 23, 2017

Pra cerita MINTA

Langit begitu terang dan matahari sangat terik siang itu, aku sedang beranjak dari tempat tidur ku lalu menilik jam dinding yang berdecak sendiri sejak tadi, ternyata sudah cukup siang untuk ukuran manusia bangun dalam tidur.

Perutku sudah berdendang dari tadi namun tak ku hiraukan ketika terlelap, baru lah ketika ku terbangun rasa lapar mengurung semangatku, rasanya lemas. Ku beranjak keluar rumah kosku menuju mesin anjungan tunai mandiri, maklum.. anak kos di awal bulan selalu rajin sowan ke tempat itu. Dengan sepeda motor ku kebut saja lajunya karena sudah sangat tidak sabar perut ini ku isi.

Benar saja, beberapa deret antre sudah terpajang di depan mesin anjungan itu, karena tidak ingin membuang waktu aku masuk saja dalam barisan, dan cerita ini di mulai dari sini, cerita yang sangat sulit aku lepaskan dalam hidup hingga detik ini, yang membuat aku terseok seok selama akhir perantauanku menuntut ilmu, cerita yang menjadi awal titik balikku menjadi lelaki yang lebih baik lagi, serta cerita yang menjadi benih aku menuliskan cerita yang akan kau baca ini.

Minta, nama seorang wanita yang membuka pintu kala terik siang itu, di depan tempat sowan awal bulan mahasiswa mahasiswa kelaparan menarik uang kiriman bapak ibunya. Aku mengenalnya di tempat itu, dia tidak ada dalam deret antrean, di jauh di seberang barisan, namun waktu membuat mata kami bertemu pandang. Wajah oriental dengan rambut alami wanita kala terbangun dari tidurnya buat aku penasaran, tanpa tersadar sudah dua orang menyalip antreanku tanpa permisi. Entah setan dari mana aku pun memberanikan diri mendekatkan jarak untuk mengenal lebih dalam tentang dirinya. Ku lihat benda tergeletak begitu saja di dekat tapak kakinya, ku jadikan bahan lah hal itu, "mbak, itu punya mbak bukan", ucapku sambil menunjuk kartu tanda mahasiswa yang terjatuh, dia menoleh padaku lalu ke benda di bawahnya, dia hanya menggelengkan kepala lalu menyolek teman di sebelahnya sambil menanyakan hal yang sama. Tidak ada yang mengakui kepemilikan kartu itu. Karena tidak ingin kehabisan bahan obrolan, tiba tiba aku mengajaknya berkenalan, "saya alfa, boleh tahu namamu siapa?", Ucapku tanpa malu, dia menoleh dan memandangku sambil menjawab, "saya minta, apa kita pernah ketemu sebelumnya?". Aku menjawab bahwa kami baru bertemu kali ini, dan rasanya ingin mengenalnya lebih.. sepertinya aku kesetanan sehingga urat malu ku tidak lagi terasa. Hal yang membuatku percaya diri adalah sepertinya dia merasakan hal yang sama. Setelah mengambil sejumlah uang di mesin tadi, obrolan kami berlanjut sampai bertukar nomor ponsel dan pin messenger.

Hari demi hari, pagi siang hingga malam, selama satu minggu pertama aku merasa sangat sibuk bergelut dengan layar ponsel. Gayung bersambut, ajakanku makan malam di iya kan olehnya setelah seminggu intens berbalas pesan,
" Kalau begitu, nanti malam saya tunggu di blackbox coffee ya",ajakku padanya. Dia menjawab iya.
Aku berangkat lebih dahulu ke cafe itu setelah sekian jam berdandan dan berganti baju beberapa kali. Meja telah aku pesan dan ku siapkan beberapa bahan obrolan yang sekiranya menyenangkan.
Setengah jam berlalu, di ujung jalan ku melihat cahaya terpancar dari wajah yang terpasang kacamata di depan matanya, dia datang dengan baju hitam dan membawa buku, hal yang sama seperti apa yang aku kenakan dan ku bawa juga, kami tidak berjanjian soal itu.
Bidadari itu hampiriku sembari melempar senyum hangat yang sudah satu minggu tidak aku lihat.
"Sudah lama? Maaf ya tadi ada urusan sebentar", ucapnya membuka obrolan. "Tidak kok belum sampai satu hari saya di sini", balasku menggoda.
Kami memulai obrolan ketika jarum pendek jam berada di angka delapan, dan berakhir ketika tiba di angka sepuluh.
Dalam obrolan aku menggodanya kenapa membawa buku gambar, dia hanya tersenyum seperti kebingungan harus menjawab apa.
Kami seperti sudah sama sama tahu muara semua obrolan ini akan kemana, dan kami juga sama sama tahu akan ada perasaan yang tersangkut dibuatnya.
Namun kami juga sama sama menutupinya dengan tidak berucap banyak namun aku bisa merasakannya dari tatap mata dan gerak tubuh, kami seolah menari terbuai harmoni, mata kami tak lepas sepanjang malam yang singkat ini.
Ku antar dia pulang ke rumah kosnya, tatap dan senyum itu pun tidak lepas sepanjang aku melaju lambat dengan sepeda motorku.

Sejak malam itu kami semakin dekat, jarak dan juga perasaan, hampir setiap hari aku berkunjung untuk sekedar memberi dia bingkisan atau pun memberi sedikit kejutan dengan tiba tiba aku muncul di depan pintu. Semua yang terjadi seolah kami sudah menjadi sepasang kekasih.
Perasaan yang tidak tepat itulah yang mengantarkan kami ke hubungan yang kurang sehat, kami membangun semua ini di atas hubungan dia dengan lelaki lain. Dan dengan bodohnya aku lantang melanggar itu semua.
Sepertinya aku benar benar sudah kesetanan, urat malu ku tidak lagi terasa.
"Saya mau kamu selalu di samping saya, sudah terlajur hati saya kamu taklukkan, dan saya begitu nyaman denganmu", bisikku padanya.
Dia hanya terdiam, aku tahu dia diselimuti keraguan yang teramat dan tidak bisa memilih, aku pun tidak menyuruhnya memilih, hanya memintanya tetaplah diri ini dia temani dengan perasaan seperti ini.
Berbulan bulan kami larut dalam perasaan ini, kami merajut cerita di atas rajutan lamanya yang sedang lusuh.

Libur panjang perkuliahan adalah salah satu waktu yang paling tidak mengenakkan bagi mahasiswa yang memiliki pasangan berbeda asal tempat tinggal. Hal itu juga yang aku rasakan ketika harus pulang ke kampung dan dia harus terbang ke tempat lain, kami bernaung di langit yang sama dengan pulau yang berbeda.
Malam sebelum kami masing masing pulang, pertemuan adalah hal yang wajib kami lakukan, ku temui dia sedari pagi hingga malam larut, seolah berat melepasnya pulang, pulang ke kampungnya juga pulang ke hubungan lamanya.

Hari Jum'at jam satu yang sedang terik teriknya dia akan terbang, dan sebelum itu aku tidak mengantarnya karena beberapa hal, jadi aku temui langsung saja di bandara. Di sana aku bertemu mala, sahabat minta di kampus.
Mala menyapa, katanya minta ada di depan sana, mala memberi waktu.. dan minta memberi genangan air mata yang tertahan, jangan nakal katanya.. sambil membelai pipiku dan memegang tanganku erat.

Hubungan kami terputus sementara terhitung detik ini. Dan aku harus bersabar untuk memutuskan semua hubungan kami yang biasa tercipta. Hanya sementara, selama dia kembali ke pelukannya.

Kami sama sama tahu cerita ini tidak adil bagiku. Kesalahanku, memberi lebih dari separuh rasa padanya, cinta buta membodohi cara berpikirku, dan yang lebih bodoh adalah membiarkan rasa itu terus terusan membodohiku, hingga kini.

No comments:

Post a Comment

welcome kids