Semalam aku tidur, namun tidak lama kemudian terbangun, duduk sejenak, berjalan mencari air minum, lalu menelannya ke dalam tubuh.
Dua menit berlalu, dengan setengah sadar aku kembali ke tempat tidur dan sepertinya terlelap.
Dalam lelap, cahaya terang menyilaukan penglihatanku sehingga telapak tangan ku jadikan topeng penghalang. Sekelebat sorotnya kembali normal, tapi aku tersentak karena ada seorang bayi yang tertidur pulas dan terbungkus selimut di atas lantai tepat di depanku berdiri.
Pelan pelan ku dekati bayi itu, membungkukkan badan, sambil memandang wajahnya. Memoriku berkata sepertinya tak asing. Itu anakmu, anakmu yang tertidur pulas di sana. Aku ingat betul dari wajahnya.
Dengan kebingungan mataku melempar sorotan ke segala arah dalam ruangan putih yang kosong ini, tidak ada makhluk hidup lain, bahkan tidak ada satupun perabotan di sana, hanya ada aku dan bayi itu yang tersisa.
Tetapi, hanya ada satu pintu keluar, pintu berwarna putih yang tertutup.
Ku gendong bayi itu pelan pelan agar dia tidak terbangun, tapi gagal. Dia terbangun seketika saat ku sentuh tubuhnya, lalu akhirnya menangis entah hendak menyampaikan apa.
Ku gendong dia lebih lembut dan hangat biar paling tidak ada rasa nyaman yang dia rasakan. Tapi lagi lagi gagal.
Perasaan aneh datang merasukiku. Aku merasa menjadi seorang ayah yang kebingungan karena ditinggalkan istri yang entah pergi kemana. Aku sama sekali tidak mengerti ucapan apa yang bayi itu hendak utarakan, apakah lapar ataukah dia ketakutan, aku sama sekali tidak mengerti.
Sambil menggendongnya, aku berjalan menuju satu satunya hal yang bisa ku pegang kecuali tembok putih, yaitu pintu tadi. Aku mendekat, kemudian melihat apakah pintu ini terkunci atau tidak. Rupanya tidak, lalu ku buka gagang pintu itu pelan pelan. Pintu pun terbuka, akan tetapi yang ku lihat di luar masih kosong, tidak ada siapa siapa.
Yang ku lihat hanya hamparan rumput hijau dengan beberapa pohon yang tersusun renggang, seperti halaman sebuah rumah tapi sangat luas ukurannya.
Bayi ini masih menangis, bahkan lebih kencang dan mulai ada sengau dan getar dalam suaranya.
Ku bunyikan namamu, memanggilmu dengan hati hati. Sekali, dua kali, hingga yang ketiga. Makin kencang, lebih kencang dari sebelumnya. Berharap kau ada dan menenangkan tangis bayi ini. Ternyata kau tidak juga datang.
Tapi aku harus mencari sesuatu yang bisa ku pakai dalam upayaku menenangkan bayi ini, sedangkan tidak ada susu ataupun roti, mainan ataupun buai ayunan, kecuali badanku sendiri.
Aku berjalan sambil menggendongnya, mencari cari apa saja yang mungkin bisa ku pegang.
Tiba tiba aku teringat nama bayi itu samar samar, ku sebut namanya lembut di hadapan wajah kecilnya, memintanya bersabar, berhenti menangis sejenak karena aku sangat kebingungan.
Bayi itu membalasku dengan tatapan. Dengan matanya yang sembab berair, lalu tangisnya berhenti. Kami saling menatap.
Aku sadari ada matamu dalam tatapan itu. Dalam hati aku berucap, "mana ibumu nak?", tapi yang keluar dari mulutku adalah kalimat "kau benar benar mirip dengannya".
Bayi itu seolah mengangguk sambil tertawa kecil, tangannya memainkan dasi yang tergantung di kerah kemejaku. Aku kaget, apakah dia bisa mendengar suara hatiku? Mengapa sekebetulan ini?.
Aku melihat sebuah pohon rindang beberapa meter dari tempat ku berdiri, ku bawa bayi ini ke sana untuk duduk dan berteduh.
Ibu jariku mulai membelai belai kepala dan pipinya, bibir dan hidungnya pun ku sentuh pelan. Ku ajak dia berbicara, tetapi dia hanya membalas tatapan seperti tadi.
Mana mungkin bayi ini bisa membalas pertanyaanku dan bicara?!, pikirku bodoh, ucapku dalam hati. Tapi kemudian dia kembali menangis. Apa yang harus ku lakukan? Aku bingung.
Ku sebut lagi namanya dengan lembut, "ai mau apa? ai mau apa?". Walau aku tau dia tidak akan bisa menjawab ataupun mengerti ucapanku tapi entah kenapa aku masih melakukan hal itu.
Lagi lagi bayi ini berhenti menangis, menatapku lagi sambil mengoceh hal hal yang tidak ku mengerti. Mimiknya seolah mengajakku berbincang, lalu tangan kecilnya kini mulai menyentuh nyentuh wajahku.
Aku yang gemas mulai menciumi pipinya. Perasaan seolah olah menjadi ayah yang masih merasuki tubuhku mengikatku lebih kencang seperti akar tunggal yang kian menancap dalam, yang semakin dalam, semakin sulit untuk dicabut. Kini rasanya bukan lagi seperti, tapi perasaanku menguatkan tubuhku bahwa aku betul betul ayah dari bayi ini, aku mulai sayang padanya.
Bersama dia dalam dekapanku, aku bersandar pada batang pohon yang besar. Kami mulai berusaha saling mengenal, sesekali dasi yang ku pakai ini ku jadikan mainan untuk menghiburnya. Hingga akhirnya aku ceritakan sebuah kisah kepadanya.
Dahulu kala, ada dua ekor semut yang terdampar dan terpisah dari rombongannya. Mereka bersama sama berjalan di dalam sebuah benda yang mereka tidak tau namanya apa.
Semakin mereka melangkahkan kaki, semakin mereka tau bahwa mereka tidak kemana mana.
Salah seorang semut itu berhenti berjalan dan mulai mengeluh. "aku haus, dan sepertinya kita hanya berputar putar saja di tempat ini!". Semut yang lainnya pun ikut berhenti dan mengiyakan ucapan kawannya. "iya, aku rasa begitu, tapi kita harus tetap berjalan agar bisa pulang, bersabarlah.. Sebentar lagi pasti sampai".
"Tapi aku benar benar lelah, aku ingin minum!", jawab seekor semut lainnya.
Mereka berdebat panjang dan kian kebingungan. Lalu dalam kebingungan itu goncangan mulai terasa dari kaki hingga tubuh mereka. Tempat mereka berdiri kini bergoyang kesana kemari.
Kedua semut itu saling mendekap satu sama lain. "ada apa ini? Aku takut!", ucap seekor semut. "mmm mmanusia itu mengangkat tempat ini!, ayo dekap aku lebih erat!".
Kemudian tempat itu dibanjiri air yang keluar menyerupai hujan deras. Kedua semut itu pun tersapu olehnya, terombang ambing ke kanan dan ke kiri hingga akhirnya mereka jatuh ke tempat lain yang lebih kering.
Salah seekor semut tadi lemas dan hampir pingsan, tetapi yang satunya lagi masih mendekap kawannya dengan segala tenaga yang tersisa.
"hey!, lihatlah, kita keluar dari tempat itu.. Bangun!, kita harus pulang!".
Semut yang hampir pingsan ini pun berupaya tetap terjaga agar bisa terus berjalan.
Mereka berdua saling merangkul. Berjalan bersama walau tertatih tatih. Hingga akhirnya sampai ke rumah tempat kawanan lain hidup di sana.
Dan mereka bersama, membesarkan anak anak, dan bahagia selamanya.
Selesai.
Mata bayi ini separuh memandang seperti bulan sabit yang bersinar. Rupanya dia menikmati ceritaku dan mungkin merasa nyaman dengan suaraku yang dia tidak pahami.
Tidak lama setelahnya, dia tertidur dalam dekapanku lagi.
Sedangkan aku masih bertanya tanya, di manakah kamu berada?, karena aku yakin sangat tidak mungkin kamu meninggalkan bayi ini sendirian.
Mungkin karena sepoi angin membelaiku, atau ruang hening yang mengurung kami, mataku ikut terpejam dalam situasi seperti ini.
Untuk beberapa saat aku tidak tau lagi apa yang terjadi.
Tapi tak lama kemudian tubuhku kaget dan mata seketika terbuka. Ku temui diriku tengah berdiri di depan rumahmu, aku mengenali itu dari pohon beringin besar di sebelah utara pagar.
Selagi mataku kesana kemari memastikan keadaan, kau keluar dari pintu rumah dan memanggilku dengan panggilan yang paling ku rindukan.
"sayang.. Sini, aku buatkan susu hangat untukmu".
Aku kian terkejut melihatmu. Melihatmu yang telah lama tidak ku lihat dengan mata dan perasaanku.
Badanku bergerak memasuki pelataran rumah dan duduk di kursi depan, sedangkan kau, setelah meletakkan segelas susu hangat di meja, meminta izin untuk masuk lagi ke dalam.
"diminum dulu.. Bentar ya yang". Ucapmu sambil beranjak pergi.
"iya", jawabku mengangguk, tapi secepat kilat silau datang dan pergi membawaku kembali ke tangisan bayi ini.
Dalam bola mataku hanya ada hamparan rumput dan sebuah rumah berwarna putih tadi.
Ku lihat wajah bayi ini. Ku tepuk tepuk pelan pahanya untuk menenangkan tangisannya yang kian kencang.
Tadi, aku bertemu ibu.., ucapku padanya.
Di bawah pohon rindang dalam hamparan rumput yang luas ini, kami saling meneteskan air mata.
Bersambung
No comments:
Post a Comment
welcome kids