Kau menabur bunga ku siramkan hal lebih padamu
Tapi pada takaranku yang biasa
Seorang bijak pernah berucap jangan ambil keputusan ketika bahagia dan marah
Mungkin kita terjerumus ke dalam sana
Kau tumbuhkan ikrar yang terngiang dan ku pegang
Walau seiring waktu membaur waktu yang terbuang
Seiring rupa burukku tertelusuri kian busuk
Tak demikian aku, sayangnya
Segala hal buruk walau nyatanya amat kecil dirimu sempurna dan membahagiakanku
Tak pernah ku anggap, tak ku jadikan penghalangku
Sebegitu mudahkah ku menerima
Sebegitu mudahkah aku percaya
Walau berulang kali didustai semua yang lalu
Aku benar benar tidak mengerti
Dicari alasan agar ku menyerah
Apakah aku dilampiaskan amarah masa lalumu
Hal sakral yang ku impikan ku beri begitu saja
Pada siapakah aku bicara?
Padamu yang satu atau yang satunya lagi?
Apakah sia sia aku berjuang pada yang tak pernah cukup aku baginya
Haruskah ku lupakan semua manis puji dan rencana besar yang terlanjur ku jadikan alasan mengubah haluan?
Bila memang kelam itu datang, aku kembali mundur mengulang pekerjaan yang kutiti pelan pelan
Sangat sedih karena bukan hanya nasib dan perasaanku tapi semua isi keluarga yang terlanjur bahagia
Di kala usia sangat ku sebut bilangannya
Saat harusnya beban ini aku rasakan berulang ulang
Berjuang tinggal berlari tapi tak bersambut yang lahirkan ragu
Aku tau walau tak kau sebut
Merasa ditinggal dengan sensasi yang baru
Sudah sejauh ini, jalan kita terakselerasi
Percepatan tak selalu layak disangka bagus
Apapun tak bisa dipaksa, soal rasa biar jujur pada semesta
Tapi berjuang bisa namun tak sendiri
Merasa bodoh sudah pasti
Memboyong langit pun tak akan pernah ada arti
No comments:
Post a Comment
welcome kids