Seorang anak dan pohon cemara
Angin berhembus kencang menabrak tubuh
lemah seorang manusia yang lupa, saat darah mengucur lembut lewat hidung dan
telinga. Suara bom menggema terdengar berisik dalam telinga yang terluka. Tubuh
penuh debu dengan pakaian yang lusuh, rambut setengah ikal tak beraturan
menyatu satu dengan yang lain di atas kepalanya, merintih kesakitan. Lihat
sekitarnya hanya kayu, batu, dan pepohonan rimbun menambah luka batinnya yang
tersiksa setelah tiga hari berlari dari kejaran maut yang menganga mulutnya.
Langkah selangkah dua langkah tertatih lagi lanjutkan visi dalam retinanya yang
berkaca-kaca, betapa malang dalam hati berkata namun apa mau dikata mati pun
tak kunjung tiba, mungkin itu arti hidup masih bersisa untuk diselami lagi
sisanya.
Ketika malam tiba, duduk saja bersender
pohon cemara bersama bayangan hitam tepat itu dirinya, berceritalah dia
bibirnya bergerak lambat juga lama. Tiada kawan tiada sahabat sebangsa dari
manusia yang bisa berbagi keluh kesah arogansinya terhadap bangsa, iya, iya,
dan iya, ulangan kata itu terucap kontinyu bersama harap bias tertidur pulas di
bawah sana. Entah sudah jam berapa, bersenderpun dengan harap dan cemas di
dada. Perut pun kosong namun masih terihat besar dibanding pergelangan tangan kering
dan betis keras kurang berisi, menyedihkan bila dibayangkan. Dia menangis, air
mata lancang terjatuh dari pegangannya di kelopak mata, alasan tanpa alasan
masih juga tak kantuk tak ingin terlelap membayangkan beberapa tahun lalu masih
tertawa mesra dengan seorang bangsawan wanita, cantik rupa dan tingkah lakunya,
seperti udara yang terhela, dan mata berkedip yang tak lupa, dia nikmati tiap
kehadirannya, selalu menjadi pendengar yang setia untuk tiap keluh kesahnya,
dia sudah mati. Serdadu penuh bara di dalam mata menangkap dengan paksa
memisahkan manusia yang bercinta mesra, tak bias berbuat apa apa lengannya
dihujani timah panas, masih terasa hingga sekarang rasanya bagaimana, dia tak
bias apa apa dia mati, dia mati, berharap lupa dan berprasangka yang tak
diinginkan, rasa dalam dadanya masih terlalu luas untuk dibabat serdadu biadab
penuh peluh dan ambisi tak berhati manusia, mereka babi mereka iblis jahanam,
serayanya hingga menangis.
Malam itu tiada lagi alasan untuk tetap terjaga dan
melanjutkan ambisi, semua terasa sudah selesai untuk semua keindahan di dalam
diri. Manusia yang bersender itu pun terlelap tak terasa lelah jiwa dan raganya
membawa mimpi menjemputnya paksa, dedaunan gugur selimuti tubuhnya, langit
merintih tangis sendu keluar ratapi kisahnya tadi.
Bangun!!!! Bangun!!!!! Hai pemalas!
Bangunnn!!! , tubuh meronta tersentak degub jantung berderu cepat, matanya
terbuka mulut menganga dirapatkan otaknya, dia menangis lagi memukul tanah
memukul batu memukul pohon di belakangnya. Tuhan aku tak kuat!! aku tak kuat!!,
semuanya lenyap!, semuanya hilang!, namun aku kau utuhkan, terselamatkan yang
harusnya terbunuh, aku tak kuat! Ucap mulut bengis sang lelaki. Tangannya
menambah luka, kejadian dulu tak pernah terlupa. Berdirilah dia tertatih menahan
luka langkahkan telapaknya lagi mencari ujung cahaya. Tangannya meraih dahan
demi dahan, sisi lain diri manjanya keluar menjadi liar tak seperti sebelumnya.
Masih saja dalam otak dan telinganya terbayang halus lembut orchestra megah
saat berdansa dengan yang dicinta, seakan semuanya berjalan indah, pikirnya
lupa, yang terlihat hanya dingin dan lembutnya embun embut pagi, tubuhnya
terstimulus, bagian tak terlupa dari bayangnya dengan seorang wanita, rambutnya
hitam legam bergelombang, memakai gaun pesta dan dia memegang erat telapak
tangannya, memeluknya berputar diantara pesta, di matanya terpancar rasa cinta,
manusia yang saling mencinta dengan tangis dari mata yang bahagia, dia sudah
tak tahan ingin meronta berharap kembali dalam perasaan yang menderanya
sekarang. Dia muntah, darah keluar dari gusi, tangan kakinya mati rasa,
lelahnya bercerita cerita lalu yang sudah mati. Hentikan ini!! Matikan ini!!
Biarlah aku melihat dia bahagia ke eropa bersama lelaki lain lanjutkan hidup
indahnya!! Tahan aku serdadu jahanam!! Babi keparat!!, dia memukul sebisanya,
jatuhkan luka mengambil sebilah kayu lalu menghunuskan ke udara sekitarnya
sembari dia teriak. Ranjau meledak, empat meter di depannya seekor kijang
menginjak benda keji, alat perang itu menghempaskan tubuh manusia itu ke udara
dan menghantam batu. Dia tergeletak bercucuran darah dari kepala dan daging
kijang yang malang, tak terasa apa apa lagi, tak bisa berucap lagi, tak bisa
bergerak lagi, mungkin tulang remuk patah lembut tak sepatah hatinya. Mukanya
terbaring di tanah ucapkan salam teruntuk sang wanita, harapkan bila ini sudah
selesai bisa bertemu lagi walau terakhir kali, dengan senyum dia melawan langit
berucap dalam hati, aku sudah lengkap, aku sudah siap menjemputnya lagi ke
pesta, akan aku pakai baju mahalku pemberian belanda, ku naikkan dia ke kereta
dan aku payungi dia saat berjalan hingga tiada panasnya mentari mampu menembus
kulitnya, dia terlelap.
Masih terbaring, mata melihat seorang berjalan, dia
wanita, cantik rupa dan tingkah lakunya, rambutnya hitam legam dan
bergelombang, seketika tubuh lemahnya mampu berdiri meraih telapak tangan
wanita itu lagi, dan menari bersama dikelilingi pohon cemara setia yang temani
saat terluka, aku tak kuat, aku bahagia, bibirnya tersenyum. Ledakan lagi,
tubuh sang manusia terhembas hebat entah jatuh dimana, tak bersisa. Dia lupa,
sedang menari bahagia tak hiraukan tubuhnya lagi, pergi ke pesta lagi bersama
wanitanya, cintanya, dalam surga.
No comments:
Post a Comment
welcome kids