Friday, August 2, 2013

SELAMAT PAGI, MALAM (1)

Sebuah suasana yang asri penuh dengan pohon pohon cemara, aku berjalan melewati keduanya. Sebuah sisi yang belum aku ungkap karena waktu yang memudar seiring perjalanan. Di sebuah pondok aku berhenti sejenang mengambil kertas menulis sajak karena teringat tentang kamu. sudah hampir tiga puluh hari yang dikalikan delapan aku menanti pagi dikala malam, menanti senja datang saat siang nampak begitu menyilaukan. Aku tertawa terbahak bahak, sungguh, aku tidak berdusta, satu satunya yang aku dustai adalah hatiku. Dalam kertas yang penuh dengan sajak tadi aku terhenti untuk menulis, bersandar di tembok kayu lalu melihat ke arah wanita yang memikul karung di seberang sana. Sorot mataku terhenti mencari lalu aku temui dia wanita yang memikul beban itu. Dia masih muda , segar, dan ceria, namun saat aku tanya tentang hati yang terdalam dia hanya menjawab sendu lalu meninggalkan hela hela nafas yang terengah engah karena gurauan selalu menghampiri bibir manisnya itu. Aku mencoba mengerti, mengerti lebih jauh, lalu jauh pergi. Aku melanjutkan perjalanan setelah cukup mengisi tenaga yang terkuras. Setapak demi setapak, senyum senyum palsu bagi orang desa, dan ramahnya perlakuan yang ditinggalkan, dalam terik aku terus berjalan hingga apa yang aku cari aku temukan. Bukan uang, emas, atau istana yang aku cari, sungguh jangan kau tanyakan itu pada diriku karena aku pun tak tahu jawabannya. Mungkin, aku mencari Tuhanku, sempat aku berpikir seperti itu aku ingin mempertanyakan beberapa hal tentang perjalananku tadi, hal hal yang selalu aku pertanyakan dan tidak ada satu pun orang yang mampu menjawabnya, kalaupun ada aku tidak puas dengan jawaban seperti itu. Tidak terasa sudah tiga kilo meter aku berjalan melewati sawah sawah dan beberapa orang desa yang tua renta, aku berhenti lagi untuk meminum sedikit air dari dalam ranselku, oh tapi aku terkaget ketika melihat note ku basah karena air minum itu, apa yang aku ulis menjadi pudar dengan air, dan beberapa lembar kertas tadi ada yang sobek, beberapa kata hilang hingga kalimat tadi tak bermakna, "oh sudahlah" bicara ku dalam hati, dengan menggenggam kertas yang basah tadi aku bersumpah mengingatnya dalam hati, dan dalam otak yang murah ini. Aku masih terduduk sambil meminum beberapa teguk air, tak sengaja aku coba melihat isi dompetku, ternyata kau terselip disitu diantara beberapa rupiah yang tak seberapa, kau memang ayu, dan menyegarkan aku dikala panas ini....................( I )

No comments:

Post a Comment

welcome kids