Monday, September 15, 2014

Ayah

Ketika aku kecil sering kali aku bersedih karena ayah
Aku pernah mencuri uangnya karena dia berbohong akan memberiku upah mencabut ubannya
Aku curi uangnya untuk membeli dua buah semangka kuning dan beberapa jajanan di pasar
Aku yang tak mengerti
Aku selalu dijaganya dengan hati hati hingga tak jarang ayah memarahiku dengan keras
Aku dikurung di sangkar emas
Aku tak bisa mengeksplor jiwa kekanakanku, aku hanya bisa menulis.
Kala teman temanku memiliki mainan baru aku merengek, ayah selalu membelikan
Pernah karena membeli mobil remote control ayah bolak balik ke swalayan meminjam motor tetangga
Dan aku masih tak puas
Aku yang tak mengerti
Dan waktu televisi di rumah rusak aku tak bisa menonton acara kesukaanku
Aku memanjat pohon dan terdiam
Tiba tiba ayah diantarkan televisi baru oleh seorang kurir, ayah yang membelinya, entah uang dari mana karena yang ku tahu ekonomi kami sedang payah
Aku yang tak pernah mengerti
Ketika aku beranjak dewasa
Ayah meminta untuk ditemani diajak berdiskusi, berbagi isi kepala dan rasa
Aku tak bisa selalu ada aku di luar kota
Saat aku tampil di televisi dengan band dan rekaman
Ayah membanggakanku di depan temannya, selalu ayah sebut namaku dan menutupi cacatku
Ayah membanggakan aku dan selalu menyimpan lagu baruku di ponselnya
Seperti apa perasaannya aku tak pernah mengerti
Ayah tak pernah menangis
Walau di saat nenek pergi tinggalkan kami, tak setetes pun ku lihat air mata jatuh dari matanya
Saat ibu masuk rumah sakit pun walau raut wajahnya menunjukan kecemasan dan khawatir selalu ayah eluhkan saat bersamaku tak setetes pun air mata keluar, berbeda denganku yang cengeng.
Aku yang belum bekerja selalu disokong ayah dalam finansial
Ayah seorang manager yang handal
Dalam keterbatasan kami, ayah anggarkan sejumlah uang untuk ku wujudkan mimpi
Tapi entah kenapa, aku tak selalu bisa terbuka dan menunjukan sayangku ke ayah
Ingin rasanya mengucapkan, memeluk dan memijiti bahunya setiap hari tapi entah kenapa seperti ada dinding batu yang membatasi kami
Atau mungkin aku trauma pada sikap keras ayah?
Atau aku yang tak tahu diri untuk membalas sedikit kasih sayangnya?
Kadang aku marah pada ayah karena terlalu keras dan kolot dalam berpikir, tapi aku tak bisa berjalan stabil bila tanpa ayah, aku bukan apa apa tanpa kasih sayang ayah
Aku selalu ingin menangis di pelukan ayah dan berharap kami bisa bersahabat kembali seperti waktu kecil.
Ayah pernah berucap bahwa Ia tidak ingin aku merasakan sakit dan kerasnya hidup seperti apa yang Ia rasakan waktu kecil
Sedikit lebih aku tahu latar belakang kehidupan ayah dari ceritanya dan cerita ibu.
Saat aku berbohong pada ayah, mulai detik itu aku selalu tak tenang, ayah paling tak suka dibohongi
Aku takut
Aku menggigil kedinginan
Dan harus selesaikan masalah tapi aku tak mampu
Aku malu pada ayah karena tak sehebat dan sekuat dirinya
Di umurku yang segini aku tak bisa berbuat apa apa yang membuat ayah tersenyum.
Ayah, lelaki terhebat yang berjuang untuk hidup keluarganya
Ayah, suami paling romantis yang menunjukan cinta dengan sikapnya disaat genting
Ayah, seorang yang berhasil mengubah kesulitan menjadi masa depan yang lebih baik
Ayah, ayah yang keras terkesan cuek namun memiliki perhatian yang besar
Ayah, imam keluarga yang aku rindukan menjadi makmum dalam sholat lima waktunya.
Ayah, aku menyayangimu namun sulit untuk aku visualkan, tapi dalam hatiku selalu ada ayah disini.
Maafkan semua kesalahanku, sungguh maafkan aku ayah
Terima kasih atas doa doamu, puasamu,dan usaha usahamu untuk menghidupiku.
Ayah, maafkan aku yang selalu diam dan tidak terbuka, aku hanya tidak ingin merepotkan ayah, membuat khawatir ayah, dan aku tidak ingin melihat ayah sakit
Ayah, sahabat terbaikku yang sempat aku lupakan.

Ayah, aku juga menyayangimu.

No comments:

Post a Comment

welcome kids