Thursday, January 10, 2019

KAMKA DALAM LAMINA

Pagi 24 juli
Semestinya gelisah ini tak perlu mampir

Karena tempat ini cukup sesak untuk kita berdua
Tapi ia menjejali kita
Membuang semua benda benda
Biar jadi cukup tuk dia berdiri di sana

Sisa semalam yang berantakan
Sisa pesta pora
Yang mana aku turut bahagia walau hanya hadir di pesan suara

24 juli, pagi pukul 7
Yang mampir membangunkanmu ialah aku
Membawakanmu roti dan susu
Seperti yang kau beri padaku saat pertama kali aku menemuimu

Bagaimana semalam? Tanyaku
Baik, mereka semua baik padaku, jawabmu

Aku iri, tak pernah aku diperlakukan sepertimu, ucapku
Jangan iri, suatu saat nanti kau pasti merasakannya, jawabmu

Tak mungkin, tapi kalau kamu yang memberikan itu aku sangat bersedia, aku menggoda

Mungkin, kau orang baik, kawan kawanmu pasti tau, kalau soal aku, kau tak usah bertanya, jawabmu sambil memegang tanganku yang mengepal.

Kami saling melempar senyum
Beberapa sampai jatuh berdebum di lantai rumah
Beberapa lagi sampai, mengendap hingga ke urat.

Kalau aku orang baik mana mungkin kita bertemu, aku melanjutkan.
Jangan mulai lagi, jangan buat aku sedih, kau memelas.

Yang paling sulit bukanlah berhasil duduk di atas pelana
Melainkan memegang kendali di atas mau

Sering kali batas batas bias tenggelam euforia
Sering kali lupa bahwa hidup bukan cuma soal berdua

Aku anggap waktu itu ajal hampir tiba
Kau dan aku terlena tanpa tahu kuda ini  tengah sekarat menopang kita

Pagi, siang, sore, malam
Aku selalu di sebelahmu
Berbuat apapun, membicarakan apa saja
Seolah tak ingin lepas
Walau sesekali kuda ini menahan napas
Meluangkan waktumu
Menemui yang selain aku

Kau mengerti aku cemburu
Aku mengerti kau hanya mencoba adil

Kau bersandar di tubuhku
Memeluk lamina yang terpasang
Sembari kau berkelana aku tak pernah palingkan mata
Wajahmu ku pasang di dalamnya

Detik berlari, lambat terasa
Kita bercinta dengan mesra
Dikepung dentuman yang bernyanyi, kita menari, berputar, di atas pelana ini.

Keesokan pagi engkau bisu
Engkau tuli
Engkau lumpuh
Kuda yang berlari telah berhenti
Menghempaskan kita, jatuh melintang ke dua sisi
Sedangkan ia mati dengan mulut berbui

Pandanganku berbayang
Aku merangkak
Memungut kamka yang terlepas dan memakaikannya lagi ke tubuhmu
Aku tak ingin kau telanjang

Kau meraihku
Membantuku berdiri dengan kaki separuh pincang

Kau menopangku
Menuntunku berteduh

Kita ketahuan, ucapmu
Bagaimana bisa? Tanyaku

Aku khilaf, aku lupa, aku terlalu bahagia, katamu lagi

Katamu, sambil menunjukkan layar teleponmu yang berisi foto itu

Apa katanya? Aku bertanya
Dia marah, dia ingin melepasku, jawabmu

Lalu?

Aku tak mau, 

Ucapanmu merobek laminaku
Tak sampai berkeledar sejatinya aku tlah pudar

Kita saling diam
Memunguti batu batu yang terlihat
Mengeruk tanah tandus dengan kuku
Sebelum terbenam kita harus mengubur kuda itu

Di langit jauh sesuatu mulai datang
Dan aku tahu perpisahan itu kini menjelang

Kita menyublim di segenap redup oranye dan kumandang adzan
Mendekatkan diri satu sama lain
Melemaskan sendi sendi
Dan mengamplas gerak gerik ini

Dari atas
Tak ada bukit
Tak ada hidup
Hanya kita yang mulai redup

Menciumimu untuk terakhir kali
Merekam garis garis matamu di resolusi tertinggi
Untuk ku simpan
Karena setelah ini tak ada lagi aku
Tak ada lagi kita

Dua menit berlalu
Aku mulai hilang daya
Yang berdarah mulai musnah
Aku melebur
Bercampur udara yang kau hela

Sedangkan dia datang
Mengambilmu dan memberi maaf
Kau tak berucap tapi sembari memeluk dia
Menangisi hari ini sejadinya
Aku dan dia sama sama tidak tahu
Sebenarnya apa yang menjadi penyulut tangis itu

24 juli
Menjadi awal yang berbahagia
Menutup satu pintu dosa, dusta

Keesokan hari aku terbangun
Aku bermimpi menciumi seorang kekasih
Menghidupinya, memberi serat dalam tinta yang ia usap
Dan pagi itu sungguh aku sangat ingin bercerita
Tapi dengan siapa?
Aku lupa

11:30, adi sucipto di tengah semua orang
Wanita itu membangunkanku
Menepuk nepuk pipi
Memanggil manggil nama
Memeras meras jari
Berujar jangan nakal
Berpesan untuk sabar

Aku ingat mata itu
Itu kamu.

No comments:

Post a Comment

welcome kids