Pagi 24 juli
Semestinya gelisah ini tak perlu mampir
Karena tempat ini cukup sesak untuk kita berdua
Tapi ia menjejali kita
Membuang semua benda benda
Biar jadi cukup tuk dia berdiri di sana
Sisa semalam yang berantakan
Sisa pesta pora
Yang mana aku turut bahagia walau hanya hadir di pesan suara
24 juli, pagi pukul 7
Yang mampir membangunkanmu ialah aku
Membawakanmu roti dan susu
Seperti yang kau beri padaku saat pertama kali aku menemuimu
Bagaimana semalam? Tanyaku
Baik, mereka semua baik padaku, jawabmu
Aku iri, tak pernah aku diperlakukan sepertimu, ucapku
Jangan iri, suatu saat nanti kau pasti merasakannya, jawabmu
Tak mungkin, tapi kalau kamu yang memberikan itu aku sangat bersedia, aku menggoda
Mungkin, kau orang baik, kawan kawanmu pasti tau, kalau soal aku, kau tak usah bertanya, jawabmu sambil memegang tanganku yang mengepal.
Kami saling melempar senyum
Beberapa sampai jatuh berdebum di lantai rumah
Beberapa lagi sampai, mengendap hingga ke urat.
Kalau aku orang baik mana mungkin kita bertemu, aku melanjutkan.
Jangan mulai lagi, jangan buat aku sedih, kau memelas.
Yang paling sulit bukanlah berhasil duduk di atas pelana
Melainkan memegang kendali di atas mau
Sering kali batas batas bias tenggelam euforia
Sering kali lupa bahwa hidup bukan cuma soal berdua
Aku anggap waktu itu ajal hampir tiba
Kau dan aku terlena tanpa tahu kuda ini tengah sekarat menopang kita
Pagi, siang, sore, malam
Aku selalu di sebelahmu
Berbuat apapun, membicarakan apa saja
Seolah tak ingin lepas
Walau sesekali kuda ini menahan napas
Meluangkan waktumu
Menemui yang selain aku
Kau mengerti aku cemburu
Aku mengerti kau hanya mencoba adil
Kau bersandar di tubuhku
Memeluk lamina yang terpasang
Sembari kau berkelana aku tak pernah palingkan mata
Wajahmu ku pasang di dalamnya
Detik berlari, lambat terasa
Kita bercinta dengan mesra
Dikepung dentuman yang bernyanyi, kita menari, berputar, di atas pelana ini.
Keesokan pagi engkau bisu
Engkau tuli
Engkau lumpuh
Kuda yang berlari telah berhenti
Menghempaskan kita, jatuh melintang ke dua sisi
Sedangkan ia mati dengan mulut berbui
Pandanganku berbayang
Aku merangkak
Memungut kamka yang terlepas dan memakaikannya lagi ke tubuhmu
Aku tak ingin kau telanjang
Kau meraihku
Membantuku berdiri dengan kaki separuh pincang
Kau menopangku
Menuntunku berteduh
Kita ketahuan, ucapmu
Bagaimana bisa? Tanyaku
Aku khilaf, aku lupa, aku terlalu bahagia, katamu lagi
Katamu, sambil menunjukkan layar teleponmu yang berisi foto itu
Apa katanya? Aku bertanya
Dia marah, dia ingin melepasku, jawabmu
Lalu?
Aku tak mau,
Ucapanmu merobek laminaku
Tak sampai berkeledar sejatinya aku tlah pudar
Kita saling diam
Memunguti batu batu yang terlihat
Mengeruk tanah tandus dengan kuku
Sebelum terbenam kita harus mengubur kuda itu
Di langit jauh sesuatu mulai datang
Dan aku tahu perpisahan itu kini menjelang
Kita menyublim di segenap redup oranye dan kumandang adzan
Mendekatkan diri satu sama lain
Melemaskan sendi sendi
Dan mengamplas gerak gerik ini
Dari atas
Tak ada bukit
Tak ada hidup
Hanya kita yang mulai redup
Menciumimu untuk terakhir kali
Merekam garis garis matamu di resolusi tertinggi
Untuk ku simpan
Karena setelah ini tak ada lagi aku
Tak ada lagi kita
Dua menit berlalu
Aku mulai hilang daya
Yang berdarah mulai musnah
Aku melebur
Bercampur udara yang kau hela
Sedangkan dia datang
Mengambilmu dan memberi maaf
Kau tak berucap tapi sembari memeluk dia
Menangisi hari ini sejadinya
Aku dan dia sama sama tidak tahu
Sebenarnya apa yang menjadi penyulut tangis itu
24 juli
Menjadi awal yang berbahagia
Menutup satu pintu dosa, dusta
Keesokan hari aku terbangun
Aku bermimpi menciumi seorang kekasih
Menghidupinya, memberi serat dalam tinta yang ia usap
Dan pagi itu sungguh aku sangat ingin bercerita
Tapi dengan siapa?
Aku lupa
11:30, adi sucipto di tengah semua orang
Wanita itu membangunkanku
Menepuk nepuk pipi
Memanggil manggil nama
Memeras meras jari
Berujar jangan nakal
Berpesan untuk sabar
Aku ingat mata itu
Itu kamu.
No comments:
Post a Comment
welcome kids