Beberapa hari yang lalu saya membaca sebuah artikel online yang menuliskan masih seputaran film joker yang kemaren sempat menghebohkan netizen dunia dan juga termasuk indonesia.
Artikel itu menuliskan adanya tren anak muda yang mengalami atau sok sok mengalami gejala mental illness setelah menonton film joker itu. Film joker memang bercerita tentang pengidap gangguan jiwa yang dialami oleh pemeran utama, yaitu artur flex.
Beberapa orang atau pihak yang memberikan ulasan pun menggarisbawahi tentang pengaruh buruk yang mungkin akan timbul setelah menonton film ini. Mulai dari gangguan kecemasan, keadaan emosional yang tidak stabil, bahkan amarah. Beberapa dari mereka juga memberikan kesan kepada audiens masing masing bahwa selepas menonton film itu mereka merasa lelah, pusing, cemas, sedih, bahkan kebingungan. Namun apakah wajar bila yang ditimbulkan dari film ini adalah rasa ikut mengidap kelainan mental juga?.
Bila melihat apakah film ini segitu gelap dan beratnya sehingga menimbulkan banyak menuai wanti wanti dari para pengulas, sebenarnya masih banyak film dengan genre yang mirip atau juga dengan pondasi cerita yang berbeda yang jauh lebih berat atau gelap. Cobalah lihat film film kelas festival yang mendapatkan nominasi oscar, atau juga film film Hollywood lain. Seperti memento, atau film garapan Spielberg dan juga Nolan bersaudara. Atau bila ingin menitik beratkan pada dampak negative yang dihasilkan, baru baru kemarin juga ada film tentang cerita hidup dari Freddie mercury yang diperankan rami malek yang mencoba mempresentasikan tentang kehidupan lgbt dan menampilkan adegan pasangan gay juga. Film itu juga tak kalah menuai pro kontra di masyarakat global, hal ini terkait dengan penerimaan orang orang terhadap vokalnya gerakan pro lgbt, yang mana komunitasnya makin menjamur di berbagai negara dan mulai menunjukan persatuannya, bahkan perusahaan, publik figure, termasuk para atlit olah raga beserta club olahraga yang menaunginya juga mempromosikan dukungannya lewat lambang atau simbol pelangi yang menjadi simbol pergerakan komunitas lgbtq di seluruh dunia.
Saya sendiri berusaha untuk tidak mendiskriditkan golongan yang pro dengan gerakan itu, walaupun saya tidak sepenuhnya sependapat dengan masifnya dukungan akan hal itu. Apalagi bila dibenturkan dengan kebebasan memilih jalan hidup dan hak asasi manusia, dan juga legalitas dalam aliran keagamaan, namun kegiatan mempersekusi mereka juga tidak dapat dibenarkan. Beberapa orang seperti saya mungkin tengah kebingungan dengan hal ini. Tapi itu bukan fokus pembahasan dalam artikel ini.
Mari kembali ke garis utama.
Saya menilai film joker ini mampu masuk ke kelas komersil dan juga kelas festival. Kelas komersil saya anggap dengan film film Hollywood pada umumnya, yang bertujuan menghibur dan tidak memiliki jalan cerita yang ringan hingga medium. Sedangkan film festival saya identikkan dengan film yang berat dan dengan jalan cerita, alur, plot yang lebih berani untuk bereksplorasi. Tidak semua film festival mampu menembus dan memuaskan penonton di kelas film komersil. Namun film joker ini mampu hampir memuaskan kedua golongan penikmat film ini. Di luar keberhasilan Todd Phillips dalam meramu karakter dan cerita joker dengan baik, karakter joker sendiri memang sudah sangat ikonik dan akrab dengan penikmat film film maupun komik superhero terutama buatan DC comics, berbagai versi pun sudah dilahirkan, apalagi keberhasilan heath ledger memerankan tokoh joker ini dalam film batman garapan Christopher nolan membuat pamor tokoh joker ini kian akrab, dan para penikmat pun merasa puas dan terwakili dengan kegilaan yang ditunjukkan, bukan kegilaan yang muncul tiba tiba, tapi karakter joker ini juga menjadi wakil dari orang orang yang merasa tidak diindahkan oleh kehidupan, orang orang yang merasa keadaan sosial politik di dunia nyata mampu diwakili oleh tokoh ini. Ini yang menyebabkan tokoh ini memberi kesan sangat dekat dan lekat dengan kenyataan.
Segmentasi penonton film ini pun perlu dijadikan pertimbangan, karena paling tidak penonton film ini berada di kisaran usia 17 hingga 40 tahun, dan mungkin didominasi dengan kelas usia 17 hingga 30an awal. Di usia tersebut penonton yang kebanyakan sedang mengalami perkembangan karakter dan proses penemuan jati diri dan arti hidup. Pada artikel yang saya temukan kemarin tertulis bahwa remaja ini menampilkan gejala seolah olah mengalami gangguan jiwa juga. Garis bawahi kata remaja. Remaja bisa dimasukan ke kelas usia antara 17 hingga 20an,dimana diusia tersebut orang orang yang tengah mencari jati diri seringkali memakai pola imitasi atau peniruan yang diarahkan kepada tokoh panutan atau apa saja yang mereka konsumsi. Terutama konsumsi audio visual yang meliputi buku bacaan, film dan video musik, dan juga musik itu sendiri. Di usia ini kita bisa mendapati remaja akan terkelompokan berdasarkan kesukaan mereka dalam hal hal tertentu. Kita bisa amati dengan cara berpakaian mereka, genre musik yang mereka gemari, ataupun buku yang menjadi acuan mereka dalam diskusi di ruang publik maupun lingkungan sekolah mereka.
Tingkat penasaran dan mudahnya mereka meniru yang dikonsumsi tanpa pikir panjang juga patut diberi perhatian. Mereka akan dengan mudah meniru sesuatu, dan mengagungkan satu tokoh yang mereka anggap mewakili karakter diri dan kehidupan mereka.
Mereka akan dengan bangga menunjukan atau memamerkan hasil buruan tokoh itu kepada komunitasnya, sebagai ekspresi rasa puas atas pendaman suara yang tokoh itu wakilkan.
Orang orang yang lebih dewasa setidaknya tidak langsung memberi label buruk pada mereka tanpa alasan yang kuat. Usia remaja memang momen krusial pembentukan karakter dan jalan hidup bagi mereka. Akan lebih baik bila memberikan tuntunan dengan perlahan dan tidak memberi kesan menggurui, berikan cara yang lebih bersahabat, dan hindari dengan kalimat kalimat perintah dan larangan, karena alih alih semakin dekat, mereka justru akan makin menjauh karena gap antara yang tua dengan yang muda makin jauh.
Atau saya memberikan dugaan lain, bagaimana bila film itu memang memberikan dampak negative pada kesehatan mental mereka, atau bagaimana jika film ini terasa begitu nyata bagj mereka yang merasa terwakili dengan ceritanya.
Terimakasih.
No comments:
Post a Comment
welcome kids