Thursday, October 10, 2019

Love Hate Relationship

Tipis Perbedaan Antara Benci dan Cinta
Well, it seems to be true. Profesor Semir Zeki dari University College London dalam penelitian yang dirilis jurnal PloS ONE 

menyatakan bahwa perasaan benci dan cinta direspon oleh jaringan syaraf yang sama di dalam otak.

Secara logika, kalau masih merasakan benci terhadap si dia, artinya Anda masih peduli padanya, dan rasa peduli juga masih bagian dari rasa cinta Anda padanya. Mungkin sulit bagi Anda untuk mengakuinya,

Belajar Kompromi
Seiring dengan pertengkaran demi pertengkaran yang muncul ke permukaan, Anda akan belajar berkompromi dan menemukan cara terbaik menyelesaikan masalah dengannya. Dan jangan kaget kalau Anda pun berubah menjadi orang yang lebih fleksibel dan pandai berkompromi dari waktu ke waktu.

Persamaan dan perbedaan

Dari hasil studi yang dipublikasikan dalam 3 makalah terpisah di Neuro Report pada 2000, Neuro Image pada 2004 dan PLOS ONE pada 2008, Zaki menunjukkan bahwa cinta dan benci punya persamaan dan perbedaan.

Cinta erotis mengaktifkan bagian sistem penghargaan di otak yang kaya akan penerima rangsang hormon oksitosin dan vasopresin. 

Pada saat yang sama, cinta erotis menonaktifkan bagian otak yang berkaitan dengan penilaian dan pembuatan alasan.

Sementara itu, benci mengaktifkan bagian yang kaya dengan penerima rangsang serotonin sehingga bisa memicu stres. 

Bila saat merasa benci bagian penilaian otak banyak dinonaktifkan, maka saat merasa benci hanya sebagian kecil saja bagian tersebut yang dinonaktifkan.

"Dalam cinta erotis, orang yang dicintai kurang kritis dan menilai. Saat benci, si pembenci mungkin ingin lebih menilai, memperhitungkan bahaya, luka, dan aksi pembalasan," kata Zaki dalam publikasinya di PLOS ONE.

Meski demikian, cinta dan benci diketahui mengaktifkan dua bagian otak yang sama, insula dan pitamen.

Inilah persamaan cinta dan benci.

Insula biasanya aktif saat ada stimulus yang menyusahkan atau memicu kegelisahan. Cinta dan benci, oleh insula, dianggap sebagai stimulus yang sama.

Sementara, pitamen berperan merancang tindakan agresif yang bisa muncul akibat cinta ataupun benci. Dalam konteks cinta, tindakan agresif bisa muncul ketika ada pesaing.

Persamaan tersebut menunjukkan bahwa cinta dan benci itu dekat. Manusia mudah berganti rasa dari benci menjadi cinta dan sebaliknya.

Kebencian terkait penurunan serotonin dan peningkatan kyuronic. Menurut Taruna, kebencian berlebihan bisa bersifat patologis.

"Dampak peningkatan serotonin dan kyuronic dalam jumlah besar adalah depresi, kecemasan, dan muncul pembelaan ego yang menyebabkan rasa kebencian semakin meningkat," jelas Taruna.

Kebencian memicu stres dan depresi sebab menurunkan level dopamin dan endorfin yang berefek melegakan dan membahagiakan.

Dalam bahasa Yunani, ada tiga kata yang digunakan untuk mengungkapkan cinta, yakni: eros, philia dan agape. Eros adalah cinta seksual, yang didasarkan pada nafsu/birahi. Di sini, orang lain tidak dipandang sebagai person/subyek melainkan hanya sebagai obyek. Penghargaan terhadap orang lain sebagai pribadi tidak ada. Satu-satunya yang ada ialah nafsu “ego”. 

Eros merupakan cinta yang terarah kepada orang lain tetapi ditujukan demi kepuasan pribadi orang yang mencintai. Dengan kata lain, cinta ini terarah kepada diri sendiri. Orang lain dilihat bukan karena pribadi melainkan didasarkan pada jenis kelamin semata.

Philia adalah cinta persahabatan. Di sini, cinta bersifat relasional. Orang lain telah dipandang sebagai pribadi yang mempunyai kekhasan/keunikan dan kualitas tersendiri: cantik, lembut, pengertian, dan seterusnya. Cinta philia tidak dibatasi oleh jenis kelamin tetapi terbuka kepada semua, baik pria maupun wanita.

Agape merupakan cinta yang tertinggi. Cinta ini tidak lagi tergantung pada bakat, kualitas-kualitas yang ada di dalam pribadi orang lain (cantik,lembut, ramah, pengertian, dsb); tidak memandang orang lain terbatas sebagai “pribadi yang lain” melainkan melihat orang lain sebagai bagian dari diri sendiri. Gabriel Marcel (seorang filsuf Perancis) membahasakannya dengan ungkapan: “Aku” dan “Engkau” menjadi “Kita”. Dalam konteks ini, “Aku” melihat diriku di dalam “dirimu” dan “Aku” menemukan “Engkau” di dalam “diriku”. Di sini, cinta agape merupakan cinta yang sanggup menderita dan berkorban (sebab “engkau” adalah bagian dari “aku” atau ”diriku” dan demikian juga sebaliknya). Ia keluar dari “ego” dan terarah serta terbuka kepada yang dicintai. Cinta agape melampaui jenis kelamin, cantik-jelek, kaya-miskin, pintar-bodoh; dan mengatasi segala tembok-tembok pemisah seperti perbedaan agama, suku, budaya, dsb.

Psikolog sekaligus Kepala Psikologi Riset dan Terapan Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha Bandung Efnie Indrianie mengatakan hal tersebut juga terkait dengan mekanisme pertahanan alami yang dimiliki manusia. Ketika merasa terancam, manusia secara tidak sadar akan mengeluarkan mekanisme pertahanannya.
Salah satu akibatnya adalah memutar sudut pandang 180 derajat sehingga menganggap hal-hal yang mengancam jiwanya, bisa dilalui dengan baik “Mekanisme ini adalah dasar-dasar perlindungan manusia secara alami yang menimbulkan reaksi berkebalikan.” 

Efnie mengatakan hubungan yang berlandaskan rasa benci tetapi menjadi cinta, nyata terjadi karena dipengaruhi oleh mekanisme proteksi diri tersebut. Dia mencontohkan hal itu terjadi dalam pernikahan, seperti pernikahan pada laki-laki atau perempuan yang dibenci, pernikahan karena keterpaksaan, atau pernikahan karena politik.
Namun, kasus yang lebih ekstrem adalah ketika mengetahui bahwa orang yang dibenci dan melakukan kekerasan justru dibela karena cinta. Oleh karena itu, saran Efnie, fungsi otak bisa dimaksimalkan untuk mengubah keadaan. 
Harus ada kesadaran dan keberanian melepas ikatan tersebut dari orang tersebut. Lalu, bagaimana bila belum lepas dari memori masa lalu dari hubungan  buruk tersebut? Pemetaan ulang memori bisa menjadi alternatif solusi.
“Memori memang tidak bisa hilang begitu saja, tetapi dengan terapi ini setidaknya membantu menemukan alternatif ‘susunan jalan yang lain’,” kata Efnie.

Salah satu contoh ekstrem tentang hubungan benci dan cenderung takut karena terancam jiwanya, tetapi mendadak berubah menjadi rasa sayang adalah kejadian di Stockholm,
Swedia pada 1973. 
Saat itu, terdapat kasus penyanderaan oleh perampok pada beberapa pegawai bank. Anehnya, setelah dibebaskan, para korban tidak menuntut perampok. Bahkan para sandera menyatakan polisilah yang menjadi ‘orang jahat’ pada kejadian itu. Hal ini kemudian disebut dengan Stockholm Syndrome.






No comments:

Post a Comment

welcome kids