Seperti terdampar dalam waktu yang berhenti
Merangkak dan mengambang mencari daratan
Persendian kaki dan tangan tak henti bergerak
Entah sampai titik apa
Sejenak, rasanya rindu merasakan damai
Suara bernapas yang dalam dan menentramkan
Seperti saat terbangun dan melihat hamparan daun hijau
Ingin menghentikan waktu, atau pergi diakhiri saja
Tubuh dalam kebimbangan
Lebih dari sepuluh ribu jam seperti mati
Tak bernyawa hanya tak membusuk walau baunya ada
Tergeletak tak berdaya melawan berkembangnya waktu dan pola pikir mereka
Masih berdiri, dalam waktu yang terhenti
Mengerti mengapa sebagian mati bahkan hidup tak sadarkan diri
Tekanan semakin liar dan keras
Sekeras kepala saat jiwa yang sulit untuk menerima
Rindu yang menggebu dan sebuah rasa yang tangan enggan menuliskan namanya menggerogoti sela sela paru paru kemudia menyebar ke kepala dan bagian lainnya
Bahkan dibunuh pun tak lagi melawan
Lemah
Sangat lemah
Diri masih rindu
Andaikan ada lorong waktu, mungkin hempaskan dalam kemarin dan lalu
Walau sejenak sakitnya berlipat tak apalah
Jangankan kepadamu, percaya pada diri sendiri pun sudah tak mau
Benar benar kehilangan dasar hidup seorang manusia
Napas sekadar napas
Tertawa sekadar canda
Kosong dalam sanubari
Hilang pula birahi
Entah sumpah serapah siapa yang didengarkanNya
Entah maaf yang mana yang tak kalian terima
Pikirku pendek
Pikirku pendek
Bila mampu diikhlaskan mungkin membahagiakan
Mati lebih mudah
Masih mengambang, dikau berbicara lantang
Masih mengambang, maka puaslah dikau.
Wednesday, December 9, 2015
Bercerita
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment
welcome kids