Wednesday, December 9, 2015

Biru abu abu

Sejuk merbabu waktu itu
Seulas benang tertinggal di lembar kulit
Kelopak mata beranak
Berbuah legam
Aroma ketenangan nan tak pula wangi
Rumah berjejer jauh hamparan permadani
Seperti tumpukan bantal kapas dihujam kemuning matahari
Wajahku ditamparnya berkali kali
Aku masih bernapas
Tergulung angin bebatuan bercampur tanah
Akhirnya ku lihat merah darah
Rindu datang lagi
Kali ini genggamannya kuat
Layaknya dikau memelukku erat
Menggigit bahu dan mencubit rusukku
Ku rindu penciptamu
Lemah tak bercahaya,  tanpa tenaga
Aku lelah, terbesit mungkin kali terakhir ku lihat senyummu
Tertidur, dan jingga hamparan langit menyambut mataku
Aku masih rindu
Maafkan aku
Harusnya kau turuti harap bunda
Ridhonya dari sang pencipta
Hanyalah buta jikau berdua bicara cinta
Waktu akan menghukum kita
Saat ini kau lah kedua
Aku ketakutan, dingin mencabik cabik daging dan ku tersiksa akan dahaga luar biasa
Maafkan aku
Kala ku ucap pergilah dariku itu bercanda
Kesalku lahir, cemburu, waktu membawa perhatianmu
Kau pun belum pamit pada bunda
Mungkin ia rindu canda dan marahmu
Mungkin ditampar nanti pipiku bila bertemu
Karena tak sepantasnya kita bersama di sini
Andai bisa terulang kan ku suruh kau kembali pulang
Dimana?
Kau dimana?
Perlukah ku membabu pada hidupmu?
Andai ada yang kedua, bangunkah kamu?
Biru merbabu pagi itu hangat lekat dalam nyanyian kita
Segampang itu kau lupa?
Bangunlah!! Tanganku sudah tak bergumam saat ku suarakan,  bangunlah!!
Sebentar lagi kereta datang membawa kita ke hadapan bunda,
Ku akan bersujud di telapaknya aku bersumpah
Tapi,
Jika boleh, ijinkan aku gantikan kamu
Kau tahu ku tak suka meradang lara
Tapi,
Saat rinduNya tlah turun tadi saat kemuning menyeka wajahku
Ku tahu kau tersenyum dalam jarak
Bernyanyilah seperti kita waktu dulu
Tidurlah, tidurlah
Bila mimpi menakutkan hampirimu,  bawa serta lah aku
Biar aku tak menahan rindu
Biar tak sakit mendengar namamu

No comments:

Post a Comment

welcome kids