Thursday, January 21, 2016

Jeruji dan jemari

Sambutan batu menghujam wajah
Berdarah,merah, menganga dan berlubang
Seketika mulut bersumpah serapah mengumpat serakah
Kidung kerinduan yang datangnya entah
Robek dan ku robek lagi kertas, satu persatu ku genggam gemas dan membuangnya ke dalam lubang yang bersemayam
Dahi masih memerah dan kerut bersarang di wajah makin menambah perih jiwa yang marah
Diri makin bersembunyi dalam ayat ayatnya
Tak sebegitu mengerti namun peduli
Ketamakan yang ku rajut sendiri
Menjadi pakaianku hingga kini
Menyebut nabi menyebut sabda, klise dimana ku kembali hanya sedang berduka
Di satu waktu ku menemukan waktu
Berwarna biru membias dalam lensa mataku
Cahayanya datang dalam gelap sehingga ku syahdu, meneteskan tetesan palsu tapi sungguh dalam di hatiku
Tiba tiba ku rindu sosoknya walau tak pernah bertemu
Tiba tiba merasa sedih dan remuk seperti aku kehilangan kekasihku
Tajam tajam kalimat tertutur dari bibirnya yang lembut begitu pula lisannya
Ku ingin mengadu dalam cinta, dalam kasih, dan dalam peluknya
Jikalau harus mati membawa namanya, ku dijanjikan surga, songongku bicara bukanlah surga yang ku inginkan tapi dalam dalam naungannya
Kekasih tuhan, semesta bersujud padanya
Kata ku terkunci, jemari terkurung dalam melodi, sayup sayup sambutan menyambut kehadirannya
Dahiku masih sakit, tak berani sesumbar ku menjadi lebih ajaib
Mengalirlah di atas meja
Nanti ku basuh dengan air mata
Aku sedang merasakan cinta

No comments:

Post a Comment

welcome kids