Dulu
Yang kini aku sadari telapak kaki sering berpijak di jalan salah
Penuh debu seakan di depan mata ada setumpuk batu yang menggunung dan tubuhku hitam legam seperti siraman tinta serta di selimuti sinar jingga seperti senja
Mata ini berat menahan kantuk dan tangis
Kala kau anggap ini hal biasa tanpa rasa apa apa dalam benak ini bertanya lirih pada telinga
Aku lelaki macam apa?
Rasa itu dari yang kuasa dititipkan dalam jiwa kita
Pertemuan dan perpisahan bukanlah kebetulan semata
Mungkin cara pesan datang dari yang kuasa
Walau hirup napasku antara ada dan tersiksa, aku yang hina ini selalu berdoa
Bila hanya dengan menahan rasa bisa aku bersihkan namamu
Dengan doa bisa sedikit bantu ringankan bebanmu
Ulat saja membungkus tubuhnya untuk bisa keluar menjadi kupu kupu
Aku ingin layak di mataMU dan kamu
Karena kadar rasa ini begitu membeban
Aku sang begundal tak mau melihatmu nakal
Seperti ucap terakhir sebelum ku kau tinggalkan "jangan nakal"
Dengan rasa ini ku ingin kau tetap suci dengan bisa menjaga diri, jangan ikuti mereka yang hanya pandai merawat diri tapi mengabaikan urusan hati membunuh nurani hingga tak berasa lagi.
Ku belum mampu menjadi contoh tapi ku inginkan kau menjaga mata bibir dan telingamu
Mungkin berat di usiamu
Tapi ini demi kau tak menjadi seperti aku.
Saat aku merindukanmu, sekelebat fantasi aromamu menyeruak membuat bibir ini menyeringai, namun sejenak
Aku panggil namamu
Lalu ku pejamkan mata bayangkan kau menyahut panggilanku seperti malam itu.
Friday, November 14, 2014
Jalanan lalu
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment
welcome kids